Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BULLYING DALAM PENAFSIRAN QS. AL-ḤUJURĀT [49]:11 PERSPEKTIF MA’NA-CUM-MAGZA Sumiati Sumiati; Danial Danial
EL-MAQRA' Vol 2, No 2 (2022): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.14 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v2i2.5264

Abstract

Tulisan ini adalah kajian tentang bullying yang berdasar dari penafsiran QS. al- Ḥujurāt [49]:11. Pada ayat ini terdapat tiga perilaku yang relevan dengan perilaku bullying. Oleh karena itu, peneliti menggunakan QS. al-Ḥujurāt [49]:11 sebagai teks yang menjadi fokus kajian ini untuk mengungkap signifikansi bullying serta relevansinya di era kontemporer. Untuk menjawab tujuan tersebut maka jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian kualitatif berbasis library search (kepustakaan) dan menggunakan pendekatan teks dan konteks melalui kerangka ma’na-cum-maghza yaitu dengan mendeskripsikan bullying pada abad ke 7, intertekstual dan intretekstual (analisis linguistik), melihat historis baik secara mikro maupun makro dan mengungkap signifikansi ayat. Adapun hasil temuan dengan analisis tekstual mengungkap karateristik bullying seperti adanya sifat sombong, pengumpat dan penggibah. Dengan tinjauan analisis historis pada QS. al-Ḥujurāt [49]:11 menunjukkan motif utama timbulnya tindakan bullying yaitu sebab adanya rasa ketidaksukaan seseorang kepada kepada orang lain. Motif ini muncul karena adanya kebencian kepada pelaku maupun karena adanya perbedaan status sosial. Kemudian melalui analisis tekstual dan konteks historis sesuai dengan tindakan bullying yang terjadi di era perkembangan teknologi, perilaku tersebut mulai dilakukan dengan mudah melalui alat elektronik seperti handphone yaitu melakukan tindakan intimidasi melalui media sosial. Bullying pada QS. al-Ḥujurāt [49]:11 di era kontemporer saat ini, dengan upaya untuk mencegah perilaku tersebut maka ditetapkanlah hukum pidana nasional terhadap pelaku untuk membuatnya merasa jera atas tindakannya
ANAK SEBAGAI UJIAN DAN MUSUH KAJIAN TAFSIR KONTEKSTUAL Fitriani Fitriani; Muh. Syahrul Mubarak; Akbar Akbar; Danial Danial
EL-MAQRA' Vol 2, No 2 (2022): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.001 KB) | DOI: 10.31332/elmaqra.v2i2.5263

Abstract

Penelitian ini membahas tentang anak sebagai ujian dan musuh kajian tafsir kontekstual. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis makna anak sebagai ujian dan musuh, mengeplorasi penafsiran al-Qur’an tentang anak sebagai ujian dan musuh dan mengetahui relevansi al-Qur’an tentang anak dalam merespon fenomena childfree. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka, dengan data primer berupa kitab-kitab tafsir dan al-Qur’an di dukung dengan beberapa data sekunder. Data tersebut menggunakan metode kontekstual. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa makna anak sebaga ujian dan musuh yang berarti cobaan buruk atau cobaan yang menyusahkan seperti bencana dan kelaparan termasuk juga perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan menentang kebenaran, fitnah yang berarti cobaan baik yaitu cobaan melalui kenikmatan dan kesenangan, fitnah yang berarti cobaan secara umum. Artinya, secara umum dijelaskan bahwa dalam kehidupan ini pasti ada ujian baik maupun buruk. Adapun makna musuh musuh merujuk kepada syaitan, lebih khusus lagi bahwa kata aduww atau musuh memiliki dua bentuk kata yaitu jin dan manusia. Adapun Penafsiran al-Qur’an anak sebagai ujian dan musuh peneliti menemukan beberapa ayat di dalam al-Qur’an tentang ujian dan musuh yaitu berjumlah 13, kemudian peneliti mengambil dua ayat yang penafsiran kontekstualnya secara tegas menjaskan Anak sebagai ujian dan musuh dalam al-Qur’an QS. al-Anfal/28 dan QS. at-Taghabun/14 jika diklasifikasikan menurut penafsiran kontekstual, anak sebagai ujian sudah ada pada zaman Rasulullah Saw, yang pada saat itu suatu kaum ahli Mekkah yang masuk Islam. Akan tetapi istri dan anak-anaknya menolak untuk hijrah ke Madinah untuk beribadah kepada Allah Swt. Terkait dengan konteks masa kini, ketika orangtua bekerja membanting tulang tak kenal lelah demi sang anak mencurahkan segenap upaya demi kebahagiaan anak, tetapi melalaikan kewajiban sebagai hamba untuk beribadah kepada Allah Swt. Terkait Relevansi penafsiran al-Qur’an tentang anak dalam merespon fenomena childfree. Peneliti, tidak menyalahkan orang yang melakukan childfree hanya saja dari segi pemikiran, dimana pemikiran tersebut tidak ingin mempunyai anak. Sementara didalam al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa anak merupakan penyambung keturunan, harapan untuk menjadi sandaran di kala usia lanjut
JAMINAN REZEKI ANAK PERSPEKTIF AL- QUR’AN (KAJIAN TAFSIR TEMATIK) Vera Vetasleni; Danial Danial
EL-MAQRA' Vol 3, No 1 (2023): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v3i1.6275

