Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KEARIFAN LOKAL PADA BANGUNAN RUMAH VERNAKULAR DI BENGKULU DALAM MERESPON GEMPA Studi Kasus: Rumah Vernakular di Desa Duku Ulu Triyadi, Sugeng; Sudradjat, Iwan; Harapan, Andi
Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 2, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Merdeka Malang University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v2i1.1366

Abstract

Bengkulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk dalam kategori rawan terhadap gempa. Hal ini disebabkan Bengkulu letaknya dekat dengan lempengan Indo-Australia yang merupakan lempeng yang paling aktif bergerak. Gempa terakhir yang terjadi di Bengkulu adalah tahun 2007 yang berkekuatan lebih dari 7 SR. Rumah tinggal merupakan hal yang menjadi perhatian dan yang cukup banyak rusak ketika terjadi gempa di Bengkulu. Dari berbagai hasil studi pengamatan yang dilakukan selama ini, terdapat suatu keunikan, yaitu bangunan rumah tinggal yang banyak rusak adalah bangunan rumah dengan sistem struktur dan konstruksi modern-konvensional, sedangkan bangunan vernakular setempat tetap berdiri. Bangunan vernakular secara teori tebukti mempunyai potensi-potensi lokal karena bangunan tersebut dibangun melalui proses trial error termasuk terhadap kondisi lingkungannya. Fenomena inilah yang dijabarkan dalam tulisan ini, tujuannya untuk menemukenali berbagai potensi lokal yang berkaitan dengan respon terhadap gempa pada rumah vernakular di Bengkulu sehingga dapat menjadi masukan dan bahan kajian untuk proses pembangunan rumah khususnya pada masyarakat di daerah Bengkulu.
PENATAAN DUSUN GERUPUK SEBAGAI KAWASAN WISATA KULINER DAN BAHARI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DENGAN PENDEKATAN COMMUNITY ENGAGEMENT STRATEGY Harapan, Andi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:.Dusun Gerupuk of Desa Sukadana, Lombok Island, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, has rich natural resources and a strong local community. The natural resources are seashore, fishery, and food processing. Yet, these potentials have not been properly managed. The people of Lombok – and Indonesia – still do not aware about these natural resources.The research has been conducted to map the various natural resources in Dusun Gerupuk and to redevelop it with sustainable development design approach in order to utilize the potential of this hamlet. This research is a part of a major research on development in Mandalika Special Economic Zone (KPML) which located near of Dusun Gerupuk. Methods used in this research are field research, potential mapping and interviewing local community in Dusun Gerupuk.Keyword: Dusun Gerupuk, local wisdom, community engagement strategy  Abstrak: Dusun Gerupuk merupakan bagian dari Desa Sukadana, yang mempunyai potensi alam dan masyarakat lokal, tetapi belum terolah dengan baik. Salah satu potensi alam yang dimiliki dusun  ini adalah potensi pantai dan pengolahan makanan hasil laut. Sayangnya berbagai ptensi ini belum diketahui oleh masayarakat baik di Lombok, maupun di Indonesia. Untuk itulah riset ini dilakukan untuk memetakan berbagai potensi dan membuat desain Dusun dengan pendekatan yang berkelanjutan dan memanfaatkan potensi dusun tersebut. Tulisan ini merupakan bagian dari riset besar yang dilakukan dalam penataan kawasan Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Adapun metode yang dilakukan untuk riset ini adalah melalui metode gabungan yang menerapkan kajian teori, field research dan mapping terhadap potensi kawasan, serta dilakukan wawancara dan FGD dengan masyarakat di area tersebut.Kata Kunci: Dusun Gerupuk, Kearifan Lokal, Community Engagement Strategy
