Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Perbedaan Penggunaan Komposter An-Aerob dan Aerob Terhadap Laju Proses Pengomposan Sampah Organik Suharno; Slamet Wardoyo; Taufik Anwar
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 15 No. 3 (2021): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v15i3.527

Abstract

Masalah sampah pasar tradisional sebenarnya tidak terlalu susah, namun juga tidak sederhana, karena memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan sampah dari perumahan. Komposisi sampah pasar tradisional lebih dominan sampah organik yang dapat di daur ulang menjadi kompos atau pupuk organik. Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat diperlukan alat biakan berupa komposter dan menambahkan aktivator atau biang kompos. Tujuan penelitian ini yaitu enganalisis perbedaan penggunaan Komposter An-aerob dengan Komposter Aerob terhadap laju proses pengomposan sampah organik. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment), antara perlakuan (komposter Aerob) dengan kontrol (komposter An-aerob). Hasil menunjukkan kecepatan waktu pematangan kompos pada parameter perubahan warna bahan dan bau bahan kompos dengan komposter anaerob rata-rata kecepatan kematangan kompos sebesar 10,22 hari, sedangkan dengan komposter aerob rata-rata kecepatan kematangan kompos sebesar 9,89 hari. Berdasarkan uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test dengan α 5%, untuk parameter warna diperoleh tingkat signifikansi (p value) sebesar 0,006, sedangkan berdasarkan parameter bau diperoleh tingkat signifikansi (p value) sebesar 0,003. Dengan demikian ada perbedaan yang bermakna antara proses pengomposan dengan menggunakan komposter anaerob dengan komposter aerob
EFEKTIVITAS KOAGULAN BUBUK KAPUR DAN FILTRASI DENGAN METODE UP FLOW DAN DOWN FLOW UNTUK MENURUNKAN Fe Tedy Dian Pradana; Suharno Suharno; Ardan Kamarullah
Jurnal Kesmas (Kesehatan Masyarakat) Khatulistiwa Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Kesmas (Kesehatan Masyarakat) Khatulistiwa
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.373 KB) | DOI: 10.29406/jkmk.v5i1.1057

Abstract

Abstrak Penelitian ini menggunakan desain Quasi Experiment.Sampel berjumlah 36 sampel.Rancangan penelitian adalah pretest–posttest with control group design.Uji statistik yang digunakan yaitu Uji-T dengan tingkat kepercayaan 95%.Kadar Fe awal rata-rata yaitu sebesar 8,35 mg/l, Hasil uji T menunjukan ada perbedaan yang signifikan penurunan kadar besi (Fe) dalam air sumur gali menggunakan metode up flow nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 dan down flow sebesar 0,000 < 0,05. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan kadar besi (Fe)sebelum yaitu sebesar 5,50 mg/l dan sesudah filtrasi menggunakan media cangkang kerang, zeolit, dan karbon aktif dengan metode Up flow sebesar 0,67 mg/l dan down flow sebesar 0,88 mg/l. Efektifitas penurunan kadar besi (Fe) air sumur gali menggunakan metode Up Flowlebih besar yaitu 87,72 %, dibandingkan menggunakan metode Down Flow sebesar 84,06 %. Bagi masyarakat dan instansi terkait, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi mengenai metode sederhana dalam menurunkan kadar besi pada air sumur gali /air tanah.AbstractUsing quasi experimental method and pretest-posttest with control group design, this study employed 36 samples. The data were statically tested by using T-test with a vadility level of 95%. Diffeerence of Fe using coagulant method of 8,35 mg/l, the T test result indicated the there was a significant difference of Fe level reduction in dug wells by using up flow method (0,000<0,05) and down flow method (0,000<0,05). The study revealed that there was a difference of Fe level before filtration using coagilant lime fowder (5,50%) and after filtration using mussel shells, manganese zeolite, active carbon, and up flow method 0,67 mg/l and down flow method of 0,88 mg/l. The effevtiveness of fe level in dug wells by using up flowfiltration was 87,72% and down flow filtration was 84,06%.From the findings, the related institution may consider the findings of this study as the reference in reducing Fe level in dug wells by using simple method
The Killing Power of Areca Seed Extract (Areca catechu L.) in the Control of Cockroaches (Periplaneta americana) Haryati Wahyu Kusuma Pertiwi; Susilawati; Suharno
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v2i2.47

