Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Perbedaan Asupan Zat Gizi Berdasarkan Status Gizi dan Siklus Menstruasi pada Remaja Putri di SMP Gatra Desa Kohod Kabupaten Tangerang Yulia Wahyuni; Siti Hanifah; Sari Indah Permata; Ernalinda Rosya; Ety Nurhayati; Widia Sari
Jurnal Kesehatan Vol 13, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v13i2.12647

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan fisik, psikis, dan psikososial. Salah satu masalah yang terjadi pada remaja ialah status gizi kurang dengan siklus menstruasi yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan zat gizi makro dan mikro berdasarkan status gizi dan siklus menstruasi pada remaja putri di SMP Gatra. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Subjek penelitian terdiri dari 60 siswi kelas VII, VIII, dan IX menggunakan teknik total sampling. Uji statistik yang digunakan ialah uji t-test independent. Hasil Uji perbedaan asupan karbohidrat berdasarkan status gizi normal dan tidak normal didapatkan p 0.037, asupan protein p 0.177, asupan lemak p 0.030, asupan kalsium p 0.024, asupan magnesium p 0.080, dan asupan zat besi p 0.269. Hasil uji perbedaan asupan karbohidrat berdasarkan siklus menstruasi normal dan tidak normal didapatkan p 0.057, asupan protein p 0.190, asupan lemak p 0.452, asupan kalsium p 0.861, asupan magnesium p 0.0624, dan asupan zat besi p 0.890. Berdasarkan hasil uji perbedaan tersebut asupan karbohidrat, lemak dan kalsium berdasarkan status gizi normal dan tidak normal memiliki nilai p 0.05, artinya ada perbedaan asupan karbohidrat, lemak dan kalsium berdasarkan status gizi normal dan tidak normal. Hasil uji perbedaan asupan makro dan mikro berdasarkan siklus menstruasi normal dan tidak normal memiliki nilai p 0.05, artinya tidak ada perbedaan asupan asupan zat gizi makro dan mikro berdasarkan siklus menstruasi normal dan tidak normal.
PENINGKATAN KAPASITAS KADER DALAM UPAYA PENEMUAN DINI KASUS STUNTING PADA ANAK MELALUI DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG PADA ANAK DI RW 12 KELURAHAN KAPUK KECAMATAN CENGKARENG JAKARTA BARAT Widia Sari; Ety Nurhayati; Mira Asmirajanti; Budi Mulyana; Melati Putri Kurnia; Listia Handayani; Michele Valensia Tapilatu; Fitri Nadiya; Virly Virda Verlina; Sherly Kalalo; Sonia; Cesilia; Juita Amaral; Clara Maria de Jesus Aparicio; Rio Ardiyah Situmorang; Muhammad Rizki Rafliyanto
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 4 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.526 KB) | DOI: 10.31949/jb.v3i4.3335

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang berbeda dan saling mempengaruhi satu yang lainnya yang perlu dipantau secara khusus dan berkala terutama pada lima tahun pertama. Pemantauan ini dapat dilakukan oleh orang tua ataupun oleh kader posyandu dan petugas kesehatan melalui upaya deteksi dini tumbuh kembang baik secara manual ataupun berbasis aplikasi. Penggunaan aplikasi tentunya akan memudahkan orang tua dan kader dalam hal pemantauan. Salah satu aplikasi yang direkomendasikan adalah PrimaKu yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, dilakukan pengukuran kemampuan kader terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sebelum dan sesudah kegiatan serta mentoring penggunaan aplikasi PrimaKu kepada kelompok sasaran kader posyandu sebanyak 42 kader. Hasil kegiatan didapatkan pengetahuan kader sudah cukup baik baik sebelum dan sesudah dilakukan mentoring. Selama mentoring penggunaan aplikasi PrimaKu, kader posyandu antusias dan mampu menggunakan aplikasi PrimaKu. Dengan pemahaman yang baik dan mampu menggunakan aplikasi PrimaKu tersebut, diharapkan para kader dapat mensosialisasikan penggunaan aplikasi PrimaKu pada orang tua sehingga orang tua dapat melalukan monitoring mandiri dirumah terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kunci Sukses Komunikasi Perawat dalam Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Mira Asmirajanti; Ety Nurhayati; Widia Sari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 10 No 1 (2022): Dunia keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.007 KB) | DOI: 10.20527/jdk.v10i1.26

