Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SOCIAL CULTURE AND PUBLIC PARTICIPATION IN THE DEVELOPMENT OF KAMPUNG KOTA: A CASE STUDY IN BANDUNG INDONESIA Ana Ramdani Sari
SAMPURASUN Vol 7 No 2 (2021): Sampurasun Vol. 7 No. 2, 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/sampurasun.v7i2.2168

Abstract

Kampung Kota has been associated with slums due to its substandard living condition despite having different characteristics to slums. To improve the quality of life of Kampung Kota community; it is important to actively involve the community itself to transform Kampung Kota to better direction and to exercise the democracy within urban development. The research aims to understand in what ways the community has been involved, how the community perceived their involvement, how the community wish to be involved and in what ways community participation could be improved in transforming Mekarjaya and maximizing its social capital. The research was conducted using qualitative methodology and case study strategy. Interviews, observation and documentary evidences are used to collect the data and to validate the date by cross-checking every information using triangulation technique. The research finds that the community has not been actively involved in many programs and projects due to the nature of the government programs that support the funding. However, most of the people; whose voice are generally represented by the head of RT/RW (Community unit/neighbourhood unit); are far more eager and willingly contribute to the development if they have the platform to do so.
Faktor-Faktor Preferensi Hunian Vertikal untuk Kaum Dewasa Muda: Studi Kasus di Kota Bandung Kunthi Herma Dwidayati; Ana Ramdani Sari; Lucy Yosita
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 1 (2022): Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i1.40245

Abstract

Hunian merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Hunian pun beragam mulai dari hunian tapak sampai dengan hunian vertikal berbagai tipe. Hunian vertikal merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di kota besar sekaligus untuk mencegah urban sprawl dan memaksimalkan efisiensi lahan. Hunian vertikal bukan tipe hunian baru di Indonesia, namun sebagian besar masyarakat belum banyak yang tinggal di hunian tipe ini termasuk kaum milenial atau dewasa muda. Kaum dewasa muda sebagian besar berada di usia produktif (26-44 tahun) dimana usia ini adalah usia dominan dan rata-rata sudah bekerja serta mulai berkeluarga. Kelompok usia ini adalah kelompok yang paling dominan di beberapa kota besar, salah satunya adalah Kota Bandung. Selain itu, kondisi pandemi dalam 2 tahun ini dialami juga diindikasi mempengaruhi preferensi mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi preferensi kaum milenial atau dewasa muda dalam memilih hunian vertikal di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat kaum dewasa muda terhadap hunian vertikal cukup tinggi dan faktor yang paling dominan adalah kualitas bangunan diikuti dengan faktor ekonomi dan aksesibilitas.
PENINGKATAN TINGKAT LITERASI MASYARAKAT MELALUI REVITALISASI PERPUSTAKAAN DESA KERTAWANGI, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BANDUNG BARAT Ana Ramdani Sari; Indah Susanti; Lilis Widaningsih; Asep Yudi Permana; Diah Cahyani Permana Sari
Lentera Karya Edukasi Vol 2, No 3 (2022): Jurnal LENTERA KARYA EDUKASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengembangan dan Kajian Sarana dan Prasarana Pendidikan (P2K Sarprasdik)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literasi merupakan salah satu indikator kesejahteraan dan mutu Pendidikan suatu negara. Salah satu cara untuk meningkatkan literasi adalah dengan membangun budaya dan meningkatkan motivasi membaca masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan proses Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan untuk merevitalisasi Perpustakaan Desa Kertawangi dalam rangka meningkatkan tingkat literasi warga.Revitalisasi fisik menjadi langkah awal dalam mendukung keberlangsungan Perpustakaan desa menuju pengelolaan yang mandiri. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan perpustakaan desa dalam digitalisasi sistem perpustakaan. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan partisipasai masyarakat untuk mencapai suatu tujuan tertentu, baik dari identifikasi potensi dan masalah, perencanaan, implementasi, dan evaluasi program. Kegiatan PkM ini terbagi menjadi lima tahap yaitu tahap pemetaan potensi, perencanaan program, pembenahan fisik, sosialisasi program, dan sosialisasi manajemen perpustakaan.
Adaptasi Perumahan terhadap Kebutuhan Generasi Milenial Pasca Pandemi COVID-19 di Indonesia Sari, Ana Ramdani; Dwidayati, Kunthi Herma; Yosita, Lucy
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.11497

