Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT AL-GHAZALI Moh. Shofan
TAZKIYAH Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : STAI AL-AULIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.434 KB)

Abstract

Pendidikan merupakan komponen penting dalam kehidupan. Hal ini menjadi pembahasan para ulama tak terkecuali Imam al-Ghazali. Untuk itu, penelitian ini membahas pendidikan Islam dalam perspektif al-Ghazali. Hasil penelitian ini adalah bahwa pendidikan menurut Al Ghazali menekankan pada pendidikan agama dan akhlak. Menurutnya pengertian dan tujuan pendidikan Islam yaitu pendidikan yang berupaya dan bertujuan dalam proses pembentukan insan paripurna. Namun, Al-Ghazali sangat minim menekankan pendidikan intelek dalam arti yang sesungguhnya, dan kurang melatih akal pikiran manusia untuk bertindak aktif, dinamis dan kreatif. Al-Ghazali membatasi secara ketat pengertian akhlaq pada pendidikan batin dan penanaman ajaran yang bersifat normatif, maka hal tersebut menurut pendapat penulis hanya akan melahirkan kesalehan normatif dan miskin terhadap persoalan-persoalan krusial yang berkembang dengan cepat akibat arus globalisasi, baik globalisasi dalam bidang sosial, politik, ekonomi atau lainnya
ETIKA PROFETIK :UPAYA MENTRANSENDENSIKAN ILMU-ILMU SOSIAL Moch Shofan
DIDAKTIKA AULIA Vol. 1 No. 1 (2021): JURNAL PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : STAI AL-AULIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.275 KB)

Abstract

Sejarah pertumbuhan gerakan pembaruan Islam di Indonesia sudah berjalan hampir satu abad. Selama rentang waktu itu banyak terjadi perubahan, baik yang bersifat sosial, politik, ekonomi maupun perubahan sikap dan pandangan hidup umat Islam yang disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan masa dan situasi politik yang penuh gejolak dan pergolakan. Pola, sasaran dan unsur-unsur gerakan pembaruan tersebut sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ini. Perubahan ini sebenarnya bagian dari proses revolusioner apa yang secara metaforis disebut sebagai—meminjam istilah Alvin Toffler—"gelombang" perubahan dalam menciptakan peradaban baru. Oleh karena itu mau tidak mau peran-peran keagamaan perlu ditinjau ulang dan direvitalisasi. Masalahnya di sini adalah agama yang pada awalnya diyakini sebagai wahyu Tuhan yang transhistoris, dipandang ramah dan sejuk, ketika berkembang dan menyebar, yang mengemuka adalah agama sebagai kekuatan kolektif-komunal dan institusional yang sarat dengan agenda ideologis yang selalu terlibat dalam situasi persaingan. Kita mesti mengembalikan fungsi agama dengan cara melakukan—meminjam istilah Kuntowijoyo—obyektifikasi, agar ia benar-benar bermanfaat untuk seluruh umat manusia, tak hanya memenuhi keinginan eksklusif sebagian kaum beragama tertentu untuk menegaskan identitasnya. Tulisan ini membincang tentang peran agama serta agenda penting ke depan karena agama diakui memiliki peran transformatif bagi proses sosial, kultural, ekonomi, dan politik di masa depan, sehingga tampil sebagai nilai-nilai yang dapat diterima semua orang lepas dari latar belakangnya.
PEMIKIRAN IBNU KATSIR TENTANG PENDIDIKAN AKHLAK Moh. Shofan
DIDAKTIKA AULIA Vol. 1 No. 2 (2021): JURNAL PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : STAI AL-AULIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.087 KB)

Abstract

Pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencetak muslim yang ahli ibadah saja melainkan juga seorang yang shaleh untuk dirinya dan bermanfaat untuk orang lain. Melahirkan manusia yang peduli, atentif, memiliki perhatian, produktif dan solutif. Dalam penyajian materi pendidikan, Al-Quran membuktikan kebenaran materi tersebut melalui pembuktian-pembuktian, baik dengan argumentasi-argumentasi yang dikemukakannya maupun yang dapat dibuktikan sendiri oleh manusia (peserta didik) melalui penalaran. Dalam pandangan Ibn Katsir, seorang guru dalam mendidik tidak boleh berorientasi pada hal-hal yang bersifat ekonomi, karena mendidik itu tidak dapat disejajarkan dengan kegiatan-kegiatan tersebut, oleh karena itu seorang guru dalam kegiatan pembelajarannya harus mendedikasikan untuk tujuan lillahi ta’ala. Tulisan ini, hendak membahas Pemikiran Ibnu Katsir tentang Pendidikan akhlak. Ibnu Katsir dipilih penulis dalam kajian pemikiran terhadap sebuah konsepsi pendidikan akhlak dengan mempertimbangkan kualitas penokohan. Di satu sisi, secara kualitas penokohan, ia adalah ilmuan yang menghabiskan masa hidupnya dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan agama yang disalurkan dengan bentuk keilmuan dan dibuktikan dengan banyaknya buku yang ia karang. Di sisi lain, secara sosial-politik, pergesekan pemahaman masyarakat di masanya turut mempengaruhi pemikirannya dalam menulis buku sejarah maupun tafsir. Secara ideologis, masyarakatnya terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok ekstrimis dan kelompok rasionalis.
Pengantar Redaksi: Fenomena Hijrah Generasi Milenial (Kontestasi Narasi-Narasi Agama di Ruang Publik) Moh Shofan
MAARIF Vol 17 No 2 (2022): Fenomena Hijrah Generasi Milenial (Kontestasi Narasi-Narasi Agama di Ruang Publi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v17i2.190