Abstract

Pendahuluan: Perawat sebagai petugas kesehatan berperan penting dalam peningkatan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat. Perawat harus memberikan informasi dan pendidikan kesehatan secara terus menerus dengan menggunakan komunikasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunikasi verbal dan non-verbal perawat dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif secara potong lintang. Responden dipilih secara purposive sampling dari masyarakat di sekitar Bandung dan Jakarta. Berjumlah 118 orang yang dipilih secara insidental, pernah mendapat pelayanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas, berusia lebih dari 20 tahun. Sebelum pengumpulan data mereka diberikan gambaran tentang komunikasi verbal dan non-verbal. Responden yang bersedia dilanjutkan pada pengumpulan data dengan kuesioner elektronik dan dianalisis secara deskriptif dan statistik inferensial. Hasil: Median komunikasi verbal dan non-verbal perawat umunya baik, 34.18% dan 19.61%. Median upaya peningkatan kesehatan juga baik, 50.12%. Komunikasi verbal dan non-verbal perawat dalam pemberian pendidikan kesehatan terhadap peningkatan kesehatan masyarakat adalah signifikan (p<0.000) dan berpengaruh yang kuat. Setiap kali perawat memberikan pendidikan kesehatan dengan baik dapat meningkatkan 0.743 kali kesehatan masyarakat. Kesimpulan dan saran: Komunikasi perawat yang baik pada pendidikan kesehatan akan meningkatkan kesehatan masyarakat. Komunikasi perawat harus terus ditingkatkan. Masyarakat yang telah mendapat pendidikan kesehatan diharapkan dapat memelihara dan mempertahankan kesehatannya sehingga biaya kesehatan efisien.
The Impact of Nutrition Education on Healthy Eating Habits Among Adolescents Widia Sari; Ni Putu Tirka Widanti; Ristya Widi Endah Yani; Jehanara Jehanara; Eko Prasetyo
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 1: March 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.29 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8i1.1820

Abstract

Nutrition is an essential component of human growth, especially in adolescents. Therefore, eating healthy food is very important for teenagers. But unfortunately, not all teenagers understand which food is healthy or not. Therefore, there is a need for good nutrition education for adolescents. This research was conducted to see how the influence of nutrition education on healthy eating habits for adolescents. This research will be performed using a qualitative approach. The data used in this study comes from the results of previous research and studies which still have relevance to the contents of this research. The results of this study then found that a lack of nutritional supply can cause various diseases for the health of adolescents. Therefore, nutrition education needs to be given to adolescents properly. Knowledge of the nutritional content of food can then change adolescents’ diets in a healthy direction. Abstrak: Gizi merupakan komponen penting dalam pertumbuhan manusia, terutama pada remaja. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan sehat sangat penting bagi remaja. Namun sayangnya, tidak semua remaja paham mana makanan yang sehat atau tidak. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan gizi yang baik bagi remaja. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh pendidikan gizi terhadap kebiasaan makan sehat pada remaja. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil penelitian sebelumnya dan penelitian yang masih memiliki relevansi dengan isi penelitian ini. Hasil penelitian ini kemudian menemukan bahwa kurangnya suplai gizi dapat menyebabkan berbagai penyakit bagi kesehatan remaja. Oleh karena itu, pendidikan gizi perlu diberikan kepada remaja dengan baik. Pengetahuan tentang kandungan gizi makanan kemudian dapat mengubah pola makan remaja ke arah yang sehat.
THE EFFECT OF BIBLIOTHERAPY ON ANXIETY LEVELS IN CHILDREN AT ANNISA TANGERANG HOSPITAL Widia Sari; Siti Meilinda Cahyani; Rian Adi Pamungkas; Yayah Karyanah
Jurnal Ilmiah Perawat Manado (Juiperdo) Vol 10 No 01 (2022): JULI
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47718/jpd.v10i1.1629

