Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Manajemen Bidang Pendidikan Bagi Siswa Gifted di MAN 4 Ngawi luluk Muasomah
Kurikula : Jurnal Pendidikan Vol 5 No 2 (2021): Kurikula : Jurnal Pendidikan Vol 5, No 2 Tahun 2021
Publisher : Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.694 KB) | DOI: 10.56997/kurikula.v5i2.524

Abstract

Kelas Khusus Bidang studi ini dibentuk dalam meningkatkanpendidikan Siswa Gifted. Oleh sebab itu dari berbagaipertimbangan sasarannya adalah kelas XI, karena guru telahmengetahui kemampuan atau prestasi siswa yang di identifikasiberbakat sejak mereka duduk di kelas X. Meskipun demikian,tidak semua siswa kelas XI dapat bergabung dalam KelasKhusus Bidang Studi tersebut. Yang bergabung dalam KelasKhusus Bidang Studi tersebut adalah terdiri dari siswa kelas XIJurusan IPA dan IPS dan sebagian besar siswa mendapatperingkat 1 samapi 10 di dalam kelasnya. Siswa tersebut didalam kelas tergolong siswa yang cerdas, trampil, dan aktif.Pada kelas XI Otomotif tidak bisa bergabung dalam KelasKhusus Bidang Studi tersebut dikarenakan mereka telahdisibukkan dengan adanya praktek-praktek di luar jampelajaran. Sedangkan kelas X masih terlalu dini karena barumasuk di MAN 4 Ngrambe Ngawi, jadi guru belum bisamengidentifikasi kemampuan atau prestasi anak. Sedangkankelas XII tidak bisa bergabung dalam Kelas Khusus BidangStudi tersebut karena persiapan untuk Ujian. Proses penilaianatau evaluasi yang dilakukan di MAN 4 Ngrambe Ngawiterhadap siswa berbakat adalah sebagai upaya untukmengetahui sejauhmana program-program sekolah yang telahdirencanakan. Di samping itu evaluasi program tersebut jugadalam rangka mendapatkan masukan, Rentetan pelaksanaanserta hasil yang ada di Madrasah tersebut. Berdasarkan hasilpenelitian Manajemen Bidang Pendidikan bagi Siswa Gifted diMAN 4 Ngawi meliputi perencanaan kesiswaan, perencanaan kurikulum, perencanaan tenaga pengajar, serta perencanaan sarana dan prasarana
PARADIGMA SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Sugito Muzaqi; Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12 No 2 (2018): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v12i2.306

Abstract

AbstrakParadigma adalah suatu citra fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu. Oleh karenanya paradigma pendidikan menjadi kunci utama yang akan mengarahkan perilaku ilmiah untuk menyelidiki, dan menemukan solusi pemecahan masalah di dalamnya. Paradigma pendidikan islam merupakan suatu pokok permasalahan ilmu yang menggariskan berbagai macam pernyataan, kaidah pertanyaan dan penafsiran yang diperoleh dari jawaban yang sudah dipelajarinya. Paradigma pendidikan Islam di Indonesia dibagi menjadi tiga bagian pokok yaitu: 1)  pendidikan Islam menjadi intelektual komitmen yang menjadi suatu citra fundamental dari pokok permasalahan suatu ilmu; 2)  pendidikan Islam seharusnya dikembangkan dari pemikiran pendidikan Islam yang ditelorkan para ‘ulama, pemikir (intelegensia) dan filosof Muslim; 3) Integrasi antara ilmu dan agama memungkinkan bagi kita menemukan sebuah paradigma milik kita sendiri “Pendidikan (Agama) Islam”.Kata kunci: paradigma, sistem, pendidikan Islam
PENDIDIKAN BERBAGAI BUDAYA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 13 No 1 (2019): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v13i1.343