Abstract

Abstract. Cockroaches are one of the insects that can spread diseases such as dysentery, diarrhea, cholera, viral hepatitis. Therefore an insecticide that is safe for the environment is needed, one of which is areca seed (Areca caechu L.) which contains Polyphenols, Flavonoids, Tanins, and Alkaloids that are safe for the surrounding environment and do not leave high residues. The purpose of this study was to analyze the strength test to kill areca seed extract (Areca catechu L.) against cockroach populations. The research design used in this research is quasi experimental (Quasi Experimental), the sample in this study used 360 adult cockroaches (Periplaneta americana) measuring 3 cm. This study used the Mann-Whitney U test analysis to analyze the differences in the ability of areca seed extract (Areca catechu L.) in killing cockroach populations. The results showed that at a concentration of 100% it was more effective to kill cockroaches Periplaneta americana type because it can kill 91% of American perennial cockroaches within 24 hours. The conclusion of this study is that there are differences in concentration of areca catechu L. extract with variations of 80%, 90%, 100% where p = 0.000.
Efektivitas Limbah Rambut dalam Menurunkan Kadar Minyak Oli pada Air Limbah Bengkel Zainal Akhmadi; Suharno Suharno
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 3, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.066 KB) | DOI: 10.30602/jvk.v3i1.83

Abstract

Abstract: Effectiveness Of Hair Waste In Reducing Waste Oil Level In Waste Water Of Service Station. Waste service stations classified as B3 waste because they contain hazardous materials that may damage or pollute the environment or endanger human health.  The purpose is to determine the efficient design of wastewater treatment with the combination of hair waste as media capture and coconut shell charcoal as filtration media in reducing total oil in wastewater. This study is quasi-experimental. The independent variables include combinations of hair waste as media capture and coconut shell charcoal as filtration media with a thickness of 40 cm and 80 cm, while the dependent variable is the oil content in the wastewater. The location of research is motor vehicle repair shop Tire MTL jl. Wahid Hasyim, office Surya Pratama numbers 4-5 Pontianak. The content of the oil content of wastewater motor vehicle repair shop before treatment by an average of 26.466 mg / l and 4.283 mg / l of after treatment. From the results of these measurements that effectively amounted to 83.6%. Waste Water Treatment with a combination of hair waste and coconut shell charcoal as an effective filtration media for reduced total oil in wastewater for the motor vehicle repair shop.Abstrak: Efektivitas Limbah Rambut Dalam Menurunkan Kadar Minyak Oli Pada Air Limbah Bengkel. Limbah bengkel digolongkan sebagai limbah B3 karena mengandung bahan berbahaya yang dapat merusak atau mencemari lingkungan atau membahayakan kesehatan manusia. Tujuan penelitian adalah menentukan desain efektivitas pengolahan air limbah dengan kombinasi limbah rambut capture media dan arang tempurung kelapa sebagai media filtrasi dalam mengurangi minyak total dalam air limbah. Penelitian ini merupakan kuasi-eksperimental. Variabel bebas mencakup kombinasi dari limbah rambut capture media dan arang tempurung kelapa sebagai media filtrasi dengan ketebalan 40 cm dan 80 cm, sedangkan variabel dependen adalah kandungan minyak dalam air limbah. Lokasi penelitian adalah kendaraan bermotor bengkel ban MTL Jl. Wahid Hasyim, Kantor Surya Pratama Nomor 4-5 Pontianak. Isi kandungan minyak dari air limbah kendaraan bermotor bengkel sebelum pengobatan dengan rata-rata 26,466 mg / l dan 4,283 mg / l dari setelah perawatan. Dari hasil pengukuran ini yang efektifitas sebesar 83,6%. Limbah Pengolahan Air dengan kombinasi limbah rambut dan arang tempurung kelapa sebagai media filtrasi efektif total minyak berkurang dalam air limbah untuk kendaraan bermotor bengkel.
Pengolahan Limbah Cair Tahu Untuk Menurunkan Kadar TSS Dan BOD Tedy Dian Pradana; Suharno Suharno; Apriansyah Apriansyah
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.073 KB) | DOI: 10.30602/jvk.v4i2.9

