Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN GULA DAN SUHU PENYAJIAN TERHADAP NILAI GISI MINUMAN TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Andriani, Martina; Amanto, Bambang Sigit; Gandes, Gandes
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.263 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13542

Abstract

Teh hijau merupakan salah satu produk teh yang banyak dikonsumsi masyarakat karena banyakmengandung senyawa polifenol yang termasuk kelompok flavanoida seperti katekin (tanin). Sifat katekin teh iniberhubungan erat dengan pembentukan warna, rasa dan aroma teh yang diseduh. Seringkali masyarakatmenambahkan gula dalam mengkonsumsi teh. Jenis gula yang digunakan biasanya adalah gula pasir, gula aren,gula batu. Cara mengkonsumsi minuman teh juga berbeda-beda. Kadang-kadang teh disajikan dalam suhudingin (es teh), terkadang suhu kamar ataupun dalam kondisi panas. Akibatnya senyawa flavanoid mudahberikatan dengan molekul gula dan jumlahnya dapat bervariasi tergantung suhu dan cara ekstraksinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada nilai gisi minuman teh hijau yangdinyatakan sebagai : kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan dengan penambahan gula serta suhupenyajian. Jenis gula yang digunakan adalah gula pasir, gula aren dan gula batu dengan konsentrasi 0%; 2,5%;5%; 7,5%; 10%; 12,5% dan 15% dan suhu penyajian adalah: 100C ( es teh), 280C ( suhu kamar) dan 650C (tehpanas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa semakin banyak konsentrasi gula yang digunakan dalampembuatan minuman teh hijau maka kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan semakin menurun.Penurunan kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan terbesar terdapat pada minuman teh hijaudengan penambahan gula pasir, sedangkan penurunan terkecil terdapat pada minuman teh hijau yang ditambahdengan gula aren. Penurunan kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan terbesar terdapat padaminuman teh hijau yang disiajikan pada suhu 650C, sedangkan penurunan terkecil terdapat pada minuman tehhijau yang disajikan pada suhu 280C. Suhu penyajian 280C tanpa penambahan gula merupakan kondisi yangoptimal untuk mempertahankan komponen polifenol teh yang terlarut.
Meningkatan Sarana Usaha Pengelolaan Sampah Plastik- Bank Sampah Sapujagad Kabupaten Magetan astirin, okid parama; Hadi, Syamsul; Suryanto, Suryanto; Amanto, Bambang Sigit; Nugraha, Setya
Journal of Dedicators Community Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdc.v8i1.5512

Abstract

Waste both organic waste and inorganic waste is one of the threats and serious problems being faced in urban areas in Magetan. Milang Asri landfill (TPA) Magetan has experienced overload capacity conditions. The active role of the community in the form of Waste Bank and KSM (Community Self Help Group) in managing 3 R waste (Temporary waste disposal site) is needed to reduce the volume of waste piled up in Milangasri landfill. One alternative to solving the waste problem is to join the program of the Magetan "Sapu Jagad" Waste Bank, which was established in 2015. According to the Regulation of the Minister of Environment of the Republic of Indonesia Number 13 of 2012, a waste bank is a place for sorting and collecting waste that can be recycled and or reused to have economic value. The waste collected has been realized by the Sapu Jagad waste bank manager into various products of economic value: including bags, wallets, tables and chairs, crafts etc. Sapu Jagad Waste Bank also organizes education and training to convert waste into various products of economic value. Another activity is to campaign about the importance of the 3R principle (reuse, reduce, and recycle) both to the general public and to schools. Sapu Jagad Waste Bank plays an active role in waste processing, especially non-organic waste. The processed waste products from the Sapu Jagad waste bank have begun to be marketed online. The output of the activities that have been produced is that the waste bank has carried out the process of recording waste managed by the waste bank, waste bank funds and operational bookkeeping has been carried out using a simple program on the computer provided by the implementing team. The recording of sales of waste products into handicrafts and chairs and tables has improved. Production Process Aspects: The process of storing plastic water packaging and plastic packaging waste has been pressed using a plastic press machine that was also invested in the waste bank. The storage of plastic waste has become very space-efficient. Business Management Aspects: All aspects of business management, waste bank financial records, waste craft business records, canteen business, and waste bank training are still done manually. The expected output of the activity is a wider raw material storage and marketing process supported by adequate raw materials will be achieved. Mandatory output in the form of publication of the Journal of Community Service, mass media news published in online dailies and videos of activities uploaded on Youtube
PREDIKSI UMUR SIMPAN TEPUNG JAGUNG (Zea mays L.) INSTAN DI DALAM KEMASAN PLASTIK Amanto, Bambang Sigit; Atmaka, Windi; Affandi, Dian Rachmawanti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.362 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13568

