Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGUATAN PERAN IBU DALAM PENANGGULANGAN STUNTING MELALUI MODUL EDUKASI Widia Sari; Sri Wulandari; Kartini Kartini; Ratna Dewi; Rian Adi Pamungkas
Devote: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global Vol. 4 No. 2 (2025): Devote : Jurnal Pengabdian Masyarakat Global, Juni 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/devote.v4i2.3878

Abstract

Stunting is a major child health issue caused by chronic malnutrition and negatively affects children’s growth and development. One key risk factor is the lack of maternal knowledge regarding nutrition, childcare, and stunting prevention. This community engagement program aimed to enhance mothers' understanding of stunting prevention through an interactive educational module. The activity was conducted on December 24, 2024, at Posyandu Beringin 2, Sukawali Village, Tangerang Regency, involving 46 mothers of children aged 1–5 years and 5 health cadres. The method included needs assessment, development of contextual educational materials, and implementation of education and MPASI (complementary feeding) preparation demonstrations. The results indicated a significant improvement in mothers’ knowledge post-intervention. Most children had normal nutritional status, though some were at risk of stunting, indicating the need for follow-up. This program demonstrated that the use of educational modules and the active involvement of community health cadres are effective in increasing maternal awareness about the importance of nutrition during the first 1000 days of life. In conclusion, strengthening mothers’ roles through community-based education is an effective and sustainable strategy for stunting prevention.
Aktivitas Fisik (YOGA) dan Kelelahan (FATIGUE) pada Pasien Wanita Kanker Payudara di RS Kanker Dharmais Ratna Dewi; Anita Sukarno; Ety Nurhayati; Syaida Nur Sapitri; Melati Putri Kurnia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i10.16477

Abstract

ABSTRACT Breast cancer is common in women, affecting 2.1 million women every year. Cancer treatment is chemotherapy, a side effect of chemotherapy for breast cancer patients that often occurs fatigue. Non-pharmacological therapy yoga physical activity is efficacious in reducing fatigue in breast cancer patients. The purpose of the study was to identify the relationship between physical activity and fatigue in female breast cancer patients at Dharmais Cancer Hospital. The study used a correlation approach Cross Sectional research design. Samples taken 200 people. The study used BFI (Brief Fatigue Inventory) and IPAG-SF (Activity Quitionnair Short Form) questionnaires and bivariate data analysis using Spearman's non-parametric correlation test. The results found that the age of 45-65 years was around 67.5%, the majority of therapy types used chemotherapy 42%, moderate fatigue as much as 48%, and moderate physical activity (yoga) around 52.5%. This study shows a p value of 0.262 there is no relationship between physical activity and fatigue. Conclusion There is no relationship between physical activity (yoga) and fatigue in female breast cancer patients at Dharmais Hospital. Keywords: Breast Cancer, Physical Activity, Fatigue  ABSTRAK Kanker payudara yang sering terjadi pada wanita, berdampak pada 2,1 juta wanita setiap tahun. Pengobatan kanker berupa kemoterapi, efek samping kemoterapi penderita kanker payudara yang sering terjadi kelelahan. Aktivitas fisik yoga terapi non-farmakologis berkhasiat mengurangi kelelahan pada pasien kanker payudara. Tujuan penelitian mengidentifikasi hubungan aktivitas fisik dan kelelahan (fatigue) pada pasien wanita kanker payudara di RS Kanker Dharmais. Penelitian menggunakan pendekatan korelasi desain penelitian Cross Sectional. Sampel yang diambil 200 orang. Penelitian menggunakan kuisioner BFI (Brief Fatigue Inventory) dan IPAG-SF (Activity Quitionnair Short Form) dan  analisis data bivariate menggunakan uji korelasi non parametric Spearman. Hasil ditemukan usia 45-65 tahun sekitar 67,5%, jenis terapi mayoritas menggunakan kemoterapi 42%, kelelahan sedang sebanyak 48%, dan aktivitas fisik (yoga) sedang sekitar 52,5%. Penelitian ini menunjukkan nilai p 0,262 tidak terdapat hubungan Antara aktivitas fisik dan kelelahan. Simpulan tidak terdapat hubungan Antara aktivitas fisik (yoga) dan kelelahan pada pasien wanita kanker payudara di RS Dharmais. Kata Kunci: Kanker Payudara, Aktivitas Fisik, Kelelahan
Analisis Asuhan Keperawatan Dengan Fokus Intervensi Latihan Batuk Efektif Pada Pasien Pneumonia CAP Ditandai Dengan TB Paru Di Paviliun Darmawan 5 RSPAD Gatot Soebroto Jessica Naurah Ibrahim; Ratna Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1007

Abstract

Pneumonia Community-Acquired Pneumonia (CAP) yang disertai Tuberkulosis (TB) Paru merupakan kondisi infeksi saluran pernapasan yang dapat semakin kompleks apabila disertai komorbiditas Chronic Kidney Disease (CKD) Stadium V yang menjalani hemodialisis, karena penurunan sistem imun, retensi cairan, dan penumpukan sekret yang memperberat gangguan bersihan jalan napas. Penelitian ini bertujuan menganalisis asuhan keperawatan dengan fokus intervensi latihan batuk efektif pada pasien Pneumonia CAP ditandai dengan TB Paru di Paviliun Darmawan 5 RSPAD Gatot Soebroto. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, penegakan diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi pada satu pasien lanjut usia selama tiga hari perawatan, dengan latihan batuk efektif sebagai intervensi nonfarmakologis utama untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif. Hasil studi menunjukkan peningkatan skor bersihan jalan napas dari 1 menjadi 3 dalam tiga hari, ditandai dengan berkurangnya sesak napas dan bunyi napas tambahan, peningkatan kemampuan pasien mengeluarkan sekret secara mandiri, frekuensi napas yang stabil pada 20 kali per menit, serta saturasi oksigen yang dipertahankan pada 99%. Pasien juga mampu mendemonstrasikan kembali teknik batuk efektif secara mandiri. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa latihan batuk efektif merupakan intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman dan efektif dalam memperbaiki bersihan jalan napas pada pasien pneumonia dengan komorbiditas kompleks,sehingga direkomendasikan untuk diintegrasikan sebagai bagian dari asuhan keperawatan standar pada pasien dengan kondisi serupa.