Abstract

Abstrak  Sesudah perang dunia II lahir negara-negara baru bebas dari penjajahan. Negara-negara baru tersebut dengan kebudayaannya yang berjenis-jenis menjadi simbol perlawanan terhadap imperialisme Eropa dan “kebudayaan putih” (white culture). Dengan demikian gerakan pengakuan kebudayaan bergandengan dengan lahirnya nasionalisme dan demokrasi serta didorong oleh pengakuan terhadap hak asasi manusia, mendapat angin segar, terutama di negara-negara berkembang. Pengakuan terhadap negara-negara berkembang berarti pula pengakuan terhadap kebudayaannya yang khas. The rights to culture and live within it merupakan semboyan yang populer di negara-negara berkembang.Di negara-negara maju juga terjadi perubahan yang besar terutama disebabkan karena pengakuan atas hak asasi manusia bergandengan dengan pertumbuhan demokrasi yang menghormati akan cara hidup yang berbeda dengan kebudayaan barat yang telah established itu. Apabila sebelumnya negara-negara “X” penjajah menganggap manusia dan budaya dari bekas jajahannya sebagai inferior, kini menghormati adanya budaya-budaya lain yang perlu dihormati. Hal ini disebabkan pula oleh adanya migrasi bangsa-bangsa yang terjajah sesudah Perang Dunia II, seperti migrasi para pekerja Turki memasuki Eropa Barat di dalam pembangunan kembali sesudah perang, terbukanya pintu bagi negara-negara Barat terhadap bangsa-bangsa kulit berwarna ari Asia dan Afrika dengan membawa budayanya masing-masing. Di Amerika Serikat segregasi terhadap golongan negro (African-American) menjadi berubah dengan gerakan anti segregasi yang dipelopori oleh Martin Luther King. Australia yang sebelum Perang Dunia II terkenal menolak terhadap ras kuning dari utara, kini membuka pintu untuk bangsa Asia. Demikianlah multikulturalisme telah memasuki perkembangan yang baru sejalan dengan perkembangan demokrasi dan hak asasi manusia. Kata Kunci : Budaya, Pendidikan Multikultural, Pendidikan Islam.
PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENGEMBANGAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 13 No 2 (2019): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v13i2.359

Abstract

Abstrak Lembaga pendidikan Islam dalam melaksanakan peran dan fungsinya merupakan bagian terpadu yang integral dari pendidikan nasional. Tujuan pendidikan agama Islam harus searah dengan tujuan Pendidikan Nasional seutuhnya, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab.Kemajuan zaman dan perubahan global meminta kita berubah dalam pengelolaan hidup masyarakat dan disana pasti mengalami perubahan pendidikan dalam rangka mempersiapkan manusia-manusia Indonesia untuk dapat memberikan jawaban terhadap semua tantangan dan peluang global tersebut.Pendidikan Islam berarti proses yang komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan, yang meliputi intelektual, spiritual, emosi dan fisik, sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk memiliki kemampuan mengaktualisasikan potensi-potensinya dan kompeten melaksanakan tugas-tugas esensialnya dalam kehidupan individu maupun secara kolektif. Semuanya merupakan perwujudan dari upaya pendekatan diri dan pengabdian kepada Tuhan. Yang Maha Esa Allah SWT . adapun Peran IPTEK dan IMTAQ dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia sangat dibutuhkan, sehingga saling mendukung dan mengisi. Kata kunci:  Pendidikan Islam dan Pengembangan kualitas sumber daya manusia.
PENINGKATKAN MINAT DAN KEAKTIFAN SISWA KELAS VII SMP MA’ARIF SIDOLAJU PADA PEMBELAJARAN AKHLAK MELALUI MODEL EVALUASI TENAGA PENDIDIK Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14 No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v14i2.447

