Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perbedaan Waktu Reaksi Anggota Sbrunners yang Joging Teratur dan Tidak Teratur Muhammad Nardho Pratama; Asnawati Asnawati; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.585 KB)

Abstract

Abstract: Regular exercise has benefits for the body such as improving health, increasing attention and concentration, improving nerve function, and improving blood flow. These benefits can make a person's reaction time faster. The South Borneo Runners community has a regular jogging schedule but not all members follow the schedule. This study aims to determine whether there are differences in reaction times between South Borneo Runners members who jog regularly and irregularly. This research is an observational analytic study with cross-sectional approach. Samples were determined using a consecutive sampling technique and 41 subjects were obtained. Subjects were divided into 2 groups, the regular jogging group of 26 people and the irregular jogging group of 15 people. Measurement of reaction time using Kosinski's time reaction software. Data were analyzed using an unpaired t test and showed p = 0.202. It can be concluded that there is no difference in reaction times between South Borneo Runners members who jog regularly and irregularly. Keywords: reaction time, regular jogging, exercise. Abstrak: Olahraga teratur memiliki manfaat bagi tubuh seperti meningkatkan kesehatan, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, memperbagus fungsi saraf, dan memperlancar aliran darah. Berbagai manfaat tersebut dapat membuat waktu reaksi seseorang semakin cepat. Komunitas South Borneo Runners memiliki jadwal olahraga joging yang teratur tetapi tidak semua anggotanya mengikuti jadwal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan waktu reaksi antara anggota South Borneo Runners yang joging teratur dan tidak teratur. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel ditetapkan menggunakan teknik consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 41 subjek penelitian. Subjek terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok joging teratur sebanyak 26 orang dan kelompok joging tidak teratur sebanyak 15 orang. Pengukuran waktu reaksi menggunakan Kosinski’s time reaction software. Data dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan dan didapatkan nilai p=0,202. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan waktu reaksi antara anggota South Borneo Runners yang joging teratur dan tidak teratur. Kata-kata kunci: waktu reaksi, joging teratur, olahraga.
Perbedaan Aktivitas Superoksida Dismutase (SOD) pada Otak Tikus Putih (Rattus norvegicus) Akibat Rendaman Kadmium In Vitro Indro Ramadhana; Ahmad Husairi; Eko Suhartono
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.76 KB)

Abstract

Abstract: Cadmium is heavy metal shaped metal ions divalent non-essential that induces a toxic effect dangerous. Cadmium into the body, mainly the brain can lead to oxidative stress which that mediated by reactive oxygen species (ROS). ROS concentration in the brain regulated by superoxide dismutase (SOD) activity. SOD activity serves as enzymatic antioxidant to disorder caused by superoxide radical. This research is an experimental study that performed by making the brain of white rat homogenates than divided it int four groups: one control group (P0) and three treatment groups were exposed Cd (P1, P2, P3).  The measurement results showed the average SOD activities in the group was P0 = 0.0129±0.0015, P1 = 0.0056±0.0008, P2 = 0.0034±0.0008 dan P3 = 0.0005±0.0003. the results of One Way Anova analysis, followed by Post-Hoc test, showed that there were significant differences between each treatment group. Keywords: Cadmium, Brain, Superoxide Dismutase (SOD), reactive oxygen species (ROS) Abstrak: Kadmium merupakan logam berat yang berbentuk ion logam divalent non-essensial yang menginduksi efek toksik berbahaya. Kadmium masuk ke dalam tubuh terutama otak dapat mengakibatkan stres oksidatif yang dimediasi oleh senyawa oksigen reaktif (SOR). Kadar SOR di dalam otak diatur oleh aktivitas superoxide dismutase (SOD). Aktivitas SOD berfungsi sebagai antioksidan enzimatik untuk gangguan yang diakibatkan oleh radikal superoksida. Penelitian ini bersifat studi eksperimental yang dilakukan dengan homogenat otak tikus putih (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu satu kelompok kontrol (P0) dan tiga kelompok perlakuan yang dipajankan Cd (P1, P2, P3). Hasil pengukuran menunjukkan rerata aktivitas SOD pada kelompok P0 = 0.0129±0.0015, P1 = 0.0056±0.0008, P2 = 0.0034±0.0008 dan P3 = 0.0005±0.0003. Hasil analisis uji One Way Anova yang dilanjutkan dengan uji Post-Hoc menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna disetiap kelompok perlakuan. Kata – Kata Kunci: Kadmium, otak, Superoksida Dismutase (SOD), senyawa oksigen reaktif (SOR)
PERBEDAAN TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI SEBELUM DAN SESUDAH LATIHAN FISIK INTENSITAS SEDANG PADA PEMAIN FUTSAL Septiyan Dimas Putra Akbar; Dona Marisa; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.384 KB)

