Septiyani Septiyani
Departemen Ilmu Kedokteran Dasar, Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Comparative of Neutrophils and Lymphocyte Ratio for Dairy Cattle in Prepartum and Postpartum Condition Diza Raudya Tuzzahra; Eko Fuji Ariyanto; Septiyani -; Aziiz Mardanarian Rosdianto
Jurnal Sain Veteriner Vol 40, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.67404

Abstract

There is a transition period that dairy cattle always pass through in their reproduction cycle, making them more stressed. Stress can simply be identified by the ratio of neutrophil (N) and lymphocyte (L) at the haematologic state of dairy cattle. The purpose of this study is to evaluate stress conditions in dairy cattle’s transition period based on neutrophil and lymphocyte ratio. Twenty samples of dairy cattle’s blood in prepartum and postpartum condition are being analyzed with a hematology analyzer. The result of this study shows that the average of neutrophil has increased insignificantly from prepartum to postpartum period as 4.14 103/µL ± 1.51 to 4.27 103/µL ± 2.08 or 1.03% with a normal interval of neutrophil is 1.7-6.0 103/µL. However, the average of lymphocytes decreased insignificantly from 3.23 103/µL ± 1.13 to 3.03 103/µL ± 1.23 or 0.93% with a normal interval of lymphocyte is 1.8-8.1 103/µL. Then, the average of neutrophil and lymphocyte ratio has increased insignificantly from 1.35 103/µL ± 0.46 to 1.47 103/µL ± 0.60 or 1.09%. Based on this result, the ratio of neutrophils per lymphocyte still in the normal range. In the transition period, only a few dairy cattle have a stressful condition. The stress condition in dairy cattle can be identified by increasing neutrophil (neutrophilia) and reducing lymphocyte (lymphocytopenia).
Kista folikel ovarium sinister pada kucing domestik Septiyani Septiyani; Zulvia Yolanda
ARSHI Veterinary Letters Vol. 6 No. 2 (2022): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2022
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.6.2.31-32

Abstract

Kista folikel ovarium merupakan gangguan pada hewan betina berupa adanya kista atau timbunan cairan pada folikel di ovarium. Tulisan ini melaporkan kasus kista folikel pada seekor kucing domestik betina berusia 4 tahun bernama Bella, berwarna calico, yang dibawa pemiliknya ke klinik dengan keluhan tidak aktif bergerak, penurunan nafsu makan dan minum, sudah lama tidak minta kawin serta bagian perut terlihat membesar. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan kucing mengalami anemia, frekuensi nafas cepat, serta saat palpasi abdomen teraba adanya distensi tanpa respon rasa sakit. Pemeriksaan penunjang dengan ultrasonografi transabdominal tampak adanya bentukan bulat besar dengan gambaran anechoic dengan sekat yang jelas pada bagian saluran reproduksi. Kucing didiagnosis mengalami kista folikel dan dilakukan tindakan ovariohisterektomi untuk mengeluarkan kista. Pengobatan pascaoperasi diberikan obat antibiotik, anti nyeri, antiinflamasi serta multivitamin dan kondisi mulai membaik pada hari kedua pascaoperasi
Diagnostic approach and therapeutic intervention for pyometra in multiparous dairy cattle: a case study Arvia Chairunnisa; Septiyani; Iyus Setiawan
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 4 (2024): ARSHI Veterinary Letters - November 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.4.89-90

Abstract

Pyometra merupakan kelainan reproduksi yang umum dan penting secara klinis pada sapi multipara, dan ditandai dengan akumulasi eksudat purulen di dalam lumen uterus. Artikel ini mengkaji diagnosis dan penanganan pyometra pada sapi Friesian Holstein berusia enam tahun dari peternakan sapi perah tradisional di Lembang. Sapi tersebut, dengan riwayat aborsi pada usia kehamilan 35 hari selama melahirkan terakhir, menunjukkan keluarnya cairan vagina berlendir putih terus-menerus. Penilaian klinis melalui palpasi rektal menunjukkan uterus yang membesar, yang awalnya menunjukkan adanya kehamilan. Evaluasi diagnostik meliputi hematologi dan ultrasonografi transrektal. Hasil hematologi menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih, yang menunjukkan adanya infeksi bakteri. Ultrasonografi mengonfirmasi adanya nanah di dalam uterus dan penebalan dinding uterus. Penanganannya terdiri dari pembilasan uterus dan suntikan hormon untuk menginduksi kontraksi, memfasilitasi pengeluaran cairan yang terkumpul, dan memulihkan siklus estrus yang teratur. Pengurangan signifikan pada ukuran kornu uteri diamati satu minggu pasca perawatan, menunjukkan efektivitas intervensi.
Emergency management of necrotic rectal prolapse in a domestic cat Fadeli Bermani; Septiyani
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 2 (2025): ARSHI Veterinary Letters - May 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.2.33-34

Abstract

Kasus prolaps rektum pada kucing domestik dirawat di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Universitas Padjadjaran, Indonesia. Kucing tersebut datang dengan riwayat enam hari berupa massa kemerahan yang menonjol dari anus. Pemeriksaan fisik menunjukkan rektum yang prolaps dengan area nekrosis, selaput lendir pucat, dan turgor kulit menurun, yang sesuai dengan dehidrasi. Pemeriksaan feses menunjukkan negatif terhadap parasit gastrointestinal. Kucing tersebut didiagnosis dengan prolaps rektum lengkap dan nekrosis jaringan terkait. Perawatannya terdiri dari reduksi manual rektum yang prolaps dan pemasangan jahitan tali dompet untuk menahan rektum. Kucing tersebut menerima terapi antibiotik spektrum luas (amoksisilin (10 mg/kg) dan metronidazol (25 mg/kg) selama masa pemulihan, bersama dengan Tolfedine (4 mg/kg) untuk terapi NSAID. Jahitan tali dompet dilepas lima hari kemudian, dan tidak ada kekambuhan pada tindak lanjut satu bulan. Kasus ini menggambarkan perlunya diagnosis dini dan intervensi bedah tepat waktu dalam penanganan prolaps rektum dan untuk mencegah perkembangan menjadi nekrosis ireversibel.