Abstract

Jagung mempunyai potensi besar untuk ditingkatkan dan dikembangkan, baik sebagai bahan pangan,pakan maupun bahan baku industri. Salah satu bentuk produk dari jagung adalah tepung instan,yang merupakansalah satu bahan setengah jadi untuk bahan baku industri pangan dalam pengolahan lanjut. Tepung jagung instanmenjadi alternatif pengolahan berdasarkan pertimbangan tujuanpemakaian, kemudahan dalam transportasi, dan efisiensi penyimpanan. Pembuatan tepung jagung instandimaksudkan sebagai upaya menambah keanekaragaman pangan serta diversifikasi produk olahan jagung, usahapeningkatan nilai ekonomi dan pengawetan produk jagung serta kepraktisan penggunaan. Pada prinsipnyaberbagai jenis tepung mempunyai sifat higroskopis sehingga selama penyimpanan mudah mengalami kerusakanakibat penyerapan uap air dari lingkungannya. Salah satu upaya untuk memperpanjang umur simpan tepungadalah dengan pengemasan. Bahan pengemas yang digunakan dalam penelitian ini adalah plastik polipropilendan polietilen dengan berbagai macam ketebalan. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptifsehingga dapat menjelaskan prediksi umur simpan tepung jagung instan yang berasal berbagai variaetas jagungpada kemasan plastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi umur simpan yang paling baik adalah padapenggunaan pengemas plastik polipropilen dengan ketebalan 0,05. Umur simpan yang diperoleh denganpengemas polipropilen 0,05 untuk tepung jagung kuning instan sebesar 153 hari. Sedangkan untuk tepungjagung putih instan sebesar 107 hari.
KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA, DAN SENSORIS FLAKES PISANG KEPOK SAMARINDA (Musa paradisiaca balbisiana) DENGAN SUBSTITUSI PATI GARUT Mahmudah, Nur Aini; Amanto, Bambang Sigit; Widowati, Esti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.534 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v10i1.17490

Abstract

Banana-based flakes has a  foible properties of less crunchy texture. The level of crispness in the products is affected by the amylose content in its material. Substitution of arrowroot starch which has relative high amylose content is expected to improve the texture and product characteristics of banana flakes. The experimental design in this study used completely randomized design (CRD) by one factor, namely the variation of substitution of arrowroot starch with comparison banana’s flour: arrowroot starch are F1 (100%:0%), F2 (95%:5%), F3 (90%:10%), F4 (85%:15%). Sensory analysis was conducted using preference test (scoring) and also ranking. The data was analyzed by One-way ANOVA method and continued with Duncan Multiple Range Test Analysis if there is a significant difference (at significance level α = 0.05). Based on the results of sensory analysis, F4 formula is a formula of the most preferred by consumers from the aspect of color, flavor, texture (crispness), and overall. Physical analysis flakes shows that F4 has the lowest hardness value (27.07 N), a maximum resistance crunchy time in milk of 5.88 minutes and the greatest water absorption 133.05%. Chemical analysis F4 flakes with composition 85% of banana flour and 15% of arrowroot starch has moisture content (wb) 3.13%, ash content (wb) 2.25%, fat content (wb) 6.84%, protein content (wb) 0.57%, carbohydrate content (wb) 87.19%, starch content 72,46%, amylose and amylopectin content of 14.01% and 1.86%, crude fiber content 1.86%.
KINETIKA PENGERINGAN CHIPS SUKUN (Artocarpus communis) DALAM PEMBUATAN TEPUNG SUKUN TERMODIFIKASI DENGAN ASAM LAKTAT MENGGUNAKAN CABINET DRYER Amanto, Bambang Sigit; Manuhara, Godras Jati; Putri, Ratri Rosdiana
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.935 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12796