Abstract

Abstract: Measuring changes in blood pressure and heart rate during rest or post-exercise is the right method to monitor individual adaptations to the cardiovascular system during exercise. This study aims to determine differences in blood pressure and heart rate before and after moderate intensity physical exercise in futsal players and not futsal players in Banjarmasin. This research is a quasi-experimental study with a pre-test and post-test approach, with a population of futsal players and not futsal players who are in the Faculty of Medicine of Lambung Mangkurat University Banjarmasin. Medium intensity physical exercise that is used is pedaling the ergocycle for 10 minutes. The results of paired t test for blood pressure and the heart rate can be concluded that there were significant differences in blood pressure and heart rate before and after moderate intensity physical exercise in futsal players and not futsal players in Banjarmasin Keywords: futsal player, heart rate, physical exercise moderate intensity, blood pressure Abstrak: Pengukuran perubahan pada tekanan darah dan denyut nadi selama istirahat atau pasca latihan adalah metode yang tepat untuk memantau adaptasi individu terhadap sistem kardiovaskular pada saat latihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas sedang pada pemain futsal dan bukan pemain futsal di Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pendekatan pre-test dan post-test, dengan populasi pemain futsal dan bukan pemain futsal yang berada di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Latihan fisik intensitas sedang yang digunakan adalah mengayuh ergocycle selama 10 menit. Hasil uji t berpasangan untuk tekanan darah dan denyut nadi diperoleh  bahwa terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas sedang pada pemain futsal dan bukan pemain futsal di Banjarmasin.
Perbandingan Volume Oksigen Maksimal Anggota Komunitas South Borneo Runners yang Jogging Rutin dengan Tidak Rutin Aldi Septea Rahman; Asnawati Asnawati; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.108 KB)