Abstract

Artikel-artikel dalam jurnal ini secara umum melihat secara kritis fenomena hijrah, baik di kalangan artis maupun di kalangan anak-anak muda millennial. Secara umum gerakan hijrah menawarkan hal positif sebagai upaya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Akan tetapi, gerakan ini juga dilihat memiliki kerentanan terhadap ekslusivisme. Hijrah yang banyak dijumpai di berbagai kota cenderung sebatas perubahan kebiasaan hidup menjadi lebih Islami saja bahkan mengarah pada pembentukan pola pikir jumud dan intoleran. Justru mereka terjebakpada klaim merasa ’paling hijrah’, namun merendahkan sesama umat yang melakukan amalan yang berbeda dengan kelompoknya atau pemahamannya saja.
Mewarisi Legacy Buya Ahmad Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan Moh Shofan
MAARIF Vol 18 No 1 (2023): Mewarisi Legacy Buya Ahmad Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel-artikel dalam jurnal ini secara umum melihat secara kritis pemikiran Buya—pasca wafatnya beliau setahun yang lalu—terutama mengenai isu isu keummatan, kebangsaan, kemanusiaan, dan sosial-politik-keagamaan. Tema yang diangkat dalam jurnal ini juga menandai satu tahun wafatnya Buya Syafii, sekaligus menyambut dua dekade MAARIF Institute, sebuah lembaga yang concern terhadap isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Sejak awal berdirinya, MAARIF Institute telah berkomitmen menjadi salah satu tenda bangsa yang bergerak untuk kerja-kerja kemanusiaan, merawat kebhinekaan, mendorong penegakan HAM, memperjuangkan kebebasan beragama, mengkampanyekan watak dan ciri khas Islam Indonesia sebagai agama rahmatan li al-alamin, inklusif, toleran, egaliter dan non-diskriminatif, yang memiliki kesesuaian dengan demokrasi yang berpihak kepada keadilan sosial, sebagaimana dicita-citakan oleh Buya Syafii Maarif.
Membumikan Gagasan Besar Buya Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan Moh. Shofan
MAARIF Vol 18 No 1 (2023): Mewarisi Legacy Buya Ahmad Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v18i1.209

Abstract

Buya Syafii Maarif bukan hanya dikenal sebagai seorang cendekiawan, guru bangsa dengan kepribadian yang humanis, tetapi juga dikenal sebagai seorang sejarawan yang kritis, mantan Ketua PP Muhammadiyah (1998-2005) dan salah satu ikon intelektual Islam gelombang pertama di Indonesia. Tak diragukan lagi, pemikiran dan karya intelektualnya memiliki pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia. Pemikiran-pemikirannya tentang isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan, telah membuka pintu gerbang cakrawala keilmuan bagi para penerus bangsa. Sebagai seorang cendekiawan yang selalu menganjurkan “kemerdekaan berpikir”, dimensi kreatif pikiran Buya Syafii, merambah semua wilayah dengan suatu keyakinan penuh, yakni mengubah kemapanan yang membelenggu kreatifitas pemikiran manusia ke arah suatu “kemajuan” melalui trilogi Pembaruan: Keislaman, Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Untuk merealisasikan gagasan-gagasan Buya Syafii yang concern terhadap isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan, maka pada 28 Februari 2003 didirikan lembaga MAARIF Institute for Culture and Humanity di Jakarta. Berdirinya MAARIF Institute tidak dapat dipisahkan dari gagasan besar Buya Syafii, sehingga nama Maarif digunakan sebagai nama lembaga. Pendirian MAARIF Institute tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Jalan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif Dakwah Kultural, Puisi Kebangsaan dan Inspirasi Kemanusiaan Shofan, Moh.
MAARIF Vol 18 No 2 (2023): Jalan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif: Dakwah Kultural, Puisi Kebangsaan dan Insp
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel-artikel dalam jurnal MAARIF edisi Desember 2023 ini secara umum merefleksikan sekaligus menelaah secara kritis pemikiran Buya—terutama mengenai isu isu keummatan, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Sejumlah artikel dalam jurnal ini tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Tema yang diangkat dalam jurnal ini juga menandai satu tahun wafatnya Buya Syafii, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan dua dekade MAARIF Institute.