SISTEM SAMBUNGAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL DI KAMPUNG PULO, JAWA BARAT Harapan, Andi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Kampong Pulo in West Java has a unique characteristic of it’s traditional building that can be showed the building shape, material and joint system, which be divided into lower system, middle system, and upper system. The lower system is included the foundation (included column untuk floor) and floor, the middle system is included wall frame, door & window, and the upper system is included ceiling (and its frame) and roof. Based on this reaseach we found that traditional building in Kampong Pulo is not depends on theory and principle of building but adjusting it with the circumstance and climate around it.The observation is focused on three building aspects: form and configuration, material and dimension, and detail of joint system for all the building system (lower, middle, and upper). This observation created to map construction joint system for traditional building in Kampong Pulo, West Java Keywords: Kampong Pulo, joint system of construction, traditional house, West Java.  Abstrak: Bangunan rumah tradisional di Kampung Pulo, Jawa Barat mempunyai karakteristik yang unik, yang dapat dilihat dari sistem konstruksi bangunannya, yang meliputi sistem bagian bawah, tengah dan atas. Bagian bawah meliputi fondasi dan lantai, bagian tegah meliputi rangka dinding, pintu dan jelndela, sedangkan bagian atas meliputi langit-langit dan atap. Pembahasan penelitian dilihat dari tiga aspek, yaitu: aspek bentuk dan konfigurasi, material dan dimensi, detail sistem sambungan konstruksi. Karakteristik dari bangunan tradisional yakni tidak menerapkan teori atau prinsip bangunan akan tetapi menyesuaikan dengan lingkungan dan iklim yang ada. Dari penelitian ini dapat membuka ruang pengembangan sistem sambungan konstruksi yang dapat diterapkan pada bangunan sederhana terutama yang menggunakan struktur dan konstruksi kayu dan memberikan ruang untuk pengembangan bangunan-bangunan tradisional yang dilindungi/diproteksi oleh Pemda setempat khususnya Jawa Barat terhadap keberadaan sistem sambungan tradisional. Kata Kunci: Kampung Pulo, sistem sambungan konstruksi, rumah tradisional, Jawa Barat.
PENGARUH LOKASI BANGUNAN TERHADAP BENTUK DAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL DI JAWA BARAT Harapan, Andi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:. West Java has so many topographical area, such as highland (mountain), low land (valley) and coastal area. All of these areas have differently influenced the typology of building system, which coming from their knowledge of local material, cultures, and technology, which have been delivered from their generation.  The knowledge has been developed by times with trial and error process and become the local knowledge of this area (specific area). This paper will be elaborating the buildings (houses) on this 3 topographical area, with focusing on 3 systems of the building (house): lower, upper, and middle system. 3 parts of these building have been observed and created to propose the mapping of construction joint system. On this paper, the map of contraction system (which related to the area) has been explored on 3 traditional villages in West Java: Panjalin village at Majalengka District (located at coastal area), Cikondang village at Bandung District (located at highland area), and Mahmud Village at Bandung District (located at lowland area).Abstrak: Jawa Barat mempunyai geografis yang beragam, terdiri dari area pantai, dataran tinggi (pegunungan) dan dataran rendah. Kondisi geografis yang beragam ini, dihuni oleh masyarakat Jawa Barat yang memberikan ciri khas tersendiri dimana kehidupan tersebut berada, khususnya untuk masyarakat perkampungannya. Uniknya di Jawa Barat terdapat berbagai jenis bangunan tradisional yang mencirikan masyarakatnya, misalnya bangunan tradisional masyarakat di pantai, bangunan tradisional masyarakat di dataran rendah, dan bangunan tradisional masyarakat di dataran tinggi (pegunungan). Untuk itu, pada tulisan ini dilakukan pemetaan bangunan tradisional yang mewakili ketiga area tersebut, dengan melakukan pengamatan dan pengukuran bangunan. Pemetaan dilakukan pada 3 (tiga) lokasi yaitu kampung Panjalin–kabupaten Majalengka (yang mewakili area pantai), Kampung Cikondang–Kabupaten Bandung (yang mewakili area dataran tinggi (pegunungan), dan kampung Mahmud–Kabupaten Bandung (yang mewakili area dataran rendah). Setiap area mempunyai keunikan tersendiri, tetapi juga mempunyai persamaan, seperti konfigurasi bangunan, bentuk fisik bangunan, material, dll, tetapi ada juga perbedaan diadalam dimensi dan beberapa detail bangunan.
Perkembangan Tipologi Rumah Vernakular dan Responnya terhadap Bahaya Gempa Studi Kasus: Desa Duku Ulu, Bengkulu sudrajat, Iwan; Triyadi, Sugeng; Harapan, Andi
Jurnal Permukiman Vol 5 No 3 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.107-115

