This Author published in this journals
All Journal Al-Dhikra
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TAFSIR SUFISTIK SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI Achmad Zubairin
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 2 No. 2 (2020): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.563 KB) | DOI: 10.57217/aldhikra.v2i2.778

Abstract

Artikel ini bertujuan melakukan penelusuran terkait corak sufistik dalam Tafsir karya sheikh Nawawi al-Bantani. Corak sufistik dalam tafsir ini dikarenakan pembacaan terhadap Al-Qur`anoleh seseorang sangat terkait erat dengan “kacamata” keilmuan yang dimilikinya dan juga latarbelakang individu tersebut. Riset ini menggunakan metode konten analisis dengan pendekatanasumsi intuitif sebagai cara pembuktian ilmiah dalam Islam versi Mulyadi Kartanegara. Adapun untuk menganalisa corak tasawuf dalam penafsiran, penulis menggunakan pendekatan tasawufversi Ibnu Taimiyah dan ibnu Qayyim. Artikel ini berkesimpulan bahwa corak tasawuf dalam tafsir Marah Labid lebih mendekati kriteria syar’iyyah, yang lebih mengedapankan perbaikan nilai-nilai moral dan pemahaman fikih. Artikel ini menguatkan pendapat Azra terkait tren jejering ulama Nusantara terhadap praktik neo-sufisme.
Tafsir Maqasidi Al-Mawardi: Studi Atas Ayat-Ayat Politik Dalam Tafsir Al-Nukat Wa Al-‘Uyun Achmad Zubairin
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i1.1015

Abstract

Artikel ini bertujuan melakukan elaborasi terkait munculnya varian tafsir Al-Qur’an berbasis ideologi yang berbicara soal sistem politik negara muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad. Hal itu disebabkan sebagian umat Islam berijtihad merumuskan dan memformulasikan fikih siyasah (teori politik islam). Bahkan sudah sampai tahap empirik, sebagaimana yang dilakukan para Khulafa ar-Rasyidun, namun bentuk politik Islam “yang ideal” sampai saat ini masih terus diperdebatkan. Perdebatan yang paling mendasar, sebenarnya seputar penerapan dan formalisasi nilai-nilai syariah Islam dalam lingkup Negara. Untuk menggali lebih dalam lagi seputar hubungan Islam dan Negara, penulis mencoba menganalisa penafsiran maqasidi-nya al-Mawardi seputar ayat-ayat yang membahas tentang politik. Diskursus Tafsir Maqasidi sebenarnya baru muncul belakangan, namun prinsip-prinsipnya yang mengacu kepada maqasidi al-syari’ah, sudah sejak dahulu didiskusikan. Prinsip dasar maqasid al-syari’ah lebih kepada upaya menghumanisasikan hukum Islam yang bersumber dari ayat Al-Qur’an dan Hadis. Dalam rangka upaya menggali makna ayat agar teks Al-Qur’an dipahami tidak secara tekstual akan tetapi mampu menangkap makna ayat yang lebih kontekstual, maka menafsirkan Al-Qur’an dari sisi Maqasidi-nya, akan mengungkap inti (jawhar) dari Al-Qur’an. Penulis juga mencoba mengungkap sisi subjektifitas seorang al-Mawardi sebagai penafsir dalam Tafsir al-Nukat Wa al-‘Uyun karangannya, termasuk kondisi sosio-historis dimana al-Mawardi hidup yaitu pada masa dinasti Abbasiyah, walaupun disanyalir sebagian kalangan, dirinya pun dalam menulis karya tafsir-nya dan karya lainnya al-Ahkam al-Sultaniyah sebagai “pesanan politik” dari khalifah yang berkuasa saat itu. Artikel ini berkesimpulan bahwa sistem negara yang sesuai dengan teori maqa>s}id}i al-Mawardi ialah yang berasaskan pada nilai-nilai Islam sebagaimana ditegaskan juga oleh tokoh-tokoh lain seperti Abou El Fadl.