Abstract

ABSTRAK Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, persoalan-persoalan pendidikan terus berubah dan berkembang. Tuntutan peserta didik pun akan semakin besar. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, pendidikan harus senantiasa berubah dan berkembang menyesuaikan kondisi zaman.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan keaktifan siswa pada pembelajaran Akhlak kelas VII di SMP Ma’arif Sidolaju Widodaren dengan menggunakan Model Evaluasi Tenaga Pendidik.            Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas Subyek penelitian yaitu siswa kelas VII SMP Ma’arif Sidolaju Widodaren dan guru mata pelajaran Akhlak kelas VII. Data dikumpulkan melalui angket, observasi, wawancara, catatan lapangan, sedangkan teknik validitas data yang digunakan yaitu dialogis.Hasil pengamatan pada setiap aktivitas pembelajaran sebelum dilakukan tindakan yaitu; (1) aktivitas menulis sebesar 76,92%, (2) membaca, 38,46%, (3) mendengarkan/memperhatikan, 76,92%, (4) bertanya, 0%, (5)  menjawab, 2,56%, (6) memberikan pendapat, 0%, (7) diskusi di antara siswa, 0%, dan (8) mengerjakan tugas, 0%. Kata Kunci : Keaktifan Siswa dan akhlak
DAMPAK KINERJA KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI SISWA MADRASAH TSANAWIYAH DESA NGELESAN KECAMATAN WIDODAREN KABUPATEN NGAWI Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 15 No 2 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v15i2.574

Abstract

Abstract Good cooperation in educational institutions at Madrasah Tsanawiyah is predicted to improve student achievement. This is because the head of the madrasa as a leader, manager, administrator, and supervisor cannot automatically produce outstanding students without the help of Islamic religious education teachers. The research consists of the formulation of the problem: (1) How is the performance of the madrasa principal in managing student education at Madrasah Tsanawiyah? (2) How is the performance of the principal in improving student achievement at Madrasah Tsanawiyah? (3) The impact of the principal's performance in improving student achievement at Madrasah Tsanawiyah?. This research is a qualitative research with purposive sampling technique. The peculiarity of this purposive sampling technique is that samples can come from anywhere according to the objectives of the researcher. The results of this study, it is known that the performance of the head of Madrasah Tsanawiyah has an impact on increasing student achievement, namely exact and non exact. Exact achievement is an achievement related to the results of the evaluation of subjects such as; the value of student learning outcomes in UAM for the last 5 years. Meanwhile, non-academic achievements can be in the form of competitions participated by Madrasah Tsanawiyah students such as; Tilawatil Qur'an, Sports and Scouts. The increase in achievement has led the head of Madrasah Tsanawiyah to carry out formal and non-formal efforts. Namely with BBI (Intensive Tutoring. Based on these efforts, the achievement of Madrasah Tsanawiyah students is currently quite satisfactory, both academic and non-academic. Keywords: Principal, Policy, MTs Ngelesan
KURIKULUM MUATAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN DI SDIT AL-ISLAM SINE Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 16 No 1 (2022): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v16i1.634

Abstract

Abstract Since the Middle Ages, science has developed rapidly. The period after the Middle Ages is often called the modern era. The development of science is based on the discoveries and thoughts of ancient philosophers. The results showed that the Local Content Curriculum at SDIT Al Islam Sine was not centered on the National Curriculum; (Kurnas), but there is an increase in local content and is in the formulation team. The planning system is implemented by analyzing the volume and workload which they call Tupoksi (Main Tasks and Functions). This study aims to reveal whether there are differences between schools that implement local content curriculum and schools without local content. This research is a quantitative research by taking samples from students of SDIT Al Islam with observation, documentation and interviews who participated in the memorization of akhlakul karimah activities and were declared good. The local content (Mulok) at SDIT Al Islam was centered on students who had additional material desires. The evaluation system is implemented on two (2) targets, namely: evaluation of student travel per semester and evaluation of the program implementers themselves.Keywords: Local Content Curriculum, Education Quality, SDIT Al-Islam Sine
MENGASAH INDRA KEENAM PADA ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI Luluk Muasomah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 17 No 1 (2023): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsutjurnalstudiislamdansosial.v17i1.877

