Wianthi Septia Witasari
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH JENIS KOAGULAN DAN VARIASI PH TERHADAP KUALITAS LIMBAH CAIR DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT KAWASAN INDUSTRI INTILAND Dicky Morina Hutabarat; Wianthi Septia Witasari; Rio Baskoro
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 3 (2022): September 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i3.464

Abstract

PT Kawasan Industri Intiland merupakan salah satu Kawasan Industri di Indonesia tepatnya di Ngoro Mojokerto yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan guna mengolah limbah dari proses produksi pabrik yang ada di dalam kawasan. IPAL ini menggunakan system pengolahan biologi lumpur aktif yang digabung dengan pengolahan kimia menggunakan  metode koagulasi-flokulasi. Salah satu faktor dalam keberhasilan proses koagulasi-flokulasi adalah penambahan bahan kimia sebagai koagulan dan kondisi pH pada air limbah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh jenis koagulan dan pengaruh variasi pH pengolahan terhadap penurunan kadar pencemar air limbah pada unit koagulasi-flokulasi. Penelitian dilakukan pada skala Laboratorium menggunakan metode Jar test pada pengadukan cepat 100 rpm dan pengadukan lambat 50 rpm. Koagulan yang digunakan adalah Al2(SO4)3, FeCl3, FeSO4, dan Ca(OH)2. Flokulan yang digunakan jenis Poly Anionic Acrylamide. Variasi pH dilakukan pada pengolahan pH 7, 8, dan 9. COD, TSS dan Kekeruhan adalah parameter yang dianalisis pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koagulan FeCl3 dengan variasi pH 8 paling efektif menurunkan kadar COD, TSS, dan kekeruhan dengan nilai masing-masing parameter tersebut yaitu kadar COD 160 mg/L, kadar TSS 16 mg/L, dan kadar kekeruhan 21 NTU.
Pemanfaatan Precipitated Calcium Carbonat dari Batu Kapur dalam Pembuatan β- TCP sebagai Bahan Dasar Implan Tulang Noor Isnaini Azkiya; Fanny Prasetia; Rosita Dwi Chrisnandari; Wianthi Septia Witasari
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.272 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.208

Abstract

One of the biocompatible materials that are often used as a basic materials for bone and dental implants is tricalcium phosphate. This material can be produced from precipitated calcium carbonate (PCC) limestone because it has a very high calcium content. The method used to synthesize tricalcium phosphate was deposition of CaO and H3PO4 precursors in ethanol media. The results of the synthesis was characterized using FT-IR instruments, AAS, UV-Vis spectroscopy, and XRD. Based on the results of the UV-Vis spectroscopic analysis, the Ca/P ratio of the synthesis results obtained was 1.87. FT-IR test showed the presence of a Ca-O group at wave number 1400 cm-1 and PO43- group at wave numbers 561 cm-1 and 1041 cm-1. XRD test showed highest peaks of β-TCP (tricalcium phosphate) according to JCPDS no. 09-0169.
PENGARUH JENIS KOAGULAN DAN VARIASI PH TERHADAP KUALITAS LIMBAH CAIR DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT KAWASAN INDUSTRI INTILAND Dicky Morina Hutabarat; Wianthi Septia Witasari; Rio Baskoro
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i3.464

Abstract

PT Kawasan Industri Intiland merupakan salah satu Kawasan Industri di Indonesia tepatnya di Ngoro Mojokerto yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan guna mengolah limbah dari proses produksi pabrik yang ada di dalam kawasan. IPAL ini menggunakan system pengolahan biologi lumpur aktif yang digabung dengan pengolahan kimia menggunakan metode koagulasi-flokulasi. Salah satu faktor dalam keberhasilan proses koagulasi-flokulasi adalah penambahan bahan kimia sebagai koagulan dan kondisi pH pada air limbah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh jenis koagulan dan pengaruh variasi pH pengolahan terhadap penurunan kadar pencemar air limbah pada unit koagulasi-flokulasi. Penelitian dilakukan pada skala Laboratorium menggunakan metode Jar test pada pengadukan cepat 100 rpm dan pengadukan lambat 50 rpm. Koagulan yang digunakan adalah Al2(SO4)3, FeCl3, FeSO4, dan Ca(OH)2. Flokulan yang digunakan jenis Poly Anionic Acrylamide. Variasi pH dilakukan pada pengolahan pH 7, 8, dan 9. COD, TSS dan Kekeruhan adalah parameter yang dianalisis pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koagulan FeCl3 dengan variasi pH 8 paling efektif menurunkan kadar COD, TSS, dan kekeruhan dengan nilai masing-masing parameter tersebut yaitu kadar COD 160 mg/L, kadar TSS 16 mg/L, dan kadar kekeruhan 21 NTU.
PEMANFAATAN KULIT ARI KEDELAI SEBAGAI ADSORBEN ASAM LEMAK BEBAS PADA MINYAK JELANTAH Dheyana Dwi Kartikasari; Dyah Nur Afia; Wianthi Septia Witasari; Mufid Mufid
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 2 (2023): June 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i2.2696

Abstract

Penggunaan minyak jelantah secara berulang berdampak buruk bagi kesehatan karena memiliki kandungan FFA (Free Fatty Acid) yang melebihi standar SNI 7709:2019 (kualitas minyak goreng sawit). Kadar FFA minyak jelantah dalam penelitian ini sebesar 0,82%. Berdasarkan permasalahan tersebut, solusi yang dapat dilakukan adalah regenerasi minyak dengan metode adsorpsi. Adsorpsi kali ini menggunakan adsorben dari limbah kulit ari kedelai. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas adsorben kulit ari kedelai dalam menurunkan FFA pada minyak jelantah dalam kurun waktu kontak yang ditentukan. Kulit ari kedelai diserbukkan hingga berukuran 70 mesh. Kulit ari kedelai ditambahkan ke minyak jelantah dengan takaran 15 gram untuk 100 ml minyak jelantah dengan variasi waktu kontak 2x12 jam, 3x12 jam, 4x12 jam, dan 5x12 jam di tiap wadah yang berbeda. Hasil menunjukkan bahwa kadar FFA justru meningkat pada waktu kontak 2x12 jam sampai 4x12 jam. Namun, semakin lama perendaman, kadar FFA semakin menurun. Waktu kontak 5x12 jam merupakan waktu terbaik dalam mengadsorb FFA karena dapat menurunkan kadar FFA dari 0,82% menjadi 0,66%, menaikan kadar air minyak sebanyak 0,002%, dan menyerap warna minyak jelantah yang awalnya hitam kecoklatan menjadi coklat. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini telah sesuai literatur yang menyatakan bahwa semakin lama waktu bersinggungan adsorben dan adsorbat maka penyerapan adsorbat makin banyak. Namun, belum bisa menurunkan kadar FFA hingga sesuai SNI 7709:2019. Maka dari itu, perlu penelitian lanjutan terkait aktivasi adsorben yang tepat agar adsorben dapat mengadsorb FFA secara optimal.