Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Effect of Rebon Shrimp-Based Supplementary Feeding on Height of Stunted Children Sri Sulistyawati Anton; Agussalim Bukhari; Aidah Juliaty A. Baso; Kadek Ayu Erika
Journal of International Conference Proceedings Vol 5, No 1 (2022): 2022 Malang ICPM Proceeding
Publisher : AIBPM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32535/jicp.v5i1.1473

Abstract

In Indonesia, as other developing countries, stunting is still prevalent especially in children. Stunting significantly affects person's development in future. Stunting occurs about 162 million children under 5 years worldwide. It is generally caused by insufficient nutritional intake mostly on children from underprivileged families. Rebon-shrimp is a nutritious and inexpensive local food, but its utilization is still low. It is potential to be an additional food for children. This study aims to determine the effectiveness of rebon-shrimp based supplementary feeding on weight and height in malnourished children aged 24-60 months. This study is a quasi-experimental design, involving 88 malnourished children, divided into 2 groups, intervention (n=44) and control (n=44). The intervention group received rebon-shrimp based supplementary food for 90 days, while the control group received a placebo. Height was assessed at baseline and monthly follow-ups until endline at Day 90. The results were analyzed by repeated-measures anova test. There was a statistical difference (p<0.0001) in height gain on both groups, but the increase in height of children who received rebon products (3.94cm) was greater than children who did not receive rebon products (2.92cm). It was concluded that supplementary food made from rebon-shrimp was beneficial for increasing height of stunted children. Keywords: rebon-shrimp; supplementary food; stunted
Kajian Kimia Wedang Uwuh Sebagai Minuman Kesehatan Herbal Tradisional Ni Ketut Sinarsih; Sri Sulistyawati Anton
Jurnal Yoga dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Volume 5 No. 1 Tahun 2022
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.466 KB) | DOI: 10.25078/jyk.v5i1.833

Abstract

Minuman tradisional yang berkhasiat obat tentunya sangat dekat dengan kehidupanmasyarakat Indonesia, salah satunya wedang uwuh. Wedang uwuh merupakan minuman herbalkhas Yogyakarta yang berbahan baku secang, kayu manis, kapulaga, jahe, pala, sereh, dancengkeh (Jatmika et al. 2017). Artikel ini bertujuan memberikan ulasan yang terkini dankomprehensif mengenai gambaran umum senyawa bioaktif dari herbal yang digunakan dalampembuatan wedang uwuh; serta bioaktivitas senyawa yang terkandung di dalamnya khususnyayang berkaitan dengan kesehatan, Review dilakukan secara deskriptif dari kajian berbagaiartikel ilmiah bebasis online mulai tahun 2012-2022 yang berkaitan dengan kandungan kimiaserta bioaktivitas herbal bahan pembuatan wedang uwuh. Secang, kayu manis, kapulaga, jahe,pala, sereh, dan cengkeh mengandung beberapa senyawa bioaktif golongan terpen, fenolik, dansenyawa metabolit sekunder yang mengandung nitrogen seperti alkaloid. Senyawa-senyawatersebut bekerja secara sinergis sehingga memiliki banyak manfaat kesehatan diantaranyaantioksidan, antimikroba, antivirus, antidiuretik, dan antidiabetes. Pemanfaatan secaratradisional khususnya diperoleh karena adanya daya antioksidan dan antimikroba, yang manadaya antioksidan tersebut dimanfaatkan dalam menambah daya tahan tubuh dan antimikrobauntuk mengatasi masalah pernafasan akibat infeksi bakteri.
Kajian Determinan Stunting Pada Anak di Indonesia Sri Sulistyawati Anton; Ni Made Umi Kartika Dewi; Icci Ghina Adiba
Jurnal Yoga dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting adalah gangguan pertumbuhan anak yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi, infeksi, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak stunting mengalami hambatan pertumbuhan fisik dan otak yang merugikan masa depan mereka. Artikel ini bertujuan untuk membahas faktor determinan kejadian stunting melalui kajian review. Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual penyebab stunting oleh WHO. Artikel yang relevan dari tahun 2017–2020 dicari melalui database elektronik PubMed dan Google Scholar. Studi ini menggunakan sepuluh artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Tabel matriks yang membandingkan metode penelitian, subjek penelitian, dan lokasi penelitian digunakan untuk melakukan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor keluarga dan rumah tangga, pemberian ASI, faktor pemberian makanan pendamping ASI, faktor infeksi, dan faktor komunitas dan sosial adalah beberapa penyebab stunting. Program penanggulangan stunting di Indonesia harus disesuaikan dengan penyebabnya. Untuk mengatasi stunting di Indonesia, disarankan untuk meningkatkan faktor keluarga dan rumah tangga, memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI sesuai kebutuhan, mencegah dan menangani infeksi, dan memperbaiki faktor sosial dan komunikasi.
Uji Teratogenik Ekstrak Etanol Biji Beligo (Benincasa Hispida (Thunb.) Cogn.) Pada Mencit Betina (Mus Musculus) Nur Alim; Sri Sulistyawati Anton; Rusman Hasanuddin; Muhammad Ihsan; Ni Ketut Sinarsih
Jurnal Yoga dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama kehamilan, janin dapat mengalami efek yang tidak dikehendaki dari penggunaan obat herbal dan kimia, terutama pada fase embrionik organogenesisTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana biji beligo (Benincasa hispida (Thunb.) Cogn.) mempengaruhi mencit betina (Mus musculus). Penelitian ini melibatkan pengujian teratogenik menggunakan 16 ekor mencit sebagai hewan uji dan ekstraksi melalui maserasi dengan pelarut etanol 70%. Hewan-hewan ini dibagi menjadi 4 kelompok. Pada kelompok perlakuan, ada tiga betina dan satu jantan dalam setiap kelompok. Kelompok 1 kontrol negatif diberi Na-CMC 1%, kelompok II, III, IV diberi ekstrak etanol biji beligo dengan dosis masing-masing 140 mg/kgBB, 280 mg/kgBB dan 420 mg/kgBB. Semua kelompok diberikan sediaan selama hari ke-6 sampai ke-15 masa kebuntingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji beligo memberikan efek penuh pada fetus mencit. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji beligo dengan dosis 140 mg/kgBB, 280 mg/kgBB, dan 420 mg/kgBB tidak memiliki efek teratogenik pada fetus mencit.