Moh. Adib
Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Pontianak

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penggunaan Aerator, Soda Ash, dan Filtrasi dalam Menurunkan Kadar Fe Suharno Suharno; Mohammad Adib
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 3, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.296 KB) | DOI: 10.30602/jvk.v3i1.79

Abstract

Abstract: The Use Of Aerator, Soda Ash, And Filtration To Reduce Fe Level. Most people in Pontianak still use the well-pond water as the source of clean water everyday. High iron levels in ground water can cause people's reluctance to consume and can harm public heaLh. The purpose of this research was to determine the effectivity of air injection treatment (aerator), coagulant of Soda As and FiLration with shellfish in decreasing Fe content in well-pond water in Siantan Hulu Village. This research was a quasi experiment with one group pre-post design method. The resuLs were analyzed using t-test statistic. The resuLs of the study, the average of iron (Fe) level before treatment was 4.356 mg / L. Treatment of well-pond water source that qualified as clean water was by using 100 psi aerator + 10% soda ash, fiLering with 60 cm shell + gravel 10 cm, Manganese sand Zeolite 60 cm and 0,1 micron membrane which obtained resuL iron decrease to 0.948 mg/L. This was consistent with statistical test resuLs showing significant differences in iron content between before and after treatment (p = 0.000). In conclusion, well-pond water treatment method that can be applied was by using 100 psi aerator + 10% soda ash, fiLering with 60 cm shell + 10 cm gravel, 60 cm manganese zeolite and membrane 0,1 micronAbstrak: Penggunaan Aerator, Soda Ash, Dan Filtrasi Dalam Menurunkan Kadar Fe. Sebagian masyarakat Kota Pontianak masih memanfaatkan air sumur kolam sebagai sumber air bersih sehari-hari. Kadar besi yang tinggi dalam air tanah dapat menimbulkan keengganan masyarakat untuk konsumsi dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas perlakuan injeksi udara (aerator), pembubuhan bahan koagulan soda ash dan fiLrasi dengan media dari bahan kulit kerang. dalam menurunkan kadar Fe pada air sumur kolam di Wilayah Kelurahan Siantan Hulu. Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan metode one group pre-post design. Hasil dianalisis menggunakan uji statistik t-test. Hasil penelitian, rata-rata kadar besi (Fe) sebelum perlakuan adalah sebesar 4,356 mg/L. Perlakuan terhadap sumber air sumur kolam yang memenuhi syarat sebagai air bersih adalah dengan menggunakan aerator 100 psi + soda ash 10%, penyaringan dengan kulit kerang 60 cm + kerikil 10 cm, pasir Mangan Zeolit 60 cm dan membran 0,1 mikron dimana diperoleh hasil kadar besi turun menjadi 0,948 mg/L. Hal ini sesuai dengan hasil uji statistik yang menunjukkan adanya perbedaan kadar besi yang bermakna antara sebelum dan sesudah perlakuan (p=0,000). Simpulan pengolahan air sumur kolam yang dapat diaplikasikan adalah dengan menggunakan aerator 100 psi + soda ash 10%, penyaringan dengan media kulit kerang 60 cm + kerikil 10 cm, pasir Mangan Zeolit 60 cm dan membran 0,1 mikron.
Physical Environmental Factors and Maternal Behavioral Characteristics in Toddlers ARI Malik saepudin; Gebytri Nuraudia; Moh. Adib; Marvita; Windarti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang in collaboration with Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI Tingkat Pusat) and Jejaring Nasional Pendidikan Kesehatan (JNPK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v21i4.34995

Abstract

ISPA frequently occurs in toddlers, particularly in the North Putussibau area, which reports the highest cases. This research studies the association between physical environmental factors and behaviors with ISPA incidence among toddlers at the North Putussibau Community Health Center. Using a case control design, 64 participants were equally separated into patient and comparison categories. Data were examined applying the χ2 analysis, with significance assessed correlations were among ISPA incidence and dampness (p = 0.023), lighting (p = 0.024), floor type (p = 0.000), residential density (p = 0.048), use of mosquito repellent (p = 0.003), exposure to smoke (p = 0.023), mothers not covering their mouths when coughing (p = 0.007), delayed toddler care (p = 0.003), and mothers not wearing masks when ill (p = 0.024). No significant links were observed with ventilation, wall or roof type, open windows, mothers not washing hands after coughing, or burning trash near the house. These results suggest that both the home environment and maternal behaviors influence the occurrence of sudden breathing illnesses in the young.
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK SERAI DAPUR (Cymbopogon citratus) TERHADAP KEMATIAN JENTIK NYAMUK Aedes aegypti Rosmaya Eka Wati; Moh. Adib; Paulina
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 5 No 01 (2026): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Technology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v5i01.479

