Sigit Hadiantoro
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN PAC TERHADAP TINGKAT KEKERUHAN PADA PROSES PENJERNIHAN AIR SUNGAI DI PERUMDA DELTA TIRTA - SIDOARJO Chrisly Dyzha Prianti; Sigit Hadiantoro
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 3 (2022): September 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i3.404

Abstract

Air tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia khususnya air bersih. Ketersediaan air bersih saat ini sudah sangat menipis. Namun Kebutuhan terhadap air bersih semakin meningkat, sehingga perlu adanya penetian pengolahan air sungai yang berada dekat dengan masyarakat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya, pengolahan air dilakukan dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (koagulan, pengatur pH, dan disinfektan) ke dalam air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi PAC terhadap tingkat kekeruhan air sungai di PERUMDA Delta Tirta-Sidoarjo. Proses utama yang dilakukan untuk pengolahan air baku menjadi air bersih adalah proses koagulasi menggunakan koagulan. Salah satu bahan yang digunakan sebagai koagulan adalah PAC karena mudah didapat dan ekonomis. Pada penelitian ini, dilakukan proses pengolahan air sungai di PERUMDA Delta Tirta-Sidoarjo menggunakan proses koagulasi dengan variabel konsentrasi PAC sebesar 177, 185, 193, 201, dan 209 ppm. Hasil yang didapatkan adalah semakin besar konsentrasi PAC menyebabkan tingkat kekeruhan air semakin kecil . Hal ini menandakan bahwa kualitas air semakin baik dan semua hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan baku mutu.
EVALUASI KINERJA FUEL OIL PUMP UNTUK SISTEM COMBUSTION TURBINE GENERATOR Muhammad H. Ahsan; Sigit Hadiantoro
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 1 (2019): February 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i1.8

Abstract

Combustion Turbine Generator merupakan salah satu power generator yang menggunakan sebuah turbin untuk  menghasilkan energi listrik. CTG mengonversikan energi mekanik menjadi energi listrik. Untuk mendapatkan  udara dengan tekanan yang tinggi, maka udara intake dibakar dalam combustion chamber dengan firing system  berupa fuel oil dan fuel gas. Fuel oil ditampung pada tangki penyimpanan bahan bakar. Untuk memindahkan  fluida dari tangki ke dalam sistem 3 unit CTG diperlukan sebuah pompa berjenis Centrifugal pump sebanyak 2  unit. Namun dengan alasan reliability maka ditambahkan sebuah pompa yang memiliki spesifikasi berbeda.  Penelitian dilakukan untuk mengamati performa pompa dengan menghitung efisiensi aktual dan dibandingkan  dengan efisiensi desain. Data-data diambil dari control room serta pengamatan langsung di lapangan. Hasilnya  efisiensi terbaik terjadi pada load CTG 18 mW dengan nilai pompa A sebesar 25,6%, pompa C sebesar 24,62%.
REVIEW: PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN KITOSAN SEBAGAI COATING AGENT TERHADAP DAYA SERAP AIR PADA BIOPLASTIK DARI PATI SINGKONG DAN GLUTEN Muhammad Yusuf Ramadhani; Sigit Hadiantoro
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.136

Abstract

Bioplastik merupakan jenis plastik dibuat dengan bahan berasal dari tanaman. Plastik ini dapat diuraikan oleh mikroorganisme atau jamur secara alami. Bioplastik dapat tersusun dari pati, lignin, selulosa, atau dari hasil samping perkembangbiakan mikroorganisme. Bioplastik memiliki kelemahan dalam hal ketahanan air daya tahan penyerapan air dan sifat mekanik. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan menambahkan kitosan sebagai bahan tambahan dari penyerapan air dan gluten untuk memperbaiki sifat mekanik bioplastik. Studi penelitian ini digunakan sebagai mendapatkan cara jenis bioplastik baru dengan pendekatan secara teori pada penelitian pembuatan bioplastik sebelumnya. Studi dilakukan pada penelitian bahan bioplastik dari pati singkong, gluten, dan kitosan. Karateristik bioplastik meliputi tensile strenght dan water uptake. Hasil studi didapatkan karakteristik bioplastik gluten memiliki water uptake yang lebih rendah dengan nilai 38-65%. Karakteristik kuat tarik memiliki nilai yang tinggi pada bioplastik pati kentang-kitosan sebesar 53 MPa sedangkan bioplastik pati singkong dengan coating kitosan layer by layer didapatkan kuat tarik sebesar 14,47 ± 1,25 MPa.
AKTIVASI SERAT KAPUK DENGAN ASAM DAN BASA PADA SINTESIS BIOSORBEN UNTUK MENYERAP ION LOGAM NIKEL DARI LARUTAN NISO4 Thomi Nugraha Pratama; Sigit Hadiantoro
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.281

