Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Perancangan Kawasan Rest Area Tipe A di Ruas Tol Semarang - Tegal Eko Yusmawan Widodo; Hetyorini; I Wayan Andhika Widiantara
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 15 No. 2 (2021): July 2021
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v15i2.152

Abstract

Tempat istirahat atau biasa disebut dengan Rest Area adalah suatu tempat dan fasilitas yang disediakan bagi pemakai jalan sehingga baik pengemudi, penumpang maupun kendaraannya dapat beristirahat untuk sementara karena alasan lelah. Di area inilah menjadi satu-satunya tempat untuk berhenti sesaat setelah mengemudi pada jarak jauh dengan kecepatan tinggi. Kawasan Rest Area Tipe A merupakan suatu kawasan yang digunakan sebagai tempat istirahat sementara dengan berbagai fasilitas lengkap yang bisa di perlukan saat berada pada jalur jalan tol. Adapun beberapa fasilitas yang tersedia yaitu tempat istirahat, tempat makan dan minum, tempat beribadah, tempat pengisian bahan bakar kendaraan dan lain-lain. Mempunyai fungsi fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pihak kalangan. Adapun fungsi dari berbagai kegiatan dan fasilitas yang di sediakan yaitu fasilitas utama yaitu sebagai tempat istirahat, fasilitas penunjang dan fasilitas servis dimana pengguna dapat menggunakan fasilitas yang ada seperti toilet, tempat ibadah berbagai tempat makan dan minum, taman, bengkel, fasilitas relaksasi, ataupun membeli keperluan selama perjalanan yang ada di pusat oleh-oleh/ minimarket. Fungsi ini menjadikan satu kesatuan dalam menciptakan sebuah Rest Area Tol yang layak dan memiliki fasilitas yang lengkap.Bangunan Kawasan Rest Area Tipe A di ruas Tol Semarang – Tegal yang berada di Kabupaten Pekalongan, menggunakan konsep Green Architecture dan Modern Minimalis.
Perancangan Gedung Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Arya Shanda Anwar; Astari Wulandari; Hetyorini
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 15 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v15i1.157

Abstract

Dunia pendidikan yang ada di Indonesia seiring perkembangan zaman mengalami berbagai perubahan dari waktu ke waktu, sehingga hal ini merubah pola pikir masyarakatnya untuk berubah menjadi lebih modern. Sebuah pendidikan sendiri juga tidak lepas dari pentingnya tempat atau infrastruktur yang mendukungnya, yaitu sebuah bangunan tempat belajar bagi para siswanya. Suatu Universitas sebaiknya memiliki sebuah gedung auditorium sendiri guna berfungsi sebagai pusat kegiatan yang melibatkan banyak orang, seperti kegiatan seminar, kegiatan wisuda, dan pertunjukan dari mahasiswa. Gedung Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 Semarang ini berfungsi untuk mewadahi aktifitas terkait kegiatan para civitas akademika yang melibatkan banyak orang dengan jumlah yang besar. Konsep bangunan auditorium khususnya adalah bangunan yang diharapkan mampu menampung segala kegiatan dan aktifitas acara-acara penting dan kemudian dapat diapreasikan sesuai dengan karakter dari kampus UNTAG sendiri.Pemilihan ragam arsitektur untuk bangunan Gedung Auditorium Univesitas 17 Agustus 1945 Semarang ini menggunakan penerapan arsitektur modern. Pengaplikasiannya dilakukan secara zoning, denah, sirkulasi, maupun fasad. Diharapkan rancangan ini berguna dan memberikan inspirasi bagi pembaca.
Perancangan Semarang Skirmish Sport Area Pebruariski Akbar Riyadi; Choirul Amin; Hetyorini
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 15 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v15i1.159

Abstract

Airsoft adalah sebuah olahraga permainan yang mensimulasikan kegiatan militer yang mengunakan replika senjata api yang di sebut airsoft gun. Permainan airsoft termasuk kategori permainan yang mahal, karena harga tiap unit dan perlengkapan lainnya cukup mahal. Airsoft tergolong dalam Skirmish Sport atau permainan perang-perangan yang memiliki beberapa macam permainan lainnya seperti Paintball, Nerf Skirmish, Laser Skirmish dan Archery Fun Game. Manfaat dari Skirmish Sport sendiri adalah untuk meningkatkan skill menembak, melatih fisik, memperdalam strategi pasukan militer atau kepolisian. Selain itu skirmish sport juga mempunyai manfaat bagi setiap komunitas airsoft dan masyarakat umum untuk bersosialisasi dan refreshing agar dapat memberikan suasana aktivitas yang baru dalam kaitannya olahraga dan rekreasi. Kegiatan skirmish sport ini diharapkan menjadi suatu olahraga dan rekreasi baru untuk masyarakat. Disamping sebagai bangunan gedung olahraga dan rekreasi, Semarang Skirmish Sport Area juga terdapat fungsi komersil yaitu terdapat showroom tempat pameran dan penjualan airsoft dan mainan nerf serta perlengkapan lain yang berhubungan dengan skirmish sport, ruang komunitas dan restaurant. Pemilihan ragam arsitektur untuk dalam perancangan Semarang Skirmish Sport Area adalah menggunakan Arsitektur Modern. Pengaplikasiannya dilakukan secara zoning, denah, sirkulasi, maupun fasad. Diharapkan rancangan ini berguna dan memberikan inspirasi bagi pembaca.
Konsep Beachwalk Pada Perancangan Pusat Perbelanjaan di Kabupaten Batang Ihsan Al Muzzammil; Djatmiko Waloejono; Hetyorini
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 14 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v14i2.167

