Shohifah Annur
Universitas Serang Raya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN BIOGAS DARI SAMPAH UNTUK ENERGI LISTRIK DAN BAHAN BAKAR KOMPOR DI TPA CILOWONG, KOTA SERANG, BANTEN Shohifah Annur; Wyke Kusmasari; Retno Wulandari; Sumiati Sumiati
KUAT : Keuangan Umum dan Akuntansi Terapan Vol 2 No 1 (2020): Edisi Maret
Publisher : Polytechnic of State Finance STAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.606 KB) | DOI: 10.31092/kuat.v2i1.823

Abstract

 Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk membuat pembangkit listrik yang berasal dari sampah organik di TPA Cilowong, Kota Serang Banten. TPA Cilowong merupakan tempat pembuangan pusat sampah yang berasal dari seluruh daerah yang ada di wilayah Kota Serang Banten. Setiap harinya TPA ini menerima 5 truk sampah pasar yang dibuang pada landfill dan belum dimanfaatkan secara optimal.  Padahal sampah ini dapat diolah menjadi biogas untuk penerangan listrik TPA dan bahan bakar kompor di dapur umum TPA. Instalasi biogas dibuat dengan satu digester (penampung biogas) berbentuk bulat yang bisa menampung sampah sebesar 6 m3. Untuk pertama kali pemakaian, dibutuhkan starter kotoran sapi yang dicampur dengan sampah organik pasar sebagai starter dengan perbandingan sampah : kotoran sapi = 5: 1. Kegiatan ini bekerja sama dengan 30 orang mahasiswa KKM dan pengurus TPA Cilowong. Biogas dari sampah ini bisa digunakan untuk penerangan listrik di TPA dan sebagai sumber gas di dapur umum TPA.
EFFECT OF BEVERAGE CAN WASTE–KOH RATIO ON ALUM PRODUCTION AS A COAGULANT FOR WATER TREATMENT Nina Arlofa; Shohifah Annur; Angga Tri Prasetyo; Ali Hotman Dzulfathi; Achyar Abdullah
Analit : Analytical and Environmental Chemistry Vol. 10, No. 02 October (2025) Analit : Analytical and Environmental Chemistry
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/analit.v10i02.219

Abstract

  ABSTRAK  Proses daur ulang limbah dapat menghemat energi, mengurangi eksploitasi sumber daya alam, serta meningkatkan nilai ekonomis limbah, salah satunya limbah kaleng minuman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio optimum antara limbah kaleng minuman dan kalium hidroksida (KOH) dalam pembuatan tawas (aluminium sulfat) sebagai koagulan penjernih air. Metode yang digunakan terdiri dari lima tahap, yaitu preparasi, pelarutan, pengendapan alum, pencucian, dan pengeringan. Variabel rasio limbah kaleng terhadap larutan KOH 30% divariasikan sebesar 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Parameter yang dianalisis meliputi kadar aluminium dalam tawas, rendemen, dan efektivitas tawas dalam menurunkan kekeruhan air. Hasil menunjukkan bahwa tawas mampu menurunkan kekeruhan air limbah industri dari 55,6 NTU menjadi 16,4 NTU. Rendemen optimum diperoleh pada rasio 3% sebesar 68,91% dengan kadar aluminium 33,80% dan susut pengeringan 9,97%. Efektivitas penurunan kekeruhan ini mengacu pada standar turbiditas menurut SNI 6989.57:2008 dan Permenkes No. 32 Tahun 2017, di mana air bersih non-konsumsi idealnya memiliki kekeruhan di bawah 50 NTU. Dengan demikian, tawas hasil daur ulang ini menunjukkan potensi sebagai koagulan alternatif dalam pengolahan air limbah.   Kata kunci: Tawas, limbah kaleng minuman, koagulan, penjernih air   ABSTRACT Recycling aluminum-based beverage can waste offers a sustainable approach to reducing energy consumption, conserving natural resources, and increasing waste valorization. This study aimed to determine the optimum ratio of beverage can waste to potassium hydroxide (KOH) in synthesizing alum (aluminum sulfate) as an alternative coagulant for wastewater treatment from a petrochemical industry in Anyer, Banten Province, Indonesia. Alum was synthesized through preparation, alkaline dissolution, precipitation, washing, and drying using beverage can waste to 30% KOH ratios of 1–5%. Performance evaluation included yield, aluminum content, drying loss, and coagulation effectiveness based on turbidity, pH, color, and odor.The results showed that recycled alum reduced turbidity from 55.6 NTU to 16.4 NTU, decreased pH from 7.39 to 7.22, and eliminated color and odor. The optimum condition was achieved at a 3% ratio, yielding 68.91% alum with 33.80% aluminum content and 9.97% drying loss. All treated water parameters met Indonesian non-potable clean water standards according to SNI 6989.57:2008 and Ministry of Health Regulation No. 32/2017, demonstrating the potential of recycled alum as a sustainable alternative coagulant.   Keywords: alum, aluminum recycling, beverage can waste, coagulant, wastewater treatment.