Kemampuan menyusun kalimat anak usia 5 sampai 6 tahun dalam kegiatan menceritakan kembali di TK Kristen Siloam Kota Baru Kupang belum berkembang optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan kemampuan tersebut setelah pembelajaran menggunakan media video animasi. Penelitian kuantitatif ini memakai desain praeksperimen one group pretest posttest dengan sampel 10 anak kelompok B2 yang dipilih secara purposif. Perlakuan berupa delapan pertemuan menonton video animasi cerita Alkitab yang diikuti tanya jawab dan kegiatan menceritakan kembali. Data diperoleh melalui tes lisan menceritakan kembali yang dinilai dengan rubrik lima indikator berskala 1 sampai 4, yaitu keruntutan gagasan, struktur kalimat, kosakata, partisipasi dalam percakapan dua arah, dan pemahaman makna. Instrumen memiliki validitas isi yang memadai menurut indeks Aiken’s V (rerata 0,92) dan reliabilitas Cronbach’s Alpha 0,83 sampai 0,90. Rerata skor naik dari 12,30 (61,5% dari skor maksimal) pada pretest menjadi 17,00 (85%) pada posttest. Uji t berpasangan menunjukkan peningkatan yang signifikan, t(9) = 15,67, p < 0,001, dan uji Wilcoxon memberikan hasil yang sejalan (p = 0,002). Seluruh anak mengalami kenaikan skor antara 3 dan 6 poin, dengan kenaikan rerata terbesar pada struktur kalimat (2,4 menjadi 3,6) dan terkecil pada kosakata (2,5 menjadi 3,1). Peningkatan signifikan juga terjadi pada subskor tiga indikator inti penyusunan kalimat, yaitu keruntutan gagasan, struktur kalimat, dan kosakata. Karena penelitian tidak menggunakan kelompok kontrol, temuan ini menunjukkan adanya peningkatan setelah perlakuan dan belum dapat dibaca sebagai bukti sebab akibat. Video animasi yang dipadukan dengan tanya jawab dan kesempatan bercerita ulang layak dipertimbangkan guru sebagai strategi stimulasi bahasa ekspresif, sementara pengujian dengan kelompok pembanding masih diperlukan.