Noor Isnaini Azkiya
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pemanfaatan Precipitated Calcium Carbonat dari Batu Kapur dalam Pembuatan β- TCP sebagai Bahan Dasar Implan Tulang Noor Isnaini Azkiya; Fanny Prasetia; Rosita Dwi Chrisnandari; Wianthi Septia Witasari
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.272 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.208

Abstract

One of the biocompatible materials that are often used as a basic materials for bone and dental implants is tricalcium phosphate. This material can be produced from precipitated calcium carbonate (PCC) limestone because it has a very high calcium content. The method used to synthesize tricalcium phosphate was deposition of CaO and H3PO4 precursors in ethanol media. The results of the synthesis was characterized using FT-IR instruments, AAS, UV-Vis spectroscopy, and XRD. Based on the results of the UV-Vis spectroscopic analysis, the Ca/P ratio of the synthesis results obtained was 1.87. FT-IR test showed the presence of a Ca-O group at wave number 1400 cm-1 and PO43- group at wave numbers 561 cm-1 and 1041 cm-1. XRD test showed highest peaks of β-TCP (tricalcium phosphate) according to JCPDS no. 09-0169.
PENGGUNAAN LIMBAH CAIR DI EQUALIZER ZA-II (LIMBAH PRODUKSI AMONIUM SULFAT) SEBAGAI PENETRAL LIMBAH ASAM DI PRODUKSI SULFURIC ACID (SA-I) Athika Ayu Kautsar Ilafi; Noor Isnaini Azkiya; Rohmad Taufiqi
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4900

Abstract

PT Petrokimia Gresik Departemen Produksi IIIA terdapat beberapa proses produksi yang menghasilkan limbah cair. Pada penelitian ini dilakukan penetralan limbah dengan pemanfaatan limbah cair equalizer ZA-II sebagai penetral Limbah Asam di Open Ditch SA-I untuk mengurangi pengeluaran kebutuhan NaOH dan CaO. Untuk mengetahui pengurangan kebutuhan NaOH dan CaO, diperlukan data perbandingan volume yang dihasilkan untuk pencampuran limbah ZA-II dengan limbah SA-I agar mendapatkan pH netral, maka metode yang pertama kali dilakukan yaitu mengukur pH pada limbah masing – masing equalizer, melakukan trial and error untuk perbandingan campuran asam dan basa pada larutan di equalizer SA-I dan equalizer ZA-II, dan menghitung kebutuhan NaOH dan CaO pertahun sebelum dan sesudah penggunaan equalizer ZA-II sebagai penetral equalizer SA-I. Dalam percobaan ini didapatkan perbandingan volume limbah SA-I dengan limbah ZA-II yaitu 1:75 dengan penghematan yang didapatkan setelah adanya penambahan dari limbah equalizer ZA-II yaitu sekitar kurang lebih 2.13%, sehingga saran yang membangun ini bisa jadi sebagai rekomendasi untuk PT Petrokimia Gresik untuk meminimalisir penggunaan NaOH dan CaO dalam pengolahan  limbah.
PENGARUH PERBANDINGAN MASSA AMPAS TAHU DAN SEKAM PADI TERHADAP KARAKTERISTIK BRIKET Amani Muflihah Tsabitah Tsabitah; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i4.6246