Abstract

ABSTRAK Hospitalisasi merupakan salah satu penyebab kecemasan pada anak usia sekolah. Umumnya terjadi peningkatan cemas pada anak akibat proses penyembuhan dan treatmen yang dijalani oleh anak. Salah satu yang didapat diberikan untuk mengurangi kecemasan pada anak usia sekolah adalah biblioterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh biblioterapi terhadap tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre eksperimen one group pre-test and post-test design. Sampel dalam penelitian ini adalah 39 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan intervensi biblioterapi dimana mean tingkat kecemasan sebelum adalah 3.95 dan setelah diberikan intervensi menjadi 1.28. Hasil uji statistic dengan paired sample t test didapat nilai p = 0,000 dengan CI 95% yang artinya ada pengaruh biblioterapi terhadap tingkat kecemasan anak di RS Annisa Tangerang. Oleh karena itu, pemberian biblioterapi direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia sekolah yang sedang menjalani hospitalisasi. Kata kunci: Biblioterapi, kecemasan, hospitalisasi, anak usia sekolah Abstract Hospitalization can cause anxiety in school-age children. Children become increasingly anxious and this affects the healing process. For children who are hospitalized, to eliminate anxiety can be done using books as a therapeutic medium which is also called bibliotherapy. The research aims to identify the effect of bibliotherapy on anxiety levels of the effect of hospitalization on school-age children. This research is a quantitative study with a research design using the Pre-Experiment method and the research design used is a one group pre-test and post-test design with a sample of 39 respondents. The results showed the level of anxiety pre-test and post-test conducted biblioterapim intervention can be known that (mean) average level of anxiety before (pre-test) given bibliotherapy intervention of 3.95 (mean) average level of anxiety after (post -test) given biblioterpi intervention of 1.28. Hypothesis test results Paired Simple T-Test at a significance level of 95% (α = 0.05 indicates that the value of p value= 0,000) p value <α, ie 0,000 <0.05 means that Ho is rejected and Hₐ is accepted which indicates that there is an influence bibliotherapy on the anxiety level of the effect of hospitalization on school-age children in Tangerang an-nisa hospital in 2019. Suggestions are expected for hospitals to implement bibliotherapy interventions for children undergoing hospitalization. Keywords: Bibliotherapy, anxiety, hospitalization, school age children
Penyuluhan Sistem Informasi Posyandu sebagai Upaya Mewujudkan Bebas Stunting Arief Ichwani; Mieke Nurmalasari; Nizirwan Anwar; Widia Sari; Badie Uddin
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 5 No 1: JANUARI 2024
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/wpbnxg50