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinetika pengeringan yaitu laju pengeringan dan kebutuhan energi pada pengeringan chips sukun, dan untuk mengetahui karakteristik (kadar air, kadar amilosa, derajat putih, viskositas, kelarutan, swellling power, gugus fungsi) tepung sukun. Perancangan penelitian menggunakan rancangan acak faktorial (RAF) yang terdiri dari dua faktor yaitu perlakuan (nonmodifikasi dan modifikasi asam laktat 1%) dan suhu pengeringan (60°C, 65°C dan 70°C). Setiap perlakuan dilakukan tiga ulangan sampel dengan dua kali ulangan analisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pengeringan dan penambahan asam laktat menyebabkan penurunan kadar air chips sukun, mempercepat laju pengeringan dan menurunkan kebutuhan energi pengeringan. Semakin tinggi suhu pengeringan dan penambahan asam laktat menyebabkan menurunnya kadar air dan derajat putih tepung sukun, meningkatnya kadar amilosa, viskositas, kelarutan dan swelling power tepung sukun. Analisis gugus fungsi (FTIR) menunjukkan adanya serapan gugus karbonil pada bilangan gelombang 1735 cm -1 dari tepung sukun yang termodifikasi asam laktat.Kata kunci: kinetika pengeringan, modifikasi, suhu, sukun, tepung
KAJIAN KARAKTERISTIK ALAT PENGURANGAN KADAR AIR MADU DENGAN SISTEM VAKUM YANG BERKONDENSOR Amanto, Bambang Sigit; Parnanto, Nur Her Riyadi; Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.298 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13532

Abstract

Madu mengandung bahan gizi yang sangat essensial. Madu bukan hanya merupakan bahan pemanis, ataupenyedap makanan, tetapi sering pula digunakan untuk obat-obatan. Madu dihasilkan oleh lebah madu denganmemanfaatkan bunga tanaman. Madu memiliki warna, aroma dan rasa yang berbeda-beda, tergantung padanektar jenis tanaman. Madu Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi sehingga rentanterhadap fermentasi. Salah satu cara pencegahannya adalah menurunkan kadar air madu. Pada penelitian ini,penurunan kadar air madu dengan menggunakan vakum evaporator. Proses penurunan kadar air dengan vakumevaporator akan mempertahankan kandungan nutrisi dalam madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikarakteristik alat, sifat fisikokimia dan sifat organoleptik madu yang dikentalkan dengan sistem vakumevaporator berkondensat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaituvariasi suhu (40oC, 50oC, dan 60oC). Pengujian sifat organoleptik madu dengan metode Multiple ComparationTest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar air madu dengan sistem vakum evaporator dapatmempertahan kandungan gizi dalam madu. Efisiensi penguapan kadar air berturut-turut adalah 31,6 %, 33,89 %dan 39,6 %. Penurunan kadar air dengan variasi suhu 40oC, 50oC, dan 60oC membutuhkan waktu berturut-turut12 jam, 7 jam, dan 4 jam. Viskositas madu yang telah dikentalkan mengalami peningkatan yaitu 0,1937 Ns/m2menjadi kisaran 1,7114-1,7388 Ns/m2. Kadar gula reduksi total (glukosa dan fruktosa) tidak terdapat perbedaanyang nyata. Kadar gula reduksi madu kontrol 84,0622%, sedangkan madu yang telah dikentalkan denganmasing-masing variasi suhu berkisar 84,8716 85,1806%. Kadar abu dan mineral (kalsium dan magnesium) jugatidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Kadar abu madu kontrol dan yang telah dikentalkan berkisar 0,111-0,116%, kadar kalsium berkisar 15,9824-16,3007 mg/100g, dan kadar magnesium berkisar 10,2367-11,7633mg/100g. Penilaian panelis terhadap madu yang telah dikentalkan dengan berbagai variasi suhu evaporasi secarasifat organoleptik tidak berbeda nyata. Penilaian dari panelis dari segi warna, rasa dan overall madu yang telahdikentalkan dengan masing-masing variasi suhu evaporasi dapat diterima oleh panelis dan sedikit lebih baik darimadu kontrol.
UJI PENGARUH JARAK SUMBER PANAS DAN LAMA PENGASAPAN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA IKAN LELE (Clarias sp.) ASAP PADA ALAT PENGASAP TIPE TEGAK Hartanto, Rofandi; Amanto, Bambang Sigit; Khasanah, Lia Umi; Pusparani, Lusiana
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 12, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.179 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v12i2.35004

Abstract

KINETIKA PENGERINGAN TEMU HITAM (Curcuma aeruginosa Roxb.) MENGGUNAKAN CABINET DRYER DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN BLANCHING Sujarwo, Baskoro Aji; Amanto, Bambang Sigit; Siswanti, Siswanti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.734 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12788