Abstract

Briket adalah bahan bakar padat yang berbentuk gumpalan-gumpalan arang yang terbuat dari biomassa (bahan lunak). Namun, biomassa tersebut perlu diolah terlebih dahulu agar menjadi bahan bakar yang memiliki kadar panas lebih tinggi dari arang biasa.  Selain itu, keunggulan briket adalah residu atau sisa hasil pembakaran yang lebih sedikit, asap yang dihasilkan lebih sedikit, ekonomis, dan tidak beracun. Dalam penelitian ini limbah dari ampas tahu dan sekam padi dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan cara mengubahnya menjadi briket. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan komposisi bahan baku dan persentase perekat tepung tapioka terhadap kualitas briket yang dihasilkan. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif berdasarkan eksperimen di laboratorium untuk mendapatkan data yang relevan. Variabel bebas yang digunakan yaitu perbandingan massa bahan baku sekam padi dan ampas tahu dengan perbandingan 25:75, 50:50, 75:25 (%b/b). Perekat yang digunakan yaitu tepung tapioka dengan persentase 10% (b/b). Tahapan pembuatan briket dimulai dengan persiapan bahan baku, proses pirolisis, pendinginan, penggilingan dan pengayakan, pencampuran bahan dengan perekat, pencetakan briket, pengovenan dan proses analisis berupa kadar air, kadar abu, vollatile matter, fixed carbon, nilai kalor, dan kuat tekan. Berdasarkan penelitian didapatkan kesimpulan hasil pengujian briket dengan komposisi 25% sekam padi:75% ampas tahu dan 10% persentase perekat mempunyai kualitas yang paling baik menghasilkan nilai kadar air sebesar 0,97284%, nilai kadar abu sebesar 17%, nilai volatille matter sebesar 1,12613%, nilai fixed carbon sebesar 80,9010%, nilai kalor sebesar 5478 kal/g, dan nilai kuat tekan sebesar 2,44375 kg/cm2.
PEMANFAATAN AMPAS TAHU PADA PEMBUATAN BRIKET SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Nihayatul Devi Masitah; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.6248

Abstract

Kebutuhan energi semakin meningkat seiring bertambahnya waktu. Akan tetapi, hal ini tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan bakar yang semakin berkurang sehingga perlu mencari alternatif bahan bakar yang dapat diperbarui (renewable), ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Salah satu jenis alternatif yang bisa dikembangkan yaitu energi biomassa seperti limbah sisa pengolahan pangan. Dalam penelitian ini limbah ampas tahu dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubahnya menjadi briket arang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi perekat terbaik pembuatan briket dari ampas tahu. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan eksperimen di laboratorium. Variabel yang digunakan yaitu perbandingan massa perekat tepung tapioka dengan persentase 12, 14, dan 16% (w/w). Berdasarkan penelitian didapatkan kesimpulan hasil pengujian briket dengan 12% (w/w) persentase perekat mempunyai kualitas yang paling baik menghasilkan nilai kadar air sebesar 1,48%, nilai kadar abu sebesar 13%, nilai volatile matter sebesar 2,05%, nilai fixed carbon sebesar 83,46%, nilai kalor sebesar 5895 cal/gr, dan kuat tekan sebesar 2,29 kg/cm2 dibandingkan dengan variasi perekat lainnya.
EFEKTIFITAS KARBON AKTIF LIMBAH KULIT KACANG TERMODIFIKASI DENGAN METODE KOPRESIPITASI SEBAGAI ADSORBEN TEMBAGA DAN BESI PADA LIMBAH CAIR ELEKTROPLATING ARTIFICIAL Shabrina Adani Putri; Millenina Sulung Hanavia; Rosita Dwi Chrisnandari; Wahyuni Ningsih; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i4.6402

Abstract

Limbah dari elektroplating yang mengandung tembaga (Cu) dan besi (Fe) sangat beracun dan dapat menyebabkan gejala keracunan logam berat pada manusia jika masuk ke dalam organ pada konsentrasi yang cukup tinggi. Karbon aktif yang dimodifikasi dari limbah kulit kacang tanah dapat digunakan untuk mengatasi masalah limbah elektroplating melalui proses adsorpsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas karbon aktif dari limbah kulit kacang yang dimodifikasi menggunakan metode kopresipitasi sebagai adsorben logam Cu dan Fe dalam limbah elektroplating artificial, dengan variasi massa karbon aktif dan waktu kontak adsorpsi. Pirolisis pada suhu 350 °C dilakukan selama 120 menit, kemudian diikuti dengan proses aktivasi selama 2 jam menggunakan NaOH 20% untuk menghasilkan arang aktif. Kopresipitasi dalam larutan garam besi 90°C dilakukan untuk memodifikasi karbon aktif. Kualitas karbon aktif untuk mengurangi logam berat dalam limbah elektroplating buatan ditentukan oleh variasi massa karbon aktif yang dimodifikasi sebesar 5%, 10%, dan 15% b/v dan durasi waktu kontak selama 30, 60, 90 menit. Hasil menunjukkan bahwa penurunan kadar logam berat Cu dalam limbah Cu adalah 94,51%, kadar logam Fe dalam limbah Fe adalah 83,52%, dan kadar logam Cu dalam campuran limbah Cu Fe adalah 92,67%, menurut pemeriksaan kapasitas absorpsi.
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM Α-AMILASE DAN GLUKOAMILASE PADA PEMBUATAN SIRUP GLUKOSA DARI TEPUNG SAGU Shinta Laurensia Dewanti; Dwina Moentamaria; Ernia Novika Dewi; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i1.7728