Abstract

Desa Duku Ulu, Bengkulu merupakan salah satu desa tua di Kabupaten Rejang Lebong, yang sudah sering mengalami kejadian gempa yang menyebabkan banyak bangunan yang rusak (ringan, sedang, dan berat). Uniknya terdapat beberapa bangunan vernakular khas daerah tersebut yang masih bert ahan (hanya mengalami rusak kecil). Sayangnya kelebihan ini tidak dipotensialkan oleh masyarakat, perkembangan bangunan yang muncul sekarang justru banyak mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi adalah perubahan bentuk, sistem struktur, material yang digunakan, dan sistem konstruksi (sambungan). Terdapat 5 tipologi bangunan vernakular di desa ini yang merupakan hasil perkembangan bangunan yang ada. Tipologi 1 merupakan rumah lama masyarakat Rejang (yang keberadaannya sudah sangat jarang, yang dinyatakan masyarakat sebagai rumah paling tua di Rejang Lebong, yang terbuat dari kayu yang dibangun sekitar tahun 1800-an). Tipologi 2 merupakan perkembangan dari tipologi 1 tetapi dengan bentuk yang lebih sederhana (hanya tinggal 5 bangunan). Tipologi 3 merupakan tipologi kolonial, yang pembangunannya dibantu oleh Belanda sekitar tahun 1924. Tipologi 4 merupakan tipologi yang dibangun oleh tukang dari Sungai Musi (Palembang), yang dibangun sekitar tahun 1980-an. Tipologi yang terakhir adalah tipologi 5 yang banyak dikembangkan oleh penduduk yang dibangun tahun 1990-an. Perubahan bentuk yang terjadi menunjukkan perkembangan bangunan rumah vernakular kearah pengurangan terhadap respon gempa, yang dapat dilihat dari bentuk bangunan, sistem struktur bangunan, material yang digunakan, dan sistem konstruksi (sambungan). Gempa yang seharusnya menjadi indikator peningkatan pengetahuan lokal penduduk untuk merespon gempa justru tidak terjadi. Kejadian gempa menyebabkan semakin buruknya respon bangunan terhadap resiko gempa. Tidak heran ketika gempa tahun 1979, 1997, dan 2000 banyak bangunan rumah vernakular tersebut yang rusak berat. Hilangnya kemampuan penduduk disebabkan oleh 3 faktor, yaitu: 1) semakin berkurangnya ahli (tukang) yang membangun bangunan, 2) susahnya mencari material kayu, 3) budaya instan, yang ingin cepat membangun rumah.
Aplikasi Metode Performance Metrics untuk Menjamin Kinerja Daur Hidup Bangunan Harapan, Andi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 10 No. 2 (2021): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.99 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v10i02.29

Abstract

Kinerja sebuah bangunan sering menjadi permasalahan yang sulit untuk didefinisikan dan diukur. Berbagai usaha dan metode dapat dilakukan untuk menjamin kinerja bangunan, salah satu caranya adalah melalui konsep kinerja bangunan yang terpadu dengan menggunakan metode performance metrics. Di dalam metode ini dinyatakan bahwa untuk mencapai berbagai hal yang diinginkan terhadap bangunan tersebut, seperti bangunan hemat energi, bangunan yang ramah lingkungan, dan lain-lain, penerapannya harus melalui kajian yang terpadu terhadap daur hidup bangunan. Makalah ini akan membahas apa yang disebut dengan konsep kinerja bangunan yang terpadu dan berbagai faktor di dalamnya sebagai upaya untuk mendukung kinerja bangunan yang berkelanjutan. Dijabarkan dua metode yang paling sering digunakan untuk menjamin kinerja bangunan, yaitu metode metrics yang dikembangkan oleh Hitchock dan metode daur hidup bangunan yang dikembangkan oleh Preiser. Kedua metode ini berdasarkan hasil studi yang dilakukan saling melengkapi dan seharusnya digunakan secara bersamaan, yaitu untuk menjamin kinerja bangunan secara menyeluruh harus menggunakan metode yang dijabarkan oleh Preiser, di mana bangunan bangunan harus dilihat secara keseluruhan tahapan yang dilakukan. Setiap tahapan memiliki variabel pendukung, sehingga di dalam setiap tahapan masing-masing variabel tersebut perlu diukur melalui sebuah ukuran (metrics), seperti yang dinyatakan oleh Hitchock, sehingga kinerja bangunan dapat diwujudkan secara objektif.