Wishnu Mahendra Wiswayana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kompleksitas Konflik Thailand-Kamboja atas Kuil Preah Vihear: Peran ASEAN dalam Stabilitas Kawasan Sultan Baariq Hafizh; Wishnu Mahendra Wiswayana
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i1.6034

Abstract

Konflik Thailand-Kamboja terkait sengketa Kuil Preah Vihear mencerminkan kompleksitas permasalahan keamanan kawasan Asia Tenggara yang berakar pada sejarah kolonial, identitas nasional, dan dinamika politik domestik. Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) telah menetapkan kuil berada di bawah kedaulatan Kamboja sejak 1962, ketidakjelasan batas wilayah memicu klaim tumpang tindih yang berulang hingga bentrokan militer pada periode 2008–2011. Penelitian ini menganalisis dinamika konflik tersebut melalui perspektif keamanan kawasan dan diplomasi regional ASEAN. Temuan menunjukkan bahwa sengketa ini berdampak signifikan terhadap stabilitas kawasan, baik dari sisi keamanan militer maupun ekonomi, termasuk perdagangan lintas batas dan investasi. Dalam konteks diplomasi regional, ASEAN memainkan peran sebagai mediator dengan mengedepankan prinsip ASEAN Way yang menekankan musyawarah, konsensus, dan non-intervensi. Melalui pertemuan bilateral, trilateral, dan forum menteri luar negeri, ASEAN berupaya meredakan eskalasi serta menjaga stabilitas kawasan. Namun, keterbatasan mekanisme formal ASEAN menegaskan perlunya penguatan instrumen penyelesaian sengketa yang lebih mengikat. Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa konflik bilateral di Asia Tenggara dapat berkembang menjadi ancaman regional, sehingga memerlukan koordinasi diplomasi kolektif yang lebih efektif.
Analisis ASEAN Convention Against Trafficking in Persons: Antara Komitmen dan Pembatasan ASEAN Way Bintang Corvi Diphda; Wishnu Mahendra Wiswayana
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.12293

Abstract

Artikel ini menelaah efektivitas upaya ASEAN dalam menangani kejahatan human trafficking dengan menempatkan ASEAN Convention Against Trafficking in Persons (ACTIP) sebagai fokus analisis. Latar belakangnya adalah masih tingginya kasus kejahatan human trafficking di Asia Tenggara yang kemudian menjadi urgensi perlunya respons kawasan yang terkoordinasi dan efektif. Artikel menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui desk review terhadap dokumen-dokumen ASEAN yang berkaitan dengan ACTIP. Temuan utama menunjukkan bahwa konvensi ACTIP telah menyelaraskan definisi tindak pidana human trafficking dan memperkuat kerangka pencegahan, perlindungan, dan penuntutan, namun kinerjanya di tingkat kawasan belum optimal. Hambatan utama terletak pada rendahnya delegasi kewenangan, ketiadaan mekanisme kepatuhan yang bermakna, tidak adanya kewajiban pelaporan berkala, dan penyelesaian sengketa yang bertumpu pada konsultasi. Konfigurasi yang tidak efektif ini didasari oleh prinsip non-interference dan pengambilan keputusan berbasis konsensus yang menjadi prinsip utama ASEAN Way. Oleh karena itu, artikel merekomendasikan mekanisme pengecualian operasional terhadap prinsip non-interference dan konsensus pada isu yang berkaitan langsung dengan aspek human security, pembentukan mekanisme peer review dengan pelaporan berkala yang dikelola SOMTC, serta harmonisasi SOP identifikasi, perlindungan, pemulangan korban, ekstradisi, dan perampasan aset.