Sumarno
Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA MENURUT IMAN KRISTEN (Bagian 1) Sumarno
Jurnal Arrabona Vol. 2 No. 1 (2019): Agustus
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.343 KB) | DOI: 10.57058/juar.v2i1.24

Abstract

The existence of various kinds of religions and beliefs in Indonesia, naturally leads to various kinds of understanding of the precepts of the Almighty God. This fact cannot be avoided, because each religion is based on the conception and teachings of its own religion. Moreover, each religion has its own sacred book. This often leads to serious debates between adherents of one religion with another and not even rarely cause disputes. This fact is also what often cornered and branded Christianity as a polytheistic religion. The question is, is it true that Christianity is a polytheistic religion? Is it true that God is three? Is it true that unity in Christianity makes no sense at all? Or is Christianity the opposite which is true monotheism? It is on this basis that the writer raises this point as an attempt to provide an explanation, description and answer to those who do not understand the conception of oneness according to the Bible.
PEMAHAMAN SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA MENURUT IMAN KRISTEN (Bagian 2) Sumarno Sumarno
Jurnal Arrabona Vol. 2 No. 2 (2020): Februari
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.664 KB) | DOI: 10.57058/juar.v2i2.35

Abstract

Adanya berbagai macam agama dan kepercayaan di Indonesia, dengan sendirinya menimbulkan berbagai macam pemahaman terhadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kenyataan ini tidak bisa dihindari, karena tiap-tiap agama mendasarkan pada konsepsi dan ajaran agamanya sendiri. Apalagi masing-masing agama memiliki kitab sucinya sendiri. Hal ini seringkali menimbulkan perdebatan serius antara penganut agama yang satu dengan yang lain bahkan tidak jarang menimbulkan perselisihan. Kenyataan ini pula yang sering memojokkan dan mencap kekristenan sebagai agama politheis. Menjadi pertanyaan adalah, benarkah kekristenan merupakan agama politheis? Benarkah Allahnya tiga? Benarkah keesaan dalam kekristenan sama sekali tidak masuk akal? Atau justru sebaliknya kekristenan merupakan monotheisme yang benar? Atas dasar inilah penulis mengangkat pokok ini sebagai usaha memberikan penjelasan, uraian dan jawaban terhadap mereka yang belum memahami konsepsi keesaan menurut Alkitab.
Dari Pulpit ke Platform: Kerangka Strategis Integrasi Teologi Digital dalam Ibadah Kristen Sherly Mudak; Ferdinan Samuel Manafe; Sumarno
Jurnal Salvation Vol. 7 No. 1 (2026): Juli
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v7i1.96

Abstract

Digital transformation has shifted Christian worship practices from physical spaces to digital platforms, presenting both opportunities and challenges for the church in carrying out its mission and maintaining theological integrity. This study aims to analyze the missiological and ethical implications of digital theology in Christian worship and to formulate strategies for integrating technology that remain grounded in the principles of Christian theology. The study employs a qualitative method using a literature review approach through a critical analysis of books, scholarly articles, and academic documents discussing digital theology, missiology, Christian ethics, and digital transformation in church ministry. The research findings indicate that digital theology not only expands the church’s mission field through the digital mission field but also presents challenges such as the commercialization of ministry, the protection of congregational data, community fragmentation, and a shift in the orientation of worship due to the dominance of digital platform logic. The research findings emphasize that technology must be understood as a supportive tool for ministry, one that complements, rather than replaces, the essence of the church as a community of faith centered on the Word, the work of the Holy Spirit, and the fellowship of believers. This study proposes four strategies for integrating digital theology: strengthening digital literacy among church leaders; developing hybrid worship models; crafting digital liturgies with theological integrity; and developing a digital ethics framework that encompasses data governance, ministry evaluation, and oversight of commercialization. These strategies are expected to serve as a conceptual framework for the church in developing digital ministries that are contextual, responsible, and faithful to Christ’s mission. Abstrak: Transformasi digital telah mengubah praktik ibadah Kristen dari ruang fisik menuju platform digital, sehingga menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi gereja dalam melaksanakan misi dan mempertahankan integritas teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi misiologis dan etis teologi digital dalam ibadah Kristen serta merumuskan strategi integrasi teknologi yang tetap berlandaskan prinsip-prinsip teologi Kristen. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis kritis terhadap buku, artikel ilmiah, dan dokumen akademik yang membahas teologi digital, misiologi, etika Kristen, serta transformasi digital dalam pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi digital tidak hanya memperluas ruang misi gereja melalui digital mission field, tetapi juga memunculkan tantangan berupa komersialisasi pelayanan, perlindungan data jemaat, fragmentasi komunitas, serta pergeseran orientasi ibadah akibat dominasi logika platform digital. Temuan penelitian menegaskan bahwa teknologi harus dipahami sebagai instrumen pelayanan yang mendukung, bukan menggantikan, hakikat gereja sebagai komunitas iman yang berpusat pada Firman, karya Roh Kudus, dan persekutuan umat. Penelitian ini menawarkan empat strategi integrasi teologi digital, yaitu penguatan literasi digital bagi pemimpin gereja, pengembangan model ibadah hybrid, penyusunan liturgi digital yang berintegritas teologis, serta pengembangan kerangka etika digital yang mencakup tata kelola data, evaluasi pelayanan, dan pengawasan terhadap komersialisasi. Strategi tersebut diharapkan menjadi kerangka konseptual bagi gereja dalam mengembangkan pelayanan digital yang kontekstual, bertanggung jawab, dan tetap setia pada misi Kristus.