Abstract

Serat kapuk memiliki potensi sebagai biosorben dikarenakan memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis aktivator HCl dan NaOH terhadap kemampuan adsorpsi ion logam nikel dari larutan NiSO4, untuk mengetahui pengaruh lama waktu aktivasi atau perendaman terhadap kemampuan adsorpsi ion logam nikel dari larutan NiSO4, dan untuk mengetahui pengaruh jumlah massa biosorben terhadap kemampuan adsorpsi ion logam nikel dari larutan NiSO4. Prosedur pembuatannya terdiri dari pencucian kapuk, pengeringan, aktivasi kapuk dengan larutan HCl dan NaOH, pembilasan, dan dikeringkan hingga kering. Variabel bebas yang digunakan yaitu jenis larutan aktivasi HCl 0,5 N dan NaOH 0,5 N, waktu perendaman 12, 18, 24 jam, massa biosorben 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 gram. Variabel kontrol yaitu, waktu adsorpsi 1 jam, volume larutan NiSO4 100 ml, konsentrasi logam nikel 41.725 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan aktivasi yang optimum menggunakan NaOH dengan lama perendaman 24 jam dan pada massa 2,5 gram menunjukkan efektivitas adsorpsi sebesar 88% dan mengalami penurunan konsentrasi nikel dari 41.725 menjadi 5.195 ppm.
PENGGUNAAN SERBUK TULANG AYAM SEBAGAI ADSORBEN DENGAN AKTIVATOR HCl DAN NaOH UNTUK MENGURANGI ION LOGAM KROMIUM Rizaldi Meydika Ferriansyah; Sigit Hadiantoro
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.292

Abstract

Tulang ayam pada dasarnya bisa dimanfaatkan menjadi adsorben karena memiliki kandungan hidroksiapatit. Hidroksiapatit ini dapat dijadikan sebagai adsorben untuk pengolahan air limbah, karena banyak dan mudah diperbarui. Tujuan peneltitan ini untuk megetahui jenis aktivator HCl dan NaOH terhadap kemampuan adsorpsi ion logam kromium dari larutan K2Cr2O7, mengetahui pengaruh lama waktu aktivasi atau perendaman terhadap kemampuan adsorpsi ion logam kromium dari larutan K2Cr2O7, serta mengetahui perbedaan massa adsorben terhadap kemampuan adsorpsi ion logam kromium dari larutan K2Cr2O7. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Variabel bebas yang digunakan adalah larutan aktivator HCl 1M dan NaOH 1M, lama waktu aktivasi atau perendaman 12 dan 24 jam massa adsorben 0,5; 1; 1,5; dan 2 gram. variabel kontrol yaitu waktu proses adsorpsi 1 jam, volume larutan K2Cr2O7 100 ml, dan konsentrasi logam kromium 100 ppm. Hasil penelitian yang didapat yaitu larutan aktivasi yang optimum menggunakan HCl dengan lama waktu aktivasi 24 jam dan massa adsorben 2 gram menunujukkan efektivitas adsorpsi 87% dan terjadi penurunan konsentrasi kromium dari 99,620 ppm menjadi 13,219 ppm.
ANALISIS PERHITUNGAN KEBUTUHAN BELERANG DAN GAS SO2 PADA ALAT TOWER SULFITASI NIRA KENTAL DENGAN KAPASITAS GILING 7800 TCD Amilatun Nur Rokhimah; Sigit Hadiantoro; Duta Widya Nur Huda
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 2 (2023): June 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i2.2697

Abstract

Proses sulfitasi pada pabrik gula merupakan salah satu kunci keberhasilan pabrik gula kristal putih untuk mencapai kualitas gula yang baik dengan mengendalikan kebutuhan belerang dan gas SO2 pada proses bleaching di tower sulfitasi nira kental. Tower Sulfitasi nira kental berfungsi sebagai tempat mereaksikan antara nira dengan gas SO2 dengan tambahan susu kapur sebagai bahan pemurni. Data-data yang dianalisis dari perhitungan didapatkan dari PG Krebet Baru II.  Saat ini PG Krebet Baru II memiliki kapasitas giling 5500 TCD dengan menggunakan belerang sebanyak 55 kg/100ton tebu dan kebutuhan gas SO2 sebanyak 2017 kg/hari. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung kebutuhan belerang dan gas SO2 pada alat tower sulfitasi nira kental pada proses bleaching dengan kapasitas giling 7800 TCD sebagai pembanding jika kapasitas giling berbeda namun kapasitas alat yang sama dihasilkan berapa jumlah kebutuhan gas SO2 dan belerang. Metode perhitungan yang digunakan yaitu pengumpulan data, reaksi proses sulfitasi, perhitungan manual menggunakan Microsoft Excel. Hasil perhitungan didapatkan kebutuhan belerang sebanyak 57 kg/100ton tebu dan kebutuhan gas SO2 sebanyak 2942 kg/hari. Berdasarkan perhitungan tersebut kebutuhan belerang dan gas SO2 pada kapasitas giling yang sama namun kapasitas alat sama tidak mengalami perubahan yang signifikan.
ANALISIS KAPASITAS PEMANAS NIRA PADA STASIUN PEMURNIAN UNTUK MEMENUHI KAPASITAS GILING Rizqy Kusumanugraha Sunarto; Sigit Hadiantoro; Duta Widya Nur Hudha
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4213

