Kotagede sebagai sebuah kawasan bersejarah sekaligus kawasan cagar budaya di Yogyakarta, terindikasi menghadapi gentrifikasi. Hal ini berpotensi mengubah karakter fisik, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses gentrifikasi di Kotagede serta dampaknya terhadap kawasan cagar budaya tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan untuk mengetahui sejarah Kotagede yang terkait langsung dengan gentrifikasi. Data ini diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang terkait, serta studi dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis melalui beberapa metode. Analisis kualitatif digunakan untuk memahami dampak gemtrifikasi pada aspek fisik dan spasial kawasan, serta aspek sosial dan ekonomi. Analisis komparatif digunakan untuk membandingkan proses dan dampak gentrifikasi pada dua fase. Analisis pemetaan spasial digunakan untuk memahami perubahan tata ruang Kotagede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi di Kotagede terjadi dalam dua fase utama: fase pertama yang ditandai dengan invasi kelompok pedagang, dan fase kedua yang ditandai dengan masuknya kelompok bermodal tinggi yang membeli rumah tradisional Kotagede. Fase pertama berdampak pada lahirnya pemukiman padat dan kekayaan tipologi arsitektur. Secara fungsional, Kotagede berubah menjadi kota perdagangan dan kota kerajinan yang makmur. Dari aspek sosial, terjadi perubahan demografi Kotagede yang didominasi pedagang dan pengrajin, serta hadirnya kalangan intelektual. Sedangkan pada fase kedua, dimana fenoma architectural neglection and alterations terjadi, gentrifikasi berdampak pada pelestarian fisik bangunan. Kotagede, one of Yogyakarta’s cultural heritage districts, faces gentrification pressures that may transform its physical, social, and economic character. This phenomenon can accelerate the degradation of the district’s identity if unmanaged, but it also holds the potential to become a tool for preservation through building restoration. This study aims to analyze the dynamics of gentrification in Kotagede across two phases of development and examine its impacts on the district’s social, economic, and spatial-physical aspects. A qualitative descriptive approach with a case study strategy was employed, utilizing literature review, field observations, in-depth interviews, and documentation studies. The analysis compared two gentrification phases: (1) the influx of traders and artisans after the Diponegoro War and (2) the arrival of high-capital groups following the 1998 economic crisis and the 2006 earthquake and incorporated spatial mapping to identify settlement pattern changes. Findings indicate that the second phase significantly contributed to the adaptive reuse of heritage buildings, the restoration of the district’s image from neglect, and the enhancement of tourism and the local economy. These results enrich the gentrification literature by demonstrating that gentrification in heritage districts can have a positive impact if managed participatively and contextually, and provide a basis for formulating community-based planning policies that balance heritage conservation with social sustainability.