Abstract

Sirup glukosa merupakan gula cair yang penting dalam industri makanan karena sifatnya yang tidak mudah mengkristal dan tanpa membutuhkan pelarutan. Meskipun memiliki kandungan pati tinggi, tepung sagu masih kurang dimanfaatkan padahal berpotensi besar sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan sirup glukosa. Pembuatan sirup glukosa dari tepung sagu dapat dilakukan melalui proses hidrolisis enzimatis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan enzim α-amilase dan glukoamilase terhadap karakteristik sirup glukosa yang dihasilkan. Proses hidrolisis dilakukan dalam tiga tahap yaitu gelatinisasi dengan pemanasan pada suhu 70°C, likuifikasi menggunakan enzim α-amilase pada suhu 90°C selama 1,5 jam, dan sakarifikasi menggunakan enzim glukoamilase pada suhu 60°C yang diinkubasi selama 72 jam. Variasi massa enzim yang digunakan adalah 0,08; 1; 2; dan 4 gram dengan rasio enzim enzim α-amilase dan glukoamilase 1:1. Parameter yang dianalisis meliputi kadar glukosa hasil likuifikasi dan sakarifikasi, kadar air, serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim hingga titik optimum meningkatkan kadar glukosa dan menurunkan kadar air, namun penambahan berlebih justru menurunkan kadar glukosa. Variabel terbaik dalam penelitian ini diperoleh pada penambahan enzim sebanyak 2 gram, yang menghasilkan kadar glukosa tertinggi sebesar 1,2776%, kadar air terendah sebesar 8,2%, serta karakteristik organoleptik sirup glukosa yang manis, berwarna bening kekuningan, dan tidak berbau.
PENGARUH FORMULASI TEPUNG SAGU DAN AIR TERHADAP KARAKTERISTIK SIRUP GLUKOSA Amalia Dwi Ardini Putri; Dwina Moentamaria; Ernia Novika Dewi; Noor Isnaini Azkiya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i1.7732

Abstract

Sagu merupakan salah satu komoditas terbesar di Indonesia. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada produksi pati atau tepung sagu yang umumnya digunakan sebagai bahan pangan tradisional atau campuran dalam pembuatan kue dengan skala produksi yang relatif kecil. Padahal, sagu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu 79%–80%, berpotensi sebagai bahan baku pembuatan sirup glukosa. Sirup glukosa merupakan gula cair yang dihasilkan melalui proses hidrolisis pati baik secara enzimatis maupun asam. Proses hidrolisis pada penelitian ini dilakukan secara enzimatis menggunakan enzim α-amilase dan glukoamilase. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh variasi perbandingan tepung sagu dan air terhadap karakteristik sirup glukosa yang dihasilkan. Proses pembuatan sirup glukosa diawali dengan tahap gelatinisasi pada suhu 70°C dengan perbandingan tepung sagu dan air sebesar 1:2, 1:4, 1:6, dan 1:8 (b/v). Selanjutnya dilakukan liquifikasi menggunakan enzim α-amilase pada suhu 90°C, dilanjutkan dengan proses sakarifikasi menggunakan enzim glukoamilase pada suhu 50°C selama 72 jam dan dilakukan pemurnian menggunakan karbon aktif. Tahap terakhir yaitu analisa sirup glukosa menggunakan spektrofotometer UV-Vis . Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa kadar glukosa yang diperoleh dari variasi perbandingan tepung sagu dan air berturut-turut sebesar 0,603%, 0,364%, 0,197%, dan 0,131%. Selain itu, kadar air sirup glukosa sebesar 13% telah memenuhi standar mutu berdasarkan SNI 01-2978-1992, dengan batas maksimum kadar air sebesar 20%.