Abstract

Pemanas nira merupakan alat yang digunakan  pada stasiun pemurnian pada pabrik gula dengan fungsi untuk memanaskan nira. Pada penggunaannya terdapat 2 pembagian fungsi pemanas nira dengan sebutan JH 1 (Pemanas pertama) dan JH 2 (Pemanas kedua). Tujuan pemanasan nira yaitu untuk mengurangi kelarutan gula, mengurangi viskositas dan mempercepat pengendapan. Observasi terhadap stasiun pemurnian suatu  pabrik gula dilakukan pada lima pemanas (JH 1) dan tujuh pemanas (JH 2). Pengoperasian pemanas pada JH 1 setiap waktu hanya empat alat yang diaktifkan sedangkan satu alat dinonaktifkan karena dilakukan pembersihan sedangkan pada JH 2, terdapat enam alat yang dioperasikan dan satu alat dinonaktifkan karena dilakukan pembersihan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas alat pemanas nira dan mengetahui apakah dengan dimatikannya beberapa alat pemanas nira masih dapat memanaskan nira sesuai dengan kapasitas gilingnya. Analisis perhitungan dilakukan secara manual dengan menggunakan aplikasi ms-excel dan data diambil melalui observasi di lapangan. Hasil studi menunjukkan bahwa pada JH 1 minimal empat alat yang harus dioperasikan untuk memenuhi kapasitas giling dan pada JH 2 minimal empat alat yang harus dioperasikan untuk memenuhi kapasitas giling.
PENGARUH JENIS ASAM DAN VOLUME ASAM TERHADAP KARAKTERISTIK GELATIN DARI TULANG KAKI AYAM Tabita Emeren Venerandra; Sigit Hadiantoro; Ardia Natasya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4960

Abstract

Gelatin merupakan jenis protein yang diperoleh dari jaringan kolagen hewan. Gelatin yang diproduksi dari kulit babi dan tulang sapi dapat menyebabkan ketidaksesuaian bagi masyarakat di Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan Hindu. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis asam dan volume asam terhadap karakteristik gelatin dari tulang kaki ayam, serta mengetahui variabel yang dapat menghasilkan gelatin paling optimal. Variabel yang digunakan yaitu jenis asam (asam fosfat dan asam sitrat), dan volume asam (100 ml, 150 ml, 200 ml dan 250 ml). Dalam pembuatan gelatin ini dilakukan beberapa tahapan yaitu pencucian, pengecilan ukuran, perendaman dengan larutan NaOH 1%, perendaman dengan larutan asam 5%, penyaringan, penguapan, dan pengeringan. Pada perendaman menggunakan asam fosfat nilai rendemen, kadar abu dan viskositas lebih besar daripada dengan perendaman menggunakan asam sitrat. Semakin besar volume asam maka nilai rendemen dan viskositas semakin besar sedangkan nilai kadar abu semakin kecil. Dari hasil penelitian diperoleh karakteristik gelatin yang optimal dan memenuhi spesifikasi standar mutu gelatin Standar Nasional Indonesia (SNI) pada variabel jenis asam fosfat 5% dengan volume asam 200 ml yaitu diperoleh nilai rendemen sebesar 18,75%, kadar air 5,33%, kadar abu 13,73% dan viskositas 0,133 cP.
ANALISIS BIAYA UTILITAS PADA PRARANCANGAN PABRIK DISPROPORTIONATED ROSIN DARI GONDORUKEM GRADE WG DENGAN KAPASITAS 3000 TON/TAHUN Muhammad Naufal Sandifa; Sigit Hadiantoro
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i4.5083

Abstract

Upaya untuk meningkatkan nilai ekonomis gondorukem salah satunya adalah mengubah bentuknya menjadi disproportionated rosin. Untuk produksi skala industri diperlukan berbagai peralatan yang dapat mendukung prosesnya. Agar proses dapat berjalan dengan lancar diperlukan sarana pendukung yaitu utilitas. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis biaya pengadaan utilitas yang selanjutnya digunakan untuk analisis ekonomi pabrik disproportionated rosin. Metode analisis biaya yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kuantitatif. Dari analisis yang dilakukan, diperoleh besaran analisis yaitu unit penyedia steam berupa boiler dengan tipe water tube dengan biaya bahan bakar per hari sebesar Rp 20.736,00/hari atau Rp. 6.842.880,00/tahun (US$ 459,649.00/tahun). Sumber unit penyedia air berasal dari sungai terdekat lokasi prarancangan pabrik dengan biaya untuk treatment air per hari sebesar Rp. 14.919.434,07/hari atau Rp. 4.923.413.242,656/tahun (US$ 330.715.514/tahun). Unit penyedia listrik berasal dari PLN dengan total biaya listrik sebesar Rp. 4.521.493.683,78/tahun atau Rp. 3.617.194.947,00/tahun (US$ 242.974,219/tahun) dengan efisiensi listrik sebesar 80%.