Muhammad Roihan Nasution
Universitas islam Negeri Sumatera Utara Medan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENAFSIRAN MAHMUD YUNUS TERHADAP AYAT-AYAT KAUNIYAH DALAM TAFSIR QURAN KARIM Ahmad Zuhri; Muhammad Roihan Nasution; Furaisyah Nasution
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.12564

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini meneliti penafsiran Mahmud Yunus terhadap Ayat Kauniah Penciptaan Langit dan Bumi di dalam Tafsirnya Tafsir Qur’an Karim. Berangkat dari penafsiran Mahmud Yunus dan pendapat para ilmuwan, penulis menyimpulkan bahwa penciptaan langit dan bumi dimulai dari suatu perpaduan kemudian terpisah yang menjadi cikal bakal terbentuknya alam semesta, planet-planet, bintang-bingtang dan sebagainya. Masa penciptaan langit dan bumi berlangsung selama enam masa, dua masa pada bumi, dua masa pada isi bumi, dan dua masa pada langit. Penafsiran Mahmud Yunus sudah cukup mewakili penafsiran bercorak ilmiah pada masanya meskipun masih dengan pembahasan sederhana.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dengan menganalisis isi bacaan dengan mengklasifikasikan ayat-ayat yang berkenaan dengan Penciptaan Langit dan Bumi, refrensi-refrensi dari literature yang berkenaan dan juga relevan. Madapun dalam penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data-data yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus. Dan adapun data sekundernya yaitu buku-buku dan tulisan yang mengandung pembahasan. Analisis data dilakukan secara deskriptif analisis yaitu memberikan deskripsi-deskripsi analisa terhadap objek penelitian dari data yang erhasil dikumpulkan untuk kemudian ditarik kesimpulan.Kata Kunci: Tafsir Qur’an Karim, Kauniyah, Ilmiah, Langit, Bumi 
Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Nusantara (Telaah terhadap larangan Penerjemahan Al-Qur’an dalam Naskah Sayyid Usman dan Abdul Hamid) Muhammad Roihan Nasution; Nuraisah Simamora; Bayu Satria Damanik
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12558

Abstract

ABSTRAKAl-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang menggunakan bahasa Arab sebagai medianya, dalam sejarah Islam telah tercatat bahwa agama Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia, tetapi ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah yang mana wilayah-wilayah tersebut memiliki bahasa daerah masing-masing. Maka dari itu kebutuhan akan penerjemahan Al-Qur’an memang dirasakan sangat penting sebagai upaya agar umat Islam dapat memahami dan mengamalkan ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Meskipun penerjemahan Al-Qur’an sangat dibutuhkan tetapi dalam prosesnya tidak semulus yang dibayangkan, di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam polemik tentang kebolehan dan larangan dalam penerjemahan Al-Qur’an. Adapun beberapa ulama nusantara yang melarang penerjemahan Al-Qur’an di antaranya adalah Sayyid Usman dan Abdul Hamid.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deksriptif melalui pendekatan filologi dengan mengkaji naskah-naskah lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat larangan dalam penerjemahan Al-Qur’an dengan menelaah naskah Sayyid Usman dan Abdul Hamid. Menurut Sayyid Usman dalam naskahnya “Hukm al-Rahmân bi al-Nahyi ‘an Tarjamat al-Qur`ân” bahwa untuk mengambil hukum langsung dari Al-Qur’an dengan cara diterjemahkan seseorang tidak akan mampu melakukannya karena syarat dan rukunnya yang sangat berat, tetapi menurut beliau dalam memahami Al-Qur’an harus bersandar pada mazhab-mazhab hukum serta mengambil anutan dari ulama salaf. Sedangkan menurut Abdul Hamid dalam naskahnya “Tuhfat al-Mardhiyah fatwa fii jawaaz tafsir Al-Qur’an bi al-‘Ajamiyah” memahami bahwa, terjemahan itu mengganti lafaz Al-Qur’an dengan makna terjemahan tanpa mencantumkan ayat yang diterjemahkan, maka itu akan menghilangkan kemukjizatan Al-Qur’an yang terletak pada ayatnya bukan pada maknanya.Pemikiran Sayyid Usman dan Abdul Hamid dalam melarang penerjemahan Al-Qur’an bahwa kedua ulama ini, sangat berhati-hati dalam penerjemahan Al-Qur’an disebabkan karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, maka jika seorang mutarjim memberikan makna yang tidak sesuai dengan bahasa yang ada di dalam Al-Qur’an, maka itu adalah sebuah kesesatan. Kata kunci: Penerjemahan Al-Qur’an, Sayyid Usman, Abdul Hamid, Perspektif.
Halal Tourism from the Perspective of the Quran: An Exploration of the Meaning of Riḥlah According to Ash-Shaʻrāwī and Its Implications for Muslim Travel Ethics Muhammad Fakih Hasibuan; Sukiman Sukiman; Muhammad Roihan Nasution
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 20, No. 1 : Al Qalam (January 2026 - Special Edition: Islamic Studies)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v20i1.5477

Abstract

The growing trend of Muslim travel to various global destinations necessitates the concept of halal tourism, which prioritises not only the fulfilment of Islamic law but also Islamic ethical and spiritual values. However, the implementation of halal tourism has tended to be reductive, focusing primarily on halal food and prayer facilities, without exploring more substantive Quranic dimensions. This study aims to explore the meaning of riḥlah in the Quran based on Ash-Shaʻrāwī’s interpretation and examine its implications for contemporary Muslim travel ethics. Using a qualitative method with a thematic approach and analysis of Ash-Shaʻrāwī’s thematic interpretations, data were collected from tafsir books, supporting literature, and secondary sources on halal tourism. The results show that riḥlah, from the Ash-Shaʻrāwī perspective, is not merely a physical activity of moving from one place to another, but a spiritual and epistemological process of knowing God through His signs in nature. Riḥlah also has social, economic, and educational functions, emphasising morality, responsibility, and self-reflection. In the context of halal tourism, these values form the basis for establishing a responsible, environmentally conscious, and respectful Muslim travel ethic.