Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REPOSITIONING FARMERS AGRO-FOOD VALUE CHAIN: DESK RESEARCH FROM THREE DEVELOPMENT PROJECTS IN NTT PROVINCE Yunirwan Gah; Maria Harliyono
TRANSAKSI Vol 10 No 1 (2018): TRANSAKSI
Publisher : Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, FIABIKOM, Unika Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petani adalah kelompok yang paling rentan dalam rantai nilai pangan-pertanian meskipunmereka memiliki peran vital sebagai produsen. Kerentanan ini disebabkan oleh keterbatasanakses kepada informasi, pendidikan, pelatihan, akses terbatas terhadap bahan baku sebagaiinput dan daya tawar dalam rantai pasok. Lebih lanjut, para petani juga rentan terhadapberbagai tekanan mendadak (shock) yang disebabkan oleh perubahan iklim, perubahanmendadak di pasar, fluktuasi pasar, dan ketidakpastian pasar. Mayoritas petani hidup didaerah terpencil, yang menyebabkan ketergantungan mereka terhadap aktor pasar lainnyauntuk memasarkan produk mereka. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi para petani.Beberapa program yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi internasional telahmenggunakan rantai nilai (value chain) sebagai pendekatan programatik, dan alat untukmengidentifikasi area-area utama yang membutuhkan peningkatan dan yang lebih pentingmemberikan posisi yang lebih baik bagi petani dalam rantai pasok dengan cara meningkatkannilai tambah produk mereka, posisi tawar, pengorganisasian petani dalam kelompok sertadukungan lain yang memungkinkan petani berada pada posisi lebih kuat dan mendapatkanlebih banyak manfaat di pasar melalui jaringan yang lebih baik atau bekerja langsung denganpembeli atau perusahaan. Makalah ini fokus pada analisa pengalaman tiga interfensi rantainilai (value chain) yang dipilih di provinsi NTT di Indonesia dalam menjembatani petaniuntuk memiliki peranan yang baru, kapasitas yang lebih baik, dan menempatkan kembaliposisi petani dalam rantai nilai (value chain) pertanian-pangan dari kelompok yang palinglemah menjadi pemain yang lebih berkedudukan kuat dan berkelanjutan dalam rantai nilai(value chain). Kajian ini menggunakan kajian pustaka untuk menangkap pembelajaran awaldari tiga proyek pembangunan di provinsi NTT yang dimulai selama periode 2013-2016.Temuan menunjukkan bahwa intervensi terpadu berdasarkan analisa rantai nilai (value chain)yang komprehensif dapat berkontribusi dalam meningkatkan peran petani, tidak hanyasebagai produsen pertanian-pangan namun juga dalam melakukan perdagangan langsungdengan pembeli skala besar dan melewati kolektor atau perantara, memiliki kontrak pertanianbaru dengan perusahaan untuk bekerja di pertanian yang berbasis subsisten, danmereplikasikannya sehingga mereka memiliki posisi yang lebih baik dalam mata pencaharianatau komoditas lain yang dapat mereka hasilkan. Untuk melengkapi kajian pustaka inidibutuhkan penelitian lapangan lanjutan untuk melihat dampak nyata dari setiap proyek.
Social Media’s Impact on Sustainability Engagement: Brands, NGOs, and Influencers Harliyono, Maria; Priskila
Jogjakarta Communication Conference (JCC) Vol. 3 No. 1 (2025): The 6th Jogjakarta Communication Conference (JCC)
Publisher : Jogjakarta Communication Conference (JCC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  As social media becomes a dominant channel for advocacy and marketing, its role in promoting sustainability is increasingly vital. This study examines how brands, non-governmental organizations (NGOs), and influencers utilize social media platforms—Instagram, TikTok, and X (formerly Twitter)—to engage audiences in sustainability campaigns. By conducting a comparative content analysis of 30 accounts (10 per category), this research identifies key persuasive strategies, engagement levels, and audience sentiment toward sustainability messaging. Preliminary findings suggest that influencers generate higher engagement and trust among audiences, while NGOs are perceived as the most credible sources of sustainability advocacy. Brands, despite their extensive reach, often face skepticism due to concerns over greenwashing. Posts that incorporate emotional storytelling and direct calls to action tend to receive higher engagement compared to purely informational content. Additionally, visual content such as short-form videos on TikTok and Instagram Reels attracts significantly more audience interaction than text-based posts on X.By analyzing these dynamics, this study provides insights into the effectiveness of digital sustainability campaigns and offers recommendations for optimizing social media strategies to enhance public participation in sustainability efforts. The findings will support organizations, policymakers, and content creators in developing more impactful sustainability messaging in the digital era.  
Efektifitas Iklan YouTube: Korelasi antara Kredibilitas Tasya Farasya dengan Ulasan Produk Maybelline Putri, Triana; Rayhan, Muhammad; Marta, Rustono Farady; Ahmad, Rosmalia; Harliyono, Maria
Jurnal Ilmiah Multimedia dan Komunikasi JIMK Vol. 9 No. 1, June 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media "MMTC" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jimk.v9i1.307

Abstract

Influencers can strengthen the effectiveness of advertising by consumers when they are considered to have good credibility, so they buy the product. The aim of the research is to determine the relationship between Tasya Farasya's credibility and the effectiveness of Maybelline product reviews as marketing communication strategy.  Previous study of Credibility Theory by Hovland & Weiss found that audiences tend to give a higher level of approval when the source has a high reputation. There are two variables that will be measured, namely source credibility and review effectiveness. Source credibility is measured using the dimensions of attractiveness, trustworthiness, and expertise. Also, advertising effectiveness is measured using the dimensions of personal engagement and interactive engagement. The research used a survey-based explanatory quantitative approach by distributing questionnaires to 100 consumers of Maybelline products. The data obtained was processed using SPSS version 27 software, and analyzed by correlation. Research findings show that there is a significant and strong relationship between Tasya Farasya's credibility and the effectiveness of Maybelline product advertising. Therefore, it can be concluded that Tasya Farasya's credibility is able to strengthen the effectiveness of Maybelline product advertising.