Abstract

Desa Pasirwaru merupakan desa dengan jumlah penduduk 5.511 jiwa dan memiliki program unggulan di bidang kesehatan yaitu posyandu. Posyandu Anggrek I adalah posyandu di Desa Pasirwaru yang memiliki anggota 60 balita, 10 ibu hamil. Adapun peranan dari posyandu ini yaitu untuk memberdayakan, memberikan kemudahaan layanan kesehatan, penyuluhan untuk mengatasi stunting dengan pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, memberikan ASI dan MPASI, akses air bersih, dan memantau pertumbuhan balita di posyandu. Kegiatan pemantauan pertumbuhan balita, dan ibu hamil di posyandu harus didukung oleh data yang lengkap dan akurat dari hasil setiap kegiatan posyandu. Adapun laporan data balita, ibu hamil saat ini di Posyandu Anggrek I masih menggunakan buku tulis. Hal tersebut menyebabkan beberapa permasalahan seperti buku mudah rusak, hilang, ketidak sesuaian dan ketidak akuratan pelaporan, duplikasi data , tidak konsisten, hak akses data yang tidak terkondisikan, media penyimpanan bersifat sementara, sulit dilakukan pengolahan data untuk menghasilkan informasi penting tentang gambaran kondisi balita dan ibu hamil di lingkungan posyandu. Oleh karena itu posyandu harus memiliki Sistem Informasi Posyandu untuk pelaporan data, pencarian data, pemantauan pertumbuhan balita dan ibu hamil yang diakses dengan mudah dan cepat sehingga memiliki keakuratan, keamanan, ketersediaan, kelengkapan data berkelanjutan dan mendukung pengambilan keputusan dengan efektif dan efesien. Metode yang digunakan pada pengabdian masyarakat ini yaitu penyuluhan kesehatan dan workshop penggunaan Sistem Informasi Posyandu. Adapun hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan kesadarana akan pentingnya kesehatan, tersedianya sistem informasi posyandu yang dapat digunakan masyarakat dan kader posyandu dengan baik dan benar untuk pemantauan tumbuh kembang anak dan ibu hamil.
Penerapan terapi pemberian madu dalam menurunkan frekuensi diare pada pasien anak dengan gastroenteritis akut (GEA) Utami Qhoirunnisa; Widia Sari; Titin Nurmaningsih; Kartini Kartini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2785