Abstract

Kajian ini berkhaitan dengan pengungkapan makna jaminan rezeki anak di dalam al- qur’an terhadap asumsi yang telah menyebar bahwa berdasarkan fakta yang dirasakan setiap orangtua mengenai kebutuhan anak di dalam rumah tangga baik dalam jumlah yang relatif kecil maupun besar menjadi semakin terpuruk s@ebab pembiayaan dari segi ekonomi yang semakin meningkat. Penelitian ini dirancang dengan metode kualitatif (library research). Pengumpulan data menggunakan metode tematik dengan mengumpulkan ayat-ayat yang setema berdasarkan kata kunci rezeki dan anak. Prosedur interpretasi data dilakukan melalui tahapan penemuan makna yakni secara tekstual, lingusitik, dan sosio-historis. Rezeki anak dijelaskan dalam al- qur’an mencakup materi yang berupa sandang, pangan, dan papan serta non materi diantaranya timbul perasaan kasih sayang, diberikan pemahaman dan ilmu pengetahuan serta segala bentuk pemberian. Pencapaian rezeki tersebut dapat diraih dengan ketentuan dalam tiga hal, yakni bekerja, kepedulian orang lain, dan ketakwaan kepada Allah Swt. Temuan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa perspektif banyak anak banyak rezeki menjadi konsep yang dibenarkan dengan beberapa persyaratan untuk memperoleh rezeki.
Peningkatan Minat Belajar Bahasa Inggris Melalui Program English Day Di Kelurahan Pongo Kabupaten Wakatobi Sari Silviani; Dini Ayu Setiawati; Nur Ulfa; Danial Idrus
INSANIYAH Vol 2, No 1 (2023): Juli 2023
Publisher : IAIN Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/insaniyah.v2i1.6863

Abstract

Pulau   Wangi-Wangi   merupakan   ibukota   dari   Kabupaten   Wakatobi   dan sekaligus kecamatan yang berada di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Secara geografis, kabupaten ini terbagi dalam 14 desa dan 6 kelurahan. Tempat peneliti melaksanakan pengabdian selama 45 hari adalah di salah satu kelurahan, yaitu kelurahan Pongo. Pongo merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Wangi- Wangi yang menjadi pusat pemerintahan Wakatobi. Selain merupakan pusat pemerintahan,  daerah ini  juga  menjadi  salah satu tujuan wisata,  maka  tidak jarang kelurahan ini sering dikunjungi oleh turis asing. Salah satu tujuan dari kegitan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu untuk  memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi dengan wisatawan asing dan meningkatkan minat belajar serta kemampuan dalam berbahasa Inggris pada anak usia dini. Kemampuan berbahasa Inggris ini sangat dibutuhkan karena saat ini merupakan era globalisasi yang membuat masyarakat harus mampu berkomunikasi secara global.  Pengabdian  ini  dilakukan  dengan  menggunakan  pendekatan  ABCD (Asset  Based  Community  Development),  yang  mengutamakan  pemanfaatan  aset dan potensi yang ada disekitar dan dimiliki oleh masyarakat serta pendayagunaannya secara mandiri dan maksimal. Kata kunci : Bahasa inggris, Komunikasi, Pongo, Wisata, Wakatobi