Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Self-Regulation dengan Konsentrasi Belajar pada mahasiswa yang bekerja di Universitas Tama Jagakarsa. Mahasiswa yang menjalani peran ganda sebagai pelajar sekaligus pekerja menghadapi tuntutan yang kompleks, baik dari aspek akademik maupun pekerjaan, sehingga kemampuan dalam mengatur diri dan mempertahankan konsentrasi menjadi sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajar. Self-regulation dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengatur proses berpikir, perasaan, serta tindakannya secara terarah dalam rangka mencapai tujuan tertentu, yang secara konseptual diyakini berperan dalam meningkatkan konsentrasi saat belajar. Namun demikian, dalam konteks mahasiswa bekerja, terdapat berbagai faktor eksternal seperti beban kerja, tekanan waktu, kelelahan fisik, serta kondisi lingkungan belajar yang dapat memengaruhi efektivitas regulasi diri dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan korelasional, serta melibatkan sebanyak 150 mahasiswa aktif yang juga bekerja sebagai partisipan. Instrumen penelitian terdiri atas Skala Self-Regulation yang mencakup aspek Impulse Control, Self-Direction, Decision Making, dan Goal Orientation, serta Skala Konsentrasi Belajar. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menerapkan uji korelasi Spearman guna mengidentifikasi keterkaitan antara variabel-variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Self-Regulation dengan Konsentrasi Belajar (r = -0,112, p = 0,175), dengan nilai koefisien determinasi yang sangat rendah (R² = 0,014). Temuan ini mengindikasikan bahwa Self-Regulation bukan merupakan faktor utama yang memengaruhi konsentrasi belajar pada mahasiswa yang bekerja. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa faktor-faktor eksternal atau kontekstual kemungkinan memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan kemampuan regulasi diri. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan agar penelitian selanjutnya mempertimbangkan variabel lain seperti dukungan sosial, manajemen stres, keseimbangan antara pekerjaan dan studi, serta faktor lingkungan belajar untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.