Karsono Hardjo Saputra
Universitas Indonesia, Depok

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sastra Lama Tulis sebagai Kelanjutan Tradisi Lisan dalam Ranah Sastra Jawa Karsono Hardjo Saputra
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.197 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.122

Abstract

Pada mulanya adalah bahasa, yang menurut ilmu bahasa adalah sistem bunyi yang berpola dan bermakna. Keberpolaan dan kebermaknaan bergantung pada konvensi masyarakat penggunanya. Pengertian keberpolaan adalah kemunculannya sebagai suatu sistem dapat diramalkan. Sebagai contoh, runtunan bunyi bahasa mempunyai pola-pola baku sesuai dengan tatarannya: morfem, kata, frasa/klausa, kalimat, dan seterusnya. Demikian pun pada tataran gramatika dan semantik. Adapun yang dimaksud kebermaknaan adalah setiap satuan tata susun bunyi mempunyai makna. Sementara konvensi diperlukan, baik disadari atau tidak, karena fungsi bahasa pertama-tama merupakan sarana komunikasi antaranggota masyarakat pemiliknya. Baik pola maupun makna berada dalam ranah konvensi agar bahasa dapat mengemban amanah komunikasinya.Oleh karena sebagai sistem bunyi, maka bahasa memiliki sifat kelisanan (orality). Bunyi-bunyi yang berpola itu keluar melalui alat ucap (daerah artikulasi) si pembicara, diserap oleh alat dengar lawan bicara, lalu disepakati maknanya. Komunikasi akan terjadi apabila maksud si pembicara yang dinyatakan melalui bunyi-bunyi bahasa dapat ditangkap oleh lawan bicara. Sebaliknya, komunikasi tidak terjalin apabila makna tidak berkesusaian antara pembicara dan lawan bicara.Pada perkembangan kemudian bahasa yang pada mulanya berfungsi sebagai sarana komunikasi juga mengemban tugas lain—meski juga tetap berada pada ranah “komunikasi”—sebagai sarana ekspresi seni: sastra, pertunjukan, bahkan juga ekspresi keagamaan: mantra dan doa, walaupun pada tataran tertentu ada juga mantra yang dikelompokkan sebagai “puisi”. Dalam ranah kebudayaan Jawa tradisional, baik sastra, seni pertunjukan (kethoprak, wayang, ludruk, dan sebagainya), mantra, maupun doa dinyatakan secara verbal. Dalam lingkup sastra maka kemudian lahirlah sastra lisan, bak puisi maupun prosa. Pengertian sastra lisan adalah teks yang hidup dengan cara dilisankan, dilakukan seseorang atau beberapa orang, dan ada sekelompok orang lain yang menjadi pendengarnya; bahkan berkemungkinan ada saling sahut antara pelisan (tukang cerita) dan pendengar.
Citraan Perempuan dalam Serat Panji Karsono Hardjo Saputra
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.704 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.314

Abstract

Ketika pertengahan tahun 1990-an penulis hendak membaca dengan sungguh-sungguh cerita Panji (Jawa) yang oleh Poerbatjaraka (1957) disebut sebagai cerita asli Jawa dan oleh Pigeaud (1967: 233) disebut sebagai sastra pesisiran . Kemudian muncul suatu pertanyaan: “Apa keistimewaan kisah Panji sehingga dikenal luas di luar geografi budaya Jawa yang melahirkannya dan memiliki korpus teks sedemikian banyak?” Terlebih apabila pertanyaan itu dikaitkan dengan unsur-unsur kesastraannya dan kemudian dibandingkan dengan karya sastra masa kini, seperti tokoh dan penokohan, pengaluran, serta tema, yang senantiasa melahirkan kebaruan-kebaruan dan yang kemudian seringkali menimbulkan tegangan antara karya sastra dan pembacanya. Tak ada yang istimewa.  Cerita Panji yang dapat dikatakan sebagai sastra istana, dalam pengertian sastra dengan latar cerita istana, itu tidak berbeda dengan kecenderungan karya klasik  sezaman: tokoh stereotip, pipih, tanpa kejutan; alur datar; tema hitam-putih; dan seterusnya. Tokoh wirawan senantiasa disebut lir Parta merupakan tokoh biasa kita kenal dengan Arjuna atau lir Hyang Kamajaya nitis (bagai Dewa Kamajaya yang turun ke dunia) apa pun cerita, tema, dan genrenya, dan seterusnya. Wirawan selalu bisa menaklukkan lawan-lawannya, entah dengan kekuatan sendiri maupun dengan bantuan pihak lain, termasuk kekuatan adikodrati. Demikian pun tokoh-tokoh lain. Tokoh-tokoh perempuan, misalnya, senantiasa menjadi objek penderita: suwarga nunut, neraka katut (menumpang suami masuk surga, ikut terperosok jika suami masuk ke neraka’atau kanca wingking (sahabat yang berada di dapur) sebagaimana unen-unen (proposisi) yang dikenal oleh orang Jawa masa kini.