Abstract

Abstract: Fit people have higher maximal oxygen consumption value (VO2 max) and they can do physical activity stronger than people who are in unfit condition. One sport that can increase value of maximal oxygen consumption (VO2 max) is aerobic exercise, like jogging. The purpose of research is compare maximal oxygen volume between people who are routine and non-routine in jogging. The research used an analytic observation design by compare between people who are routine (1-2 times a week) in run community of South Borneo Runners Banjarmasin. There are 41 South Borneo Runners members are used as subjects, consist of 26 subject that are categorized as training routine, and 15 subject that are categorized as not training routine. Subjects were selected using consecutive sampling technique. The VO2 max used is multistage fitness test. The VO2 max's value of the group who jogging routinely was 36,95779±5,44765 ml/kg/minutes, and the non-routine group was 29,2667±3,03684 ml/kg/minutes. Statistical test result using independent t test obtained P = 0,00. The conclusion of research is that there are significant differences between subject who exercise routinely, 1-2 times a week, and those who non routine in jogging. Keywords: jogging, VO2 max, multistage fitness test Abstrak: Orang yang kebugarannya baik memiliki nilai konsumsi oksigen maksimal (VO2 max) yang tinggi dan dapat melakukan aktifitas fisik lebih kuat daripada mereka yang dalam kondisi tidak baik. Salah satu olahraga yang dapat meningkatkan VO2 max adalah olahraga aerobik yaitu jogging. Tujuan penelitian adalah membandingkan volume oksigen maksimal antara orang yang rutin dengan yang tidak rutin latihan jogging. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan membandingkan antara kelompok yang rutin dengan yang tidak rutin latihan jogging 1-2 kali seminggu pada komunitas South Borneo Runners Banjarmasin. Anggota komunitas South Borneo Runners yang digunakan sebagai subjek ada 41 subjek, terdiri dari 26 subjek yang dikategorikan rutin latihan dan 15 subjek yang dikategorikan tidak rutin latihan. Subjek dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Tes VO2 max yang digunakan adalah multistage fitness test. Didapatkan nilai VO2 max kelompok yang rutin latihan jogging sebesar 36,9577±5,44765 ml/kg/menit dan kelompok yang tidak rutin sebesar 29,2667±3,03684 ml/kg/menit. Hasil uji statistik menggunakan uji t tidak berpasangan didapatkan nilai p = 0,00. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna antara subjek yang rutin latihan dengan yang tidak rutin latihan jogging setiap 1-2 kali seminggu. Kata-kata kunci: jogging, VO2 max, multistage fitness test
Pengaruh Sarapan terhadap Memori Jangka Pendek pada Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Hendri Kusuma; Asnawati Asnawati; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.804 KB)

Abstract

Abstract: Breakfast can improve blood sugar from fasting condition when someone sleep at night until wake at morning. A theory said that breakfast can improve someone’s short term memory by improving blood sugar level. The purpose of this research is to find out wether breakfast really improve short term memory or not. This research used quasi-experimental with control group design. There’s 61 student of PSPD FK ULM are used as subject of this research, 31 as subjects who were given breakfast, 30 as control group subjects who were not given breakfast. Subjects have an  age range between 17-22 years old, 22 people are male and 39 are female,  all of subject are those who are accustomed to breakfast. Subject given yellow rice as the breakfast. Memory test used is digit span test memory forward, performed twice, before and 30 minute after breakfast. The result of this study are there is a significant difference in short term memory delta scores between subjects given breakfast and subjects not given breakfast with p = 0,00 with Mann-Whitney test. Conclusion of this research is, breakfast has an effect to short term memory. Keywords: breakfast, memory, digit span test memory forward. Abstrak: Sarapan mampu memperbaiki kadar gula darah seseoarng dari keadaan puasa tidur malam hingga pagi hari. Teori yang ada mengatakan sarapan mampu meningkatkan memori jangka pendek seseorang dengan memperbaiki kadar gula darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sarapan benar-benar meningkatkan memori seseorang atau tidak. Pada penelitian ini digunakan desain penelitian kuasi eksperimental dengan grup kontrol. Sebanyak 61 mahasiswa PSPD FK ULM dilibatkan sebagai subjek, 31 orang sebagai subjek perlakuan yang diberikan sarapan dan 30 orang sebagai subjek kontrol yang tidak diberikan sarapan. Subjek penelitian memiliki rentang umur 17-22 tahun, 22 orang berjenis kelamin laki-laki dan 39 orang berjenis kelamin perempuan, semua subjek adalah mereka yang terbiasa sarapan. Subjek diberikan sarapan nasi kuning. Tes memori jangka pendek yang digunakan adalah digit span test forward, dilakukan dua kali, sebelum dan 30 menit sesudah sarapan. Hasil dari penelitian ini adalah ada perbedaan delta score memori jangka pendek yang signifikan antara subjek yang diberikan sarapan dengan subjek yang tidak diberikan sarapan dengan nilai p = 0,00 (<0,05) dengan uji Mann-Whitney. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sarapan berpengaruh terhadap memori jangka pendek. Kata-kata kunci: sarapan, memori, digit span test  memory forward.