Abstract

Kabupaten Batang memiliki panjang pesisir pantai ± 38,75 km yang membentang pada enam wilayah administrasi kecamatan (Kecamatan Batang, Kandeman, Tulis, Subah, Limpung, dan Gringsing). Pantai yang dimiliki Kabupaten Batang diantaranya adalah Pantai Buntu, Pantai Kuripan, Pantai Pelabuhan Perikanan, Pantai Jodo, Pantai Celong, Pantai Depok, Pantai Sigandu, dan Pantai Ujung Negoro dan lain-lain. Kegiatan perekonomian di Kabupaten Batang telah berkembang pesat seiring dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakatnya. Kondisi tersebut dapat dilihat dari banyaknya jenis sarana perbelanjaan yang ada baik dalam skala kecil maupun menengah seperti pertokoan, minimarket, pasar tradisional, pasar hewan. Pusat perbelanjaan dengan konsep Beachwalk adalah pusat perbelanjaan yang menerapkan konsep semi terbuka dengan memiliki bentuk berupa pedestrian mall, yaitu sebuah pusat perbelanjaan yang retail-retail dan fasilitas pendukungnya dihubungkan oleh pedestrian berupa koridor terbuka ataupun semi terbuka dan bebas dari kendaraan sehingga penataan bangunannya direncanakan mengelilingi area pedestrian, ditambah dengan pengolahan lansekap yang turut memanfaatkan panorama pantai dan lautan sebagai point utama sehingga menghasilkan suasana baru dalam hal berbelanja dan rekreasi bagi masyarakat. Penekanan desain Pusat Perbelanjaan dengan Konsep Beachwalk di Kabupaten Batang adalah dengan menerapkan konsep arsitektur tropis modern dengan olahan bentuk yang tidak monoton sebagai salah satu upaya untuk menciptakan citra bangunan yang rekreatif, entertaint, dan terbuka.
Perancangan Pondok Pesantren Modern Berbasis Keterampilan Membatik di Kabupaten Pekalongan Chaerul Huda; Loekman Mohammadi; Hetyorini
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 14 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v14i1.178

Abstract

Di beberapa kota besar Indonesia, sudah banyak beberapa bangunan sekolah maupun universitas yang berbasis keagamaan, termasuk beberapa wilayah yang memiliki sebuah bahkan beberapa bangunan pesantren. Kabupaten Pekalongan yang memiliki total penduduk berjumlah 880.092 jiwa dengan kepadatan mencapai 1.053 jiwa per kilo meter persegi yang mayoritas penduduknya beragama islam. Hal itu terbukti dengan adanya slogan bahwa Pekalongan adalah Kota Santri. Mengingat betapa pentingya pembangunan sebuah pesantren di Pekalongan dengan berbagai keterampilan yang ada di Pekalongan, sudah seharusnya jika Pekalongan memiliki sebuah pesantren modern yang tidak hanya berbasis keagamaan, namun juga keterampilan membatik. Bangunan Pondok Pesantren Modern Berbasis Ketrampilan Membatik di Kabupaten Pekalongan merupakan sebuah bangunan fasilitas pendidikan yang dirancang untuk mewadahi kegiatan edukasi (pendidikan) yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu sosial dan agama namun juga edukasi mengenai ketrampilan membatik. Konsep perancangan dari bangunan ini adalah menciptakan bangunan yang representatif sebagai tempat untuk belajar dan mendapat pengetahuan akan ilmu sosial dan agama serta bekal ketrampilan membatik. Pengaplikasiannya dilakukan secara zoning, denah, sirkulasi, maupun fasad. Diharapkan rancangan ini berguna dan memberikan inspirasi bagi pembaca.
Kajian Daya Dukung Tapak Gedung Radjawali Culture Center Semarang: Site Carrying Capacity Analysis of Semarang Radjawali Culture Center Building Hetyorini; Andi Purnomo
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 18 No. 2 (2024): July 2024
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v18i2.1611

Abstract

Salah satu aspek krusial dalam menilai kecukupan sebuah bangunan adalah daya dukung tapak. Studi ini mengkaji berbagai faktor seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Garis Sempadan Bangunan (GSB), Jumlah Lantai Bangunan (JLB), Koefisien Dasar Hijau (KDH), dan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesesuaian perancangan Gedung Radjawali Culture Center Semarang berdasarkan daya dukung tapak. Aplikasi hasil penelitian diharapkan dapat memecahkan permasalahan dalam persyaratan untuk mendapatkan legalisasi kelayakan bangunan yang sering terjadi pada proses pembangunan. Manfaat lainnya, kajian terhadap daya dukung tapak dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu tapak dalam menjamin kesesuaian dengan peraturan yang berlaku, kenyamanan pengguna bangunan, serta menjaga keselarasan dengan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan evaluasi KDB, Gedung Radjawali Culture Center memenuhi persyaratan setempat sebesar 50%. Evaluasi terhadap KLB dan JLB juga menunjukkan bahwa gedung ini mematuhi peraturan dengan memiliki 4 lantai dari maksimal 7 lantai yang diizinkan. Namun demikian, evaluasi terhadap GSB menunjukkan bahwa bagian samping gedung tidak memenuhi persyaratan karena berhimpit dengan pagar bangunan sebelah. Evaluasi terhadap KDH dan RTHP menunjukkan bahwa penanaman tanaman perlu diperbanyak untuk memenuhi ketentuan minimal yang ditetapkan.