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan adaptasi perumahan dalam menghadapi Pandemi COVID-19. Penelitian ini berfokus pada persepsi generasi milenial terhadap ruang di tempat tinggal yang kemudian dievaluasi kualitas ruang berdasarkan persepsi responden. Subyek ini dipilih karena kelompok usia ini mendominasi demografi, sehingga generasi millenial adalah target pasar utama perumahan. Penting bagi penyedia perumahan, baik lembaga perumahan swasta maupun negara, untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan ini, terutama setelah Pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan total 113 responden yang sebagian besar berdomisili di Pulau Jawa. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dan pertanyaan terbuka dalam survei. Data kuantitatif diperoleh melalui dua kali survei dan kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun tingkat kepuasan penghuni cukup memuaskan (71%), namun kualitas ruang di rumah tinggal belum mencukupi kebutuhannya yang semakin meningkat. Banyak dari generasi milenial yang sebagian besar bekerja di rumah, tidak memiliki ruangan yang layak, furnitur yang ergonomis, pencahayaan yang memadai, dan ventilasi udara untuk bekerja. Sebagian besar rumah mereka juga kekurangan ruang yang dibutuhkan setelah Pandemi, seperti beranda, musala, dan sensor tanpa sentuhan. Masukan ini akan membantu penyedia perumahan membangun rumah yang beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan generasi milenial setelah Pandemi.Kata kunci: Adaptasi Perumahan, Milenial, Pandemi, Persepsi RuangABSTRACTThe study aims to discover housing adaptability in the face of the COVID-19 Pandemic. It focuses on Millennials' perception of the spaces at their home, then evaluating the quality of space based on their perception. The subject was chosen as the people in this age bracket dominate the demography, meaning millennials are the primary target market for housing. It is essential for housing providers, both private and state housing agencies, to adapt to these changes, especially after the Pandemic. The study uses both qualitative and quantitative approaches. The study included a total of 113 respondents who reside mainly in Java Island. The qualitative data is obtained through in-depth interviews and open questions in a survey. The quantitative data is obtained through two surveys and then analyzed using the descriptive-quantitative method. The result shows that even though the residents' satisfaction level is quite satisfactory (71%), the quality of space in their home is not sufficient for their growing needs. Many of these millennials, which work primarily at home, do not have a proper space, ergonomic furniture, adequate lighting, and air ventilation for working. Most of their homes also lack few spaces needed after the Pandemic, such as porch, prayer room, and no-touch censor. This input would help the housing providers build houses that adapt to the growing needs of millennials after the Pandemic.Keywords: Housing Adaptability, Millennials, Pandemic, Perception of Space
Menuju Perencanaan Lansekap Apartemen yang Berkelanjutan Setelah Covid-19: : Perencanaan Berdasarkan Fenomena atau Hanya Atas Faktor Landasan Kebutuhan Kapitalisme? Yosita, Lucy; Nurcahya, Yan; Dwidayati, Kunthi Herma; Sari, Ana Ramdani
Journal of Sustainable Construction Vol 1 No 1 (2021): Journal of Sustainable Construction
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.871 KB) | DOI: 10.26593/josc.v1i1.5140

Abstract

Perancangan lansekap akan senantiasa mengalami perkembangan mengikuti kebutuhan manusia yang dinamis dan tuntutan perubahan zaman. Dengan adanya fenomena Covid-19 juga menjadikan perencanaan kebutuhan lansekap apartemen menjadi pertanyaan besar ke mana akan mengalami perubahan, karena kota-kota besar akan senantiasa berkembang dan fenomena Covid-19 menjadikan disaster management perencanaan lansekap menjadi pertimbangan dasar yang perlu menjadi landasan dalam mem-breakdown ke arah mana konsep-konsep baru perlu dikembangkan. Analisis ini dilakukan secara kualitatif, berupaya menganalisis dan mengambil contoh-contoh kasus pula dan mengevaluasinya sehingga dapat diketahui elemen-elemen yang perlu diperhatikan dalam perancangan lansekap apartemen di masa mendatang. Hasil dari penelitian ini adalah berupa perbandingan antara ke-3 kasus apartemen yang dibangun pada periode berbeda antara tahun 2009-2016. Rekomendasi penelitian ini adalah berupa usulan ketetapan regulasi perbandingan prosentase antara fungsi perumahan dan sarana prasarana komersial, menerapkan regulasi yang ada mengenai sarana prasarana (dari Kementerian PU) secara lebih konsekuen, ketetapan regulasi mengenai aturan vegetasi yang sesuai kaidah lingkungan hidup dan degradasi yang terjadi, proporsi ruang bermain anak yang ramah anak, dan mengkaji serta menerapkan adaptasi adaptasi ruang yang terjadi sebagai adaptasi terhadap perencananaan ruang setelah pandemik yang berorientasi keberlanjutan kota dan masyarakat secara jangka panjang.