Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Teologis-praktis tentang Efektifitas Pelayanan Pendeta yang Membujang Rannu Sanderan; Algu S. Pabangke; Hasrat Dewy Rante Allo; Naomi Sampe
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i2.362

Abstract

This paper intends to examine and describe institutionally the reality in which the Protestant denomination do not recognizes anymore the existence of a celibate life form of the priest. This means that the priests may marry; but in some facts, it turns out that there are still found any unmarried priests. From a theological perspective, we might ask whether the Bible obliges Christian ministers not to marry. This issue is going to study deeper in this paper, by using a qualitative research approach. The object of this research is the humans’ beings, who have their own subjectivity; therefore, in fact, the phenomenological approach is also a perspective in seeing this existing phenomenon.The aims of this studies is to identify various reasons, why there are still some Torajan Church priests who choose to live in celibate; and it is hoped that this research can explain the efficiency of the status of a priest who chooses a celibate way of life in his ministry. Finally, this study aims to show there are several factors that form the basis of the fact that a priest is still single. Not being married is a value that also takes place within the framework of subjective decision-making.  This single status has an impact on the effectiveness and efficiency of the ministry of the single pastor. Penelitian ini hendak menimbang dan menjelaskan secara institusional realitas di mana aliran Protestan tidak lagi mengenal adanya bentuk kehidupan selibat dari imam. Artinya para pendeta boleh kawin; tetapi dalam beberapa kenyataan masih ada oknum pendeta yang tidak menikah. Dari perspektif teologi, kita bisa bertanya apakah Alkitab mewajibkan rohaniwan Kristen untuk tidak menikah? Hal ini yang hendak dikaji dalam tulisan ini, dengan menggunakan pendekatan penelitan kualitatif. Obyek riset adalah manusia yang memiliki subyektifitas masing-masing oleh karena itu, secara faktual pendekatan fenomenologi juga menjadi perspektif dalam melihat gejala yang ada ini.Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali berbagai penyebab mengapa masih ada beberapa pendeta Gereja Toraja memilih untuk hidup membujang; serta diharapkan penelitian ini dapat menjelaskan sejauh mana efisiensi dari status pendeta yang memilihan cara hidup membujang dalam pelayanannya. Pada akhirnya penelitian ini hendak menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang mejadi dasar kenyataan hidup membujang seorang pendeta. Tidak menikah adalah sebuah nilai yang juga mengambil tempat dalam kerangka pengambilan keputusan subyektif. Status membujang ini memiliki dampak bagi efektifitas dan efisiensi pelayanan pendeta yang melajang tersebut.
Pembebasan dalam Teologi Feminis:: Sebuah Analisis terhadap Catcalling dalam Rangka Pencapaian Keadilan Gender Mettang, Marta; Naomi Sampe
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.111

Abstract

Abstract: Catcalling has become a phenomenon that threatens, disturbs and challenges women's dignity, leading to gender inequality. This research offers the intrinsic values found in women based on a feminist theological perspective as an integration of men's understanding that women have the same values as men in general in order to achieve gender equity and justice. This research aims to analyze catcalling in the context of achieving gender justice through the lens of feminist theology. The research method used is a qualitative method by collecting and analyzing data through literature study. This research covers women's intrinsic values based on a feminist theological perspective, the negative impact of catcalling, and the concept of liberation in feminist theology. The results of the discussion show that catcalling, as a form of gender inequality, creates an unsafe environment for women in public spaces. Feminist theology emphasizes the importance of women's intrinsic values, such as dignity, justice, and diversity, in achieving gender justice. Women's liberation in feminist theology also includes the struggle against gender inequality and social violence, including catcalling. Thus, this research contributes to the understanding and efforts to overcome catcalling as a form of verbal sexual harassment that harms women. By understanding the intrinsic values of women in feminist theology, it is hoped that a society that is more just, inclusive and respects the dignity of every individual regardless of gender can be realized. This research can be the basis for concrete steps in building gender justice and responding to challenges of inequality in everyday life such as catcalling. Abstrak: Catcalling telah menjadi fenomena yang mengancam, resahkan dan menantang martabat perempuan yang mengarah pada kesenjangan gender. Penelitian ini menawarkan nilai-nilai intriksik yang terdapat pada perempuan berdasarkan perspektif teologi feminis sebagai integrasi pemahaman laki-laki bahwa perempuan itu memiliki nilai yang sama dengan laki-laki secara umum demi tercapainya keadilan dan keadilan gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis catcalling dalam rangka pencapaian keadilan gender melalui lensa teologi feminis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan mengumpulkan dan menganalisis data melalui studi kepustakaan. Penelitian ini mencakup nilai-nilai intrinsik perempuan berdasarkan perspektif teologi feminis, dampak negatif catcalling, dan konsep pembebasan dalam teologi feminis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa catcalling, sebagai bentuk ketidaksetaraan gender, menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi perempuan di ruang publik. Teologi feminis menegaskan pentingnya nilai-nilai intrinsik perempuan, seperti martabat, keadilan, dan keberagaman, dalam mencapai keadilan gender. Pembebasan perempuan dalam teologi feminis juga mencakup perjuangan melawan ketidaksetaraan gender dan kekerasan sosial, termasuk catcalling. Dengan demikian, penelitian ini adalah memberikan kontribusi pada pemahaman dan upaya mengatasi catcalling sebagai bentuk pelecehan seksual verbal yang merugikan perempuan. Dengan memahami nilai-nilai intrinsik perempuan dalam teologi feminis, diharapkan dapat terwujud masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan menghormati martabat setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Penelitian ini dapat menjadi landasan bagi langkah-langkah konkret dalam membangun keadilan gender dan merespons tantangan ketidaksetaraan dalam kehidupan sehari-hari seperti catcalling.