Abstract

Abstract: Tofu Liquid Waste Processing System Using Aeration And Filtrasi To Lower Levels Of TSS And BOD . The level of TSS and BOD of tofu wastewater in tofu industry in Tebas Subdistrict has exceeded the standard, is TSS = 1320 mg/L in NAB = 200 mg/L and BOD = 161 mg/L in NAB = 150 mg/L. The industrial liquid waste of tofu contains organic substances 40% -60% protein, 25% -50% carbohydrate, 10% fat and other suspended solids in nature can undergo physical, chemical and biological changes that will produce toxic substances. The purpose of this study in to know effectiveness of liquid waste processing know with aeration and filtration process to lower TSS and BOD levels in tofu wastewater. This research is Quasi Experimental with design One Group Pretest-Posttest.. The research sample is 24 samples with 6 repetitions. Statistical test used Paired Sample T-Test with 95% cofidence level. The test results showed the effectiveness of significant decrease in TSS and BOD levels before treatment was given after treatment with aeration and filtration with TSS (p=0,000 <α=0,05) and BOD p=0,000 <α=0.05).Abstrak: Pengolahan Limbah Cair Tahu Untuk Menurunkan Kadar TSS Dan BOD. Kadar TSS dan BOD limbah cair tahu di industri rumah tangga tahu di Kecematan Tebas sudah melebihi standar, yaitu  TSS = 1320 mg/L dengan NAB = 200 mg/L dan BOD = 161 mg/L dengan NAB = 150 mg/L. Limbah cair industri tahu mengandung zat-zat organik yaitu protein 40%-60%, karbohidrat 25%-50%, lemak 10% dan padatan tersuspensi lainnya yang di alam dapat mengalami perubahan fisika, kimia dan hayati yang akan menghasilkan zat toksik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pengolahan limbah cair tahu menggunakan sistem aerasi dan filtrasi untuk menurunkan kadar TSS dan BOD pada limbah cair tahu. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Eksperimental dengan model One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian sebanyak 24 sampel dengan 6 kali pengulangan. Uji statistik yang digunakan Paired Sample T-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji menunjukan adanya efektifitas penurunan kadar TSS dan BOD yang signifikan sebelum diberikan perlakuan dengan sesudah diberi perlakuan aerasi dan filtrasi dengan hasil TSS yaitu (p=0,000 < α=0,05) dan BOD (p=0,000 < α=0,05).
Penggunaan Aerator, Soda Ash, dan Filtrasi dalam Menurunkan Kadar Fe Suharno Suharno; Mohammad Adib
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 3, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.296 KB) | DOI: 10.30602/jvk.v3i1.79

Abstract

Abstract: The Use Of Aerator, Soda Ash, And Filtration To Reduce Fe Level. Most people in Pontianak still use the well-pond water as the source of clean water everyday. High iron levels in ground water can cause people's reluctance to consume and can harm public heaLh. The purpose of this research was to determine the effectivity of air injection treatment (aerator), coagulant of Soda As and FiLration with shellfish in decreasing Fe content in well-pond water in Siantan Hulu Village. This research was a quasi experiment with one group pre-post design method. The resuLs were analyzed using t-test statistic. The resuLs of the study, the average of iron (Fe) level before treatment was 4.356 mg / L. Treatment of well-pond water source that qualified as clean water was by using 100 psi aerator + 10% soda ash, fiLering with 60 cm shell + gravel 10 cm, Manganese sand Zeolite 60 cm and 0,1 micron membrane which obtained resuL iron decrease to 0.948 mg/L. This was consistent with statistical test resuLs showing significant differences in iron content between before and after treatment (p = 0.000). In conclusion, well-pond water treatment method that can be applied was by using 100 psi aerator + 10% soda ash, fiLering with 60 cm shell + 10 cm gravel, 60 cm manganese zeolite and membrane 0,1 micronAbstrak: Penggunaan Aerator, Soda Ash, Dan Filtrasi Dalam Menurunkan Kadar Fe. Sebagian masyarakat Kota Pontianak masih memanfaatkan air sumur kolam sebagai sumber air bersih sehari-hari. Kadar besi yang tinggi dalam air tanah dapat menimbulkan keengganan masyarakat untuk konsumsi dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas perlakuan injeksi udara (aerator), pembubuhan bahan koagulan soda ash dan fiLrasi dengan media dari bahan kulit kerang. dalam menurunkan kadar Fe pada air sumur kolam di Wilayah Kelurahan Siantan Hulu. Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan metode one group pre-post design. Hasil dianalisis menggunakan uji statistik t-test. Hasil penelitian, rata-rata kadar besi (Fe) sebelum perlakuan adalah sebesar 4,356 mg/L. Perlakuan terhadap sumber air sumur kolam yang memenuhi syarat sebagai air bersih adalah dengan menggunakan aerator 100 psi + soda ash 10%, penyaringan dengan kulit kerang 60 cm + kerikil 10 cm, pasir Mangan Zeolit 60 cm dan membran 0,1 mikron dimana diperoleh hasil kadar besi turun menjadi 0,948 mg/L. Hal ini sesuai dengan hasil uji statistik yang menunjukkan adanya perbedaan kadar besi yang bermakna antara sebelum dan sesudah perlakuan (p=0,000). Simpulan pengolahan air sumur kolam yang dapat diaplikasikan adalah dengan menggunakan aerator 100 psi + soda ash 10%, penyaringan dengan media kulit kerang 60 cm + kerikil 10 cm, pasir Mangan Zeolit 60 cm dan membran 0,1 mikron.
Perilaku Penerapan Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan Covid-19 Pada Pedagang di Pasar Rakyat Kedungmaling Kabupaten Mojokerto Achmad Rizka Khadori; Suprijandani; Ferry Kriswandana; Suharno
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 21 No. 2 (2023): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v21i2.39