Abstract

Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses pendahuluan berupa blanching dan juga penggunaan variasi suhu pengering dapat berpengaruh terhadap kinetika pengeringan, kualitas mutu produk simplisia temuhitam dan juga efisiensi alat pengering cabinet dryer. Dari penelitian ini diketahui bahwa perlakuan suhu dan perlakuan pendahuluan blanching terhadap simplisia Temu hitam berpengaruh terhadap kinetika pengeringan. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat juga pengeringan berlangsungsampai dengan batas kadar air aman produk simplisia yaitu ≤ 10%. Kualitas mutu produk simplisia temu hitam menunjukkan bahwa penggunaan masing – masing suhu telah memenuhi standar kadar air maksimum simplisia. Untuk kadar kurkumin terbaik sebesar 8,48 % pada penggunaan suhu pengering 50C hal ini menunjukkanpenggunaan suhu tinggi pada proses pengeringan dapat mempengaruhi kandungan kurkumin dalam temu hitam. Kata kunci : Temu Hitam, Blanching, Kurkumin, Kinetika Pengeringan, cabinet dryer
KAJIAN KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORIS FRUIT LEATHER BEBERAPA VARIETAS PISANG (Musa spp.) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) Ni'mah, Ana Mufidatun; Amanto, Bambang Sigit; Widowati, Esti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.713 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13238

Abstract

Dalam penelitian ini dibuat fruit leather beberapa varietas pisang (pisang kapas, pisang kepok kuning,dan pisang nangka) dengan variasi penambahan rumput laut (0%; 7,5%; dan 15%) dengan tujuan untukmengetahui karakteristik kimia (kadar air, kadar abu, kadar gula reduksi, dan kadar serat pangan) dankarakteristik sensoris, serta untuk mendapatkan fruit leather terbaik pada masing-masing varietas pisang yangdigunakan. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitukonsentrasi rumput laut. Masing-masing perlakuan dilakukan dua kali ulangan sampel dan tiga kali ulangananalisis. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode one way ANOVA dilanjutkan dengan DMRT apabilamatan diketahui bahwa dengansemakin tinggi konsentrasi rumput laut yang ditambahkan mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar abu,kadar gula reduksi, dan kadar serat pangan pada fruit leather pisang kapas, fruit leather pisang kepok kuning,dan fruit leather pisang nangka, namun terjadi penurunan pada kadar air fruit leather semua varietas pisang.Fruit leather semua varietas pisang dari segi sensoris diterima oleh panelis dan rata-rata penambahan rumputlaut tidak berpengaruh signifikan terhadap karakteristik sensoris. Fruit leather yang terbaik pada masing-masingvarietas pisang yaitu fruit leather dengan penambahan 15% rumput laut.
OPTIMASI KADAR ß-KAROTEN PADA PROSES PEMBUATAN TEPUNG UBI JALAR ORANYE (Ipomoea batatas (L.) Lam.) DENGAN MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM) Amanto, Bambang Sigit; Khasanah, Lia Umi; Ruwanti, Sri
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.181 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12872

Abstract

Ubi jalar oranye memiliki prospek dan peluang yang besar sebagai bahan baku industri pangan. Salah satu bentuk olahan ubi jalar yang cukup potensial dalam kegiatan industri adalah tepung ubi jalar. Tepung ubi jalar dapat menjadi pilihan yang tepat untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku berbasis lokal. Pembuatantepung ubi jalar oranye akan meningkatkan pemanfaatan serta menjadikannya sebagai salah satu sumber provitamin A, karena berpotensial mengandung ß-karoten yang cukup tinggi. ß-karoten memiliki sifat yang mudah rusak karena sinar ultraviolet, panas, kondisi asam serta kontak dengan udara atau oksigen. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kondisi proses yang optimum terhadap persentase penurunan kadar ß-karoten pada pembuatan tepung ubi jalar oranye oleh pengaruh suhu dan waktu pengeringan. Penelitian ini menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Dalam penelitian ini terdapat dua faktoryaitu suhu pengeringan yang dinyatakan sebagai variabel X 1 dan waktu pengeringan sebagai variabel X . Suhu pengeringan yang digunakan adalah suhu 50C, 60oC dan 70oC , dan waktu pengeringan yang dilakukan adalah6, 7, dan 8 jam. Hasil optimasi menggunakan Response Surface Methodology (RSM) menunjukkan bahwa kondisi proses yang optimal pada pembuatan tepung ubi jalar oranye adalah pada suhu pengeringan 58.067 C denganwaktu pengeringan 7.0794 jam dan dihasilkan persentase penurunan kadar ß-karoten yaitu sebesar 38.4904 %. Kata kunci : ß-karoten, Response Surface Methodology (RSM), ubi jalar oranyeo2