Abstract

Abstrak: Semua indra manusia memiliki fungsi dan kegunaan masing masing, namun pada dasarnya semua indra saling terkait dan saling mendukung. Indra ke enam diketahui sebagai alat untuk merasakan sesuatu secara naluri atau intuisi, indra ini dalam menjalankan fungsinya dapat di bantu bahkan saling ada ketergantungan dengan indra lain. Naluri dan intuisi dapat bankit karena menerima sinyal dari telinga yang mendengar suara tertentu karena setiap suara memiliki frekuensi terntentu, sebagaimana diketahui bahwa Setiap suara memiliki frekuensi dan panjang gelombang tertentu. seperti bacaan Al-Qur'an yang dibaca dengan tartil yang baik dan sesuai dengan tajwid memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang dapat berdampak positif bagi otak dan mengembalikan keseimbangan tubuh. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana konsep Al-Ghazali menajamkan indra keenamPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dalam hal ini mendeskripsikan fenomenologi indrawi melalui perspektif para ahli untuk menganalisa perilaku secara menyeluruh dalam melaksanakan pembiasaan secara konsisten. Dari penelitian ini diperoleh data bahwa indra keenam terbentuk atas konsolidasi beberapa indra serta serta dapat diasah kepekaanya. Indra keenam pada anak dapat membantu anak untuk mencapai prestasi, pada saat yang sama anak-anak tidak hanya akan tumbuh dengan cerdas, tetapi juga mampu menjadi manusia yang jenius dengan mengasah idera keenam dengan  melatih melalui pengendalian diri yang baik Kata Kunci : Indra keenam, Anak, Pandangan Al-Ghazali Abstract: All human senses have their respective functions and uses, but basically all senses are interrelated and support each other. The sixth sense is known as a tool for feeling something instinctively or intuitively, this sense in carrying out its functions can be assisted and even interdependent with other senses. Instincts and intuition can arise because they receive signals from ears that hear certain sounds because each sound has a certain frequency, as it is known thatEach sound has a specific frequency and wavelength. like recitation of the Qur'an that is read with good tartil and in accordance with tajwid has a frequency and wavelength that can have a positive impact on the brain and restore balance to the body. This article aims to explain how Al-Ghazali's concept sharpens the sixth sense. From this study, data was obtained that the sixth sense is formed by the consolidation of several senses and its sensitivity can be honed. Sixth sense in children can help children to achieve achievements, at the same time children will not only grow intelligently, but also be able to become human geniuses by sharpening their sixth sense by training through good self-control. Keywords: The sixth sense, Children, Al Ghazali prespective
Program Kartu Hijau sebagai Peningkatan Siswa Unggul Madrasah Aliyah Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo Ulul Attarikhi; Luluk Muasomah; Arif Ma'mun
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 1 (2024): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v5i1.820

Abstract

The Green Card is a Madrasah Tip to Improve the Quality of Education. Madrasahs play a major role in improving quality based on the renewal and creativity of madrasah managers who are dynamic, energetic, and have many ideas. Madrasah's task is to create highly competitive alumni academic and non-academic matters. This is implemented in the green card program. The green card program is a design or breakthrough implemented at Madrasah Aliyah Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo in developing superior students. This Green Card is a control book in the form of a module expected to improve or create superior students in the religious realm. This research aims to explain and describe the green card program as an Enhancement for Superior Students. This type of research is field research, which is included in qualitative research; the method for preparing or collecting data is by observing, interacting, understanding people in the environment, and documenting data. The data analysis technique used is analytical. The results of this research are that with the provision of the green card program, the competency diversity of students' practices and knowledge is said to be good and exceeds standards.
Implementasi Amaliyah Ubudiyah dalam Membentuk Karakter Religius di Madrasah Aliyah Swasta Pesantren Temulus Muhamad Bahrul Huda; Luluk Muasomah; Sadiran Sadiran
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 1 (2024): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v5i1.863

Abstract

This research aims to provide a detailed description of how the amaliyah ubudiyah program is implemented at the MA Pesantren Temulus in the Ngawi area to influence the religious character of students. This research uses a descriptive qualitative approach. Data was collected through interviews, observation, and documentation. Bearing in mind the conclusions of this research, the Amaliyah Ubudiyah character formation program at the Temulus Islamic Boarding School begins with classroom learning using materials relevant to the course outline, syllabus, and RPP and continues with implementation through reflection. 5S (Sapa et al.) is fostered through the Amaliyah Ubudiyah program, as is appropriate clothing (neat, clean, covering the private parts), duha (prayer), reverence for predecessors, heroes, and religious figures, and reading. Friday Koran, Friday cleaning, PHBI, closing class prayer, congregational prayer during the day, keeping the school clean, and obeying the rules.