Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMIKIRAN SUFISME PERIODE AWAL DAN SUFISME INDIVIDUAL Ahmad Sodikin
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 2 No 1 (2022): Proceeding of The 2nd Conference on Strengthening Islamic Studies in the Digital
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.222 KB)

Abstract

Pemikiran bidang sufisme, secara epistemologis adalah pengetahuan keislaman yang didasarkan pada nalar irfani, berbeda dengan nalar bayani dan burhani sebagaimana dikategorikan oleh Muhammad Abed al-Jabiri. Nalar tersebut di dalam perkembangan ilmu keislaman diistilahkan dengan tasawuf atau sufisme yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam. Tujuan sufisme itu sendiri adalah memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Kesadaran sufistik mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan (ittihadat)[1]. Pada pokok pembahasan ini, penulis mencoba membahas mengenai asal-usul sufisme, kemunculan aliran sufisme, perkembangan pembentukan aliran dan pemikiran sufisme. Oleh karena itu penulis menggunakan teori perubahan untuk menganalisis perkembangan yang terjadi dalam sufisme. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengcounter tuduhan orientalis yang menganggap dan menyatakan bahwa tasawuf bukan produk asli Islam. Sehingga dalam ajaran-ajarannya terkait wilayah esoteris dan eksoteris terdapat kesamaan dengan non-Islam seperti: Hindu, Budha, Kristen, dan sebagainya. Hasil daripada temuan dari penulis adalah bahwa sufisme atau tasawuf merupakan produk asli ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sejak awal mula Islam didakwahkan oleh Nabi Muhammad Saw., yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya hingga generasi penerus ajaran Islam berikutnya. Hal ini karena tasawuf dalam pembentukan disiplinnya adalah berdasarkan pada ajaran moral keagamaan. Oleh karena itu tasawuf bersumber dari al-Qur’an, as-Sunnah, amalan dan ucapan para sahabat yang tidak keluar dari ruang-lingkup Al-Qur’an dan As-Sunnah
PENDIDIKAN ISLAM MASA KOLONIAL BELANDA: Studi Komparatif Pendidikan Islam dan Pendidikan Kolonial di Jawa Awal Abad XX Ahmad Sodikin
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 3 No 1 (2023): Proceeding of the 3rd FUAD’s International Conference on Strengthening Islamic St
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Islam dan Pendidikan Kolonial merupakan dua metode untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Pendidikan Islam maupun pendidikan Kolonial mempunyai keunggulan tersendiri bagi masyarakat. Pendidikan Islam cenderung lebih religius, sedangkan pendidikan Kolonial mengarah pada sekuler, dan liberal. Setiap pendidikan memiliki sistem pengajaran yang berbeda karena mempunyai tujuan dan target yang berbeda sesuai kepentingan pemerintah yang berkuasa saat itu. Metode dalam penulisan ini adalah menggunakan metode sejarah yang bertumpu pada empat hal sebagaimana umumnya yaitu: heuristic, kritik, verifikasi dan historiografi. Karena ini merupakan sejarah politik, maka untuk menganalisanya penulis menggunakan pendekatan sosiologi-politik. Sementara itu dibantu dengan teori challenge and respone yang dikembangkan oleh Arnold Toynbe. Menurut teori ini kebudayaan terjadi (lahir) karena adanya tantangan dan jawaban (challenge and response) antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dengan adanya pendidikan pemerintah kolonial Belanda yang rasial dan diskriminatif. Dengan demikian mucul bentuk perlawanan dalam bidang pendidikan, maka lahirlah pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah swasta (partikelir) seperti: Pondok Pesantren Tebu Ireng (1899 M), Pondok Pesantern Tambak Beras (1919 M) Jawa Timur, Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta (1911), Pondok Pesantren Sukamanah, Cipasung (1930) Tasik Malaya, Jawa Barat. Sedangkan Sekolah-sekolah swasta (partikelir) yaitu Sekolah Muhammadiyah (1912), Taman Siswa (1922) dan Nahdlatul Ulama (1926).