Abstract

Penyakit COVID-19 menjadi tantangan bagi dunia kesehatan, termasuk di Indonesia yang masih menunjukkan peningkatan kasus setiap harinya. Penularan COVID-19 paling banyak terjadi di tempat-tempat umum, salah satunya pasar tradisional. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan protokol kesehatan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya guna mengurangi dan memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku penerapan protokol kesehatan pada pedagang di Pasar Rakyat Kedungmaling Kabupaten Mojokerto Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode observasional. Data dianalisis dengan secara deskriptif yang disajikan dalam bentuk narasi, tabel, dan gambar. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Pengumpulan data diperoleh dari data kuesioner yang telah diisi oleh responden dan lembar observasi yang telah diisi oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pedagang baik sebesar 50%. Sikap pedagang memiliki sikap baik sebesar 60,4%. Ketersediaan sarana dan prasarana di pasar memiliki sarana dan prasarana yang baik sebesar 80%. Dukungan keluarga dan tokoh masyarakat hingga pedagang memiliki dukungan yang baik sebesar 60,4%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perilaku pedagang dalam menerapkan protokol kesehatan sudah baik, namun masih ada pedagang yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Hal ini direkomendasikan kepada pengelola pasar yaitu melakukan penyuluhan dan edukasi terkait penerapan protokol kesehatan dan menyediakan fasilitas POS pelayanan kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit COVID-19.
Evaluation of Manganese (Mn) and Cadmium (Cd) Heavy Metal Content in Staple Foods Based on Food Sources and Environmental Conditions in Pregnant Women in Sambas Regency, Indonesia Taufik Anwar; Slamet; Supriyanto; Cecep Dani Sucipto; Suharno
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 2 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i2.268

Abstract

Exposure to heavy metals, particularly Manganese (Mn) and Cadmium (Cd), in staple foods is a serious health issue for pregnant women in Sambas Regency, Indonesia. This study aims to evaluate the content of Mn and Cd in staple foods and environmental factors that influence exposure in pregnant women. The method used was an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 93 pregnant women selected by purposive sampling. Data were collected through structured interviews and laboratory analysis using atomic absorption spectrometry. The results showed that the average level of Mn in rice was 7.37 mg/kg, while the average level of Cd was 0.056 mg/kg. A total of 68.8% of respondents obtained their rice from local markets, potentially increasing the risk of heavy metal exposure. In addition, 87.1% of respondents reported using house paint, which could be an additional source of exposure. Conclusions from this study emphasise the need for closer monitoring of food quality and education on the dangers of heavy metal exposure for pregnant women, as well as the need for further research to understand the cumulative impact of multi-metal exposure in the context of pregnancy.