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Pengendalian nyamuk Aedes aegypti biasanya menggunakan beberapa metode yaitu pengendalian lingkungan, pengendalian biologi, pengendalian mekanik, pengendalian fisik dan pengendalian kimia. Adapun upaya pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengendalian kimia dengan menggunakan insektisida nabati yang lebih ramah lingkungan berupa tanaman serai dapur (Cymbopogon citratus) yang mengandung senyawa aktif seperti Flavonoid, Saponin, dan Tanin yang bersifat racun terhadap kematian jentik Aedes aegypti. Metode penelitian yang digunakan, yaitu eksperimental (quasi eksperimen) dengan desain Nonequivalent Posttest Only With Control Group Design. Pada desain tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang diuji dengan ekstrak serai dapur (Cymbopogon citratus) dan kelompok kontrol tanpa perlakuan, serta dilakukan lama kontak selama 24 jam. Hasil penelitian mengunakan uji Kruskal Wallis yang diketahui bahwa nilai p = 0,668 sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antar konsentrasi ekstrak yang digunakan terhadap jumlah kematian jentik. Konsentrasi yang paling efektif terdapat pada konsentrasi 0,2% dengan persentase kematian 95%. Kesimpulannya adalah ekstrak serai dapur (Cymbopogon citratus) efektif sebagai kematian jentik Aedes aegypti.
GAMBARAN KUALITAS UDARA DI RUANG RAWAT INAP KELAS III RUMAH SAKIT BERSALIN NABASA KOTA PONTIANAK Virda Alvika; Suharno Suharno; Moh. Adib
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 3 No 2 (2024): Journal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v3i2.342

Abstract

Kualitas udara ruang rumah sakit merupakan salah satu penyebab terjadinya infeksi nosokomial karena beberapa cara transmisi kuman penyebab infeksi dapat ditularkan melalui udara. Mikroba yang terdapat di udara merupakan salah satu faktor penentu kualitas udara di rumah sakit dari segi mikrobiologi. Jenis penelitian ini deskriptif, dilakukan dengan cara pengukuran angka kuman udara, suhu, kelembaban dan kejadian infeksi nosokomial pada pasien dan penunggu pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kualitas mikroba udara di ruang rawat inap kelas III Rumah Sakit Bersalin Nabasa Kota Pontianak. Hasil penelitian pemeriksaan angka kuman udara yaitu, pada ruang Agatha 25.098CFU/m³ dengan suhu (31ºC) dan kelembaban (61%), ruang Daniel 14.100CFU/m³ dengan suhu (27ºC) dan kelembaban (69%), ruang Ester 25.662CFU/m³ dengan suhu (31ºC) dan kelembaban (85%), ruang Martha 17.484CFU/m³ dengan suhu (30ºC) dan kelembaban (60%), dan ruang Sarah 18.048CFU/m³ dengan suhu (31ºC) dan kelembaban (43%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menggunakan kuesioner, tidak ada pasien yang menggambarkan kejadian infeksi nosokomial pada ruangan-ruangan yang telah diukur saat penelitian, karena rata-rata pasien yang di wawancara tidak lebih dari 48 jam. Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan bahwa variabel angka kuman, suhu dan kelembaban udara tidak memenuhi syarat sesuai peraturan yang telah ditetapkan yaitu Permenkes no 2 tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan.
GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KEPATUHAN PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA TENAGA KERJA BONGKAR MUAT (TKBM) IPC TERMINAL PETIKEMAS JASA KARYA PT PELINDO II DI PELABUHAN DWIKORA PONTIANAK Zora Alya Putri; Sunarsieh; Moh. Adib; Paulina; Susilawati
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 4 No 2 (2025): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v4i2.446

Abstract

Pada terminal petikemas terdapat berbagai hazard, seperti kejatuhan barang, terpeleset, terjepit, atau tertimpa alat berat yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sangat penting, mulai dari pelindung kepala, rompi keselamatan, sarung tangan, hingga sepatu keselamatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan kepatuhan penggunaan APD pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) kapal di Pelabuhan Dwikora Pontianak. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan jumlah sampel 67 TKBM IPC Terminal Petikemas. Penelitian dilaksanakan pada 20–22 Juni 2024. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan pekerja terkait APD tergolong baik pada 62 responden (92,5%) dan cukup pada 5 responden (7,4%). Sikap pekerja terkait APD menunjukkan 65 responden (97%) setuju dan 2 responden (2,9%) netral. Kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD diperoleh 65 responden (97%) patuh dan 2 responden (2,9%) tidak patuh. Kesimpulan penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan kepatuhan penggunaan APD pada TKBM di IPC Terminal Petikemas Pelabuhan Dwikora Pontianak tergolong baik. Disarankan pekerja mengikuti pelatihan, segera mengganti APD yang rusak, serta selalu menggunakan APD saat bekerja.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA PEKERJA PANEN PT PERKEBUNAN SAWIT MJP 11 NANGA MENTERAP SEKADAU Yuyun Dianti; Sunarsieh; Moh. Adib; Paulina; Malik Saepudin
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 4 No 2 (2025): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v4i2.447

Abstract

ABSTRAK Salah satu komponen penting dalam penerapan kesehatan dan keselamatan kerja adalah penyediaan serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). APD merupakan langkah terakhir dalam hierarki pengendalian risiko yang berperan penting mengurangi dampak bahaya di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD pada pekerja panen PT Perkebunan Sawit MJP 11 Nanga Menterap Sekadau dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 135 pekerja panen dengan sampel 60 orang yang diambil secara acak menggunakan rumus Slovin. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan 94,4% responden memiliki pengetahuan baik tentang APD, 56,7% memiliki sikap kurang baik, 51,7% melaporkan ketersediaan APD kurang, dan 56,7% menyatakan pengawasan kurang baik. Sebanyak 53,3% responden tidak patuh menggunakan APD. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan, namun terdapat hubungan signifikan antara sikap, ketersediaan APD, dan pengawasan dengan kepatuhan penggunaan APD. Perusahaan diharapkan memberi dukungan berupa penghargaan atau bonus bagi pekerja yang patuh serta sanksi, seperti peringatan tertulis atau pengurangan tunjangan, bagi pekerja yang melanggar.