Ridwan Amiruddin
Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Usia Produktif di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalanrea Jaya Makassar Firman; Ridwan Amiruddin; Indra Dwinata
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 1 No. 2: JUNE 2020
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.244 KB) | DOI: 10.30597/hjph.v1i2.9282

Abstract

Hypertension or high blood pressure is a condition with blood pressure constantly increasing in blood vessels. WHO defines hypertension as systolic blood pressure ≥ 140 millimeters of mercury (mmHg) and / or diastolic blood pressure ≥ 90 mmHg. Hypertension contributes 7% of the world disease burden and causes 17 million deaths annually. The prevalence of hypertension (age ≥ 18 years) in the world is 22%. In Southeast Asia, the prevalence of hypertension is 24.7% with the rate based on gender higher in men at 25.3% and in women 24.2%. This study aims to determine factors associated with the incidence of Productive age hypertension in the working area of ​​Tamalanrea Jaya Health Center in 2019. The type of research used was observational analytic with cross sectional study design. The population in this study were all sufferers of productive age hypertension (15-64) years recorded in the Tamalanrea Jaya Health Center register book in the span of time starting in January to September 2019 in the amount of 215 people. The sampling technique used was simple random sampling with a sample size of 140 patients. From the research, it was found that from the total respondents there were 42.1% included in the category of controlled hypertension and 57.9% uncontrolled hypertension. Statistical test results showed that medication adherence (p = 0.002), sodium / salt consumption (p = 0,000), BMI (p = 0.571), and stress level (p = 0.755). This study it can be seen that there is a relationship between medication adherence and sodium / salt consumption to the incidence of hypertension. A set of BMI and stress level shows that there is no relationship between BMI and the incidence of hypertension.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARAWEANG, PANGKEP TAHUN 2023 Salsabila Aulia Faizal; Andi Zulkifli Abdullah; Ridwan Amiruddin
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 1: FEBRUARY 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i1.34854

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik pada anak balita akibat ketidakseimbangan nutrisi dan lingkungan yang tidak memadai selama masa pertumbuhan. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa prevalensi stunting pada balita di Indonesia mencapai 21,6%. Di Sulawesi Selatan, prevalensi stunting mencapai 27,2%, sementara Kabupaten Pangkep berada di peringkat ke-3 tertinggi sebesar 34,2%. Pada tahun 2020, sekitar 56,93% mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Taraweang dan terjadi penurunan pada tahun 2023 sebesar 22,31%. Tujuan: Menganalisis faktor risiko pemberian ASI eksklusif, status BBLR, pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Taraweang. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan case control study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Taraweang sebanyak 699 anak balita dari bulan November-Desember tahun 2023. Besar sampel adalah 132 sampel, dimana kasus 66 sampel dan kontrol 66 sampel. Sampel diperoleh dengan cara simple random sampling. Hasil: Analisis OR pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif (OR=5,12; 95%CI=2,27-11,69), status BBLR (OR=4,55; 95%CI=1,32-19,83), pendidikan ibu (OR=2,67; 95%CI=1,09-6,73), status ekonomi keluarga (OR=3,75; 95%CI=0,89-22,05), dan sanitasi lingkungan (OR=3,01; 95%CI=1,33-6,89) sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak balita. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif, status BBLR, pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan sanitasi lingkungan sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Taraweang, Kabupaten Pangkep tahun 2023. Disarankan kepada responden dan seluruh masyarakat untuk memberikan ASI eksklusif sesuai anjuran yang ditetapkan kepada anak balita agar meminimalisir kejadian stunting.
HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA DEWASA MUDA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BALOCCI Hafizhah Nurul Afifah Hafizhah; Ridwan Amiruddin; Andi Zulkifli
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35221

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi atau tekanan darah tinggi ialah suatu kondisi kronis yang ditandai dengan terjadinya peningkatan tekanan darah pada dinding pembuluh darah arteri dan menyebabkan tekanan darah menjadi abnormal. Selain menjadi salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian utama di dunia hipertensi juga dapat menimbulkan risiko mortalitas dini. Hipertensi menjadi penyumbang kurang lebih 40% penyebab kematian usia muda. Walaupun usia muda seharusnya masih termasuk usia produktif dan jauh dari penyakit, namun hipertensi juga banyak dialami oleh usia muda. Hal ini dikarenakan pola gaya hidup yang dijalani oleh penderita. Tujuan: Mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi pada usia muda. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi cross sectional. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah usia dewasa muda (20-44 tahun) sebanyak 3.448 orang dan diperoleh besar sampel penelitian sebanyak 145 sampel. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik (p=0,001), konsumsi garam (p=0,000), status merokok (p=0,000), dan kualitas tidur (p=0,007) terhadap kejadian hipertensi. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres (p=0,079) dengan kejadian hipertensi. Kesimpulan: Variabel aktivitas fisik, konsumsi garam, status merokok, dan kualitas tidur berhubungan dengan kejadian hipertensi pada usia muda. Sedangkan tingkat stres tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi pada usia muda.
HUBUNGAN SOSIOKULTURAL DAN GAYA HIDUP DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA HIPERTENSI MASYARAKAT PESISIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAROMBONG KOTA MAKASSAR La Ode Rasyid; Ridwan Amiruddin; A. Arsunan Arsin
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 3: OCTOBER 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i3.36186

Abstract

Latar belakang: Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah melebihi 140/90 mmHg. Banyak penderita tidak sadar pada kondisi tubuhnya bahwa memiliki penyakit hipertensi, maka dari itu penyakit hipertensi sering juga disebut sebagai the silent killer. Masyarkat pesisir dengan kadar garam tinggi pada makanannya lebih mungkin terkena hipertensi. Penderita hipertensi dapat mengalami banyak perubahan pada kualitas hidup. Tujuan: Mengetahui hubungan sosiokultural dan gaya hidup dengan kualitas hidup penderita hipertensi masyarakat pesisir di Wilayah Kerja Puskesmas Barombong Kota Makassar. Metode: Desain penelitian studi cross sectional. Adapun besar sampel penelitian sebanyak 155 sampel. Populasi penelitian adalah penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Barombong. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher's exact. Hasil: Analisis chi square menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga (p=0,00), dukungan sosial (p=0,00), spiritual (p=0,005), pola makan (p=0,006), aktivitas fisik (p=0,002) dengan kualitas hidup penderita hipertensi, pada analisis Fisher's exact menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan antara status merokok (p=0,03) dengan kualitas hidup penderita hipertensi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga, dukungan sosial, spiritual, pola makan, aktivitas fisik dan status merokok dengan kualitas hidup penderita hipertensi masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir yang menderita hipertensi selalu diberikan dukungan keluarga, dukungan sosial, spiritual tinggi, pola makan baik, aktivitas fisik tinggi dan tidak merokok dapat meningkatkan kualitas hidup penderita hipertensi.