Abstract

Background: Acute gastroenteritis (GAE) is a major cause of morbidity and mortality in children. Diarrhea, the primary clinical manifestation of AE, carries the risk of dehydration, requiring comprehensive nursing care, including the use of complementary honey therapy. Purpose: To describe the application of nursing care through the administration of honey to reduce the frequency of diarrhea in pediatric patients diagnosed with acute gastroenteritis (GAE). Method: This nursing care activity uses a case study approach, encompassing assessment, establishing a nursing diagnosis, planning interventions, implementing interventions, and evaluating outcomes. The activity was conducted in the Ade Irma Suryani Pavilion Room, 2nd floor, Gatot Soebroto Army Hospital, from January 20–22, 2026. The study subjects were pediatric patients diagnosed with acute gastroenteritis (GAE), characterized by increased frequency of loose, watery bowel movements without severe complications. The objectives of this study were to reduce the frequency of diarrhea and improve stool consistency in pediatric patients with AE. The intervention consisted of administering 5 ml of pure honey three times a day for 24 hours as a complementary therapy alongside standard medical therapy. Data collection included observing bowel movement frequency, assessing stool consistency using the Bristol Stool Scale, and monitoring general condition and signs of dehydration. Data were described by comparing the patients' condition before and after honey administration to assess changes in diarrhea frequency and stool consistency. Results: The patient experienced diarrhea with a frequency of 4–5 times per day with a liquid, mucus-like consistency without blood, accompanied by vomiting three times, decreased appetite, fluid intake of less than 1 liter per day, and the child appeared weak. Physical examination showed sunken eyes, dry lips, slow return of skin turgor (±2 seconds), weak pulse, and weight loss from 14.5 kg to 13.70 kg. Fluid balance showed a negative result of -223 ml/24 hours. Stool consistency based on the Bristol Stool Scale was type 7 (liquid), and bowel sounds were heard to be increased. Routine stool examination showed positive fungi indicating an imbalance in intestinal flora (dysbiosis) and positive fiber indicating increased intestinal peristalsis. Based on the intervention results table, on the first day the frequency of diarrhea was still 3-4 times per day with stool consistency type 7 (liquid), on the second day the frequency of defecation decreased to 1 time per day with consistency type 6 (liquid mixed with dregs), and on the third day it remained 1 time per day with consistency type 4 (long, soft, and smooth). Conclusion: A three-day honey intervention for pediatric patients diagnosed with Acute Gastroenteritis (AEG) resulted in a decrease in bowel movement frequency accompanied by a gradual improvement in stool consistency. The application of nursing care combined with honey therapy provided a positive clinical response in helping reduce the frequency of diarrhea in children with acute gastroenteritis. Suggestion: Honey administration can be considered as an adjunct therapy for children with acute gastroenteritis, as recommended by healthcare professionals. Keywords: Acute gastroenteritis; Diarrhea frequency; Honey therapy; Pediatric patients Pendahuluan: Gastroenteritis akut (GEA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Diare sebagai manifestasi klinis utama GEA berisiko menyebabkan dehidrasi, sehingga memerlukan asuhan keperawatan komprehensif termasuk pemanfaatan terapi komplementer madu. Tujuan: Untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan melalui pemberian madu dalam menurunkan frekuensi diare pada pasien anak dengan diagnosis Gastroenteritis akut (GEA). Metode: Kegiatan ini merupakan asuhan keperawatan dengan pendekatan studi kasus yang mencakup tahap pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan intervensi, serta evaluasi hasil. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Paviliun Ade Irma Suryani lantai 2 RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 20–22 Januari 2026. Subjek penelitian adalah pasien anak dengan diagnosis medis Gastroenteritis Akut (GEA) yang ditandai oleh peningkatan frekuensi buang air besar bertekstur cair tanpa disertai komplikasi berat. Sasaran dalam penelitian ini adalah penurunan frekuensi diare dan perbaikan konsistensi feses pada pasien anak dengan GEA. Intervensi diberikan berupa pemberian madu murni dengan dosis 5 ml selama 3X24 jam sebagai terapi komplementer bersamaan dengan terapi medis standar. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi frekuensi buang air besar, penilaian konsistensi feses menggunakan Skala Tinja Bristol, serta pemantauan kondisi umum dan tanda-tanda dehidrasi. Data digambarkan dengan cara membandingkan keadaan pasien sebelum dan setelah pemberian madu untuk melihat perubahan frekuensi diare dan konsistensi feses. Hasil: Pasien mengalami diare dengan frekuensi 4–5 kali per hari dengan konsistensi tinja cair berlendir tanpa adanya darah, disertai muntah sebanyak tiga kali, nafsu makan menurun, asupan cairan kurang dari 1 liter per hari, serta anak tampak lemas. Pemeriksaan fisik menunjukkan mata tampak cekung, bibir kering, turgor kulit kembali secara lambat (±2 detik), nadi teraba lemah, dan terjadi penurunan berat badan dari 14,5 kg menjadi 13,70 kg. Balance cairan menunjukkan hasil negatif sebesar –223 ml/24 jam. Konsistensi feses berdasarkan Skala Tinja Bristol berada pada tipe 7 (cair), dan bising usus terdengar meningkat. Pemeriksaan feses rutin menunjukkan jamur positif yang mengindikasikan adanya ketidakseimbangan flora usus (dysbiosis) serta serat positif yang menunjukkan peningkatan peristaltik usus. Berdasarkan tabel hasil intervensi, pada hari pertama frekuensi diare masih 3–4 kali per hari dengan konsistensi feses tipe 7 (cair), pada hari kedua frekuensi buang air besar menurun menjadi 1 kali per hari dengan konsistensi tipe 6 (cair bercampur ampas), dan pada hari ketiga tetap 1 kali per hari dengan konsistensi tipe 4 (berbentuk panjang, empuk, dan halus). Simpulan: Intervensi pemberian madu pada pasien anak dengan diagnosis medis Gastroenteritis Akut (GEA) selama tiga hari menunjukkan penurunan frekuensi buang air besar disertai perbaikan konsistensi feses secara bertahap. Penerapan asuhan keperawatan yang dikombinasikan dengan terapi madu memberikan respons klinis yang positif dalam membantu menurunkan frekuensi diare pada anak dengan gastroenteritis akut. Saran: Pemberian madu dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping pada anak dengan gastroenteritis akut sesuai anjuran tenaga kesehatan.