Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EVALUASI PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (EUCHEUMA COTTONII) PADA BUDIDAYA METODE LONG LINE DI PERAIRAN PANTAIKABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN Tasruddin Tasruddin
Journal Omni-Akuatika Vol 11, No 2 (2015): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.oa.2015.11.2.961

Abstract

Seaweed (Eucheuma cottonii) is one type of fishery commodities with high economic value. These commodities have been developed in several areas in Indonesia, one of them is in the Banggai Islands, Central Sulawesi. Problems in the development of commodity seaweed in Banggai is a lack of understanding and seriousness in seaweed cultivation, lack of variety in designing seaweed cultivation techniques as well as the suitability of the location of aquaculture that can support increased productivity. The use of long-line method is considered still the best way. This study aimed to evaluate the seaweed cultivation methods long line in the village of Liang and Apal, Banggai Islands, Central Sulawesi. The results showed that the seaweed growth rate were not significantly different when we compared them based on sediment types. For instance, Liang village sediment was sandy silt while we found rocky substrate at Apal village. Therefore it can be concluded that long line method can be applied without taking into account the type of sediment. Keywords: sea weed, long-line methods, Banggai archipelago
The Addition of Flour Kappaphycus alvarezii in Commercial Feed towards Tilapia (Oreochromis niloticus) Performance Tasruddin Tasruddin; Erwin Erwin
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v5i2.1063

Abstract

Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of fish that is suitable to be cultivated in floating net cages or in controlled containers, since tilapia is the omnivorous and is easily adjust to the environment. An artificial feeding in an intensive farming is one of the important supporting factor to increase production. Natural feed available could not meet the needs of fish, therefore in order to promote growth, it must be fulfilled by the artificial feed that could qualify nutrition. The research aims to observing the dose addition of flour Kappaphycus alvarezii in commercial feed to enhance the growth and the survival of O. niloticus. The usability of the research is the costs efficiency of feed and provides information on aspects of tilapia fish farming. The result of the research shows that daily specific growth rate performs that control treatment (0.94±0.14%) gives the best growth response compared to the treatment of seaweed flour 20% (0.06±0.04%), then is followed by the treatment of seaweed flour 5% (0.52±0.17). Further research statistic peforms that the control is significantly different to the treatment of seaweed flour 20% (p<0.05). For the best feed convertion ratio is in control (0.31±0.02) and the lowest is in the treatment of seaweed flour 20% (0.45±0.03). Then the best survival is in control treatment (80.00±0.00%), followed by treatment of seaweed flour 5% (76.670±0.00%) and the lowest survival is in treatment of seaweed flour 20% (63.33±0.06%).
PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN Piper betle L. DALAM PAKAN (PELLET) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN RASIO KONVERSI PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Sri Sukari Agustina; Tasruddin; Mahmud; Faisal
Techno-Fish Vol 6 No 2 (2022): TECHNO-FISH
Publisher : TECHNO-FISH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/tf.v6i2.5208

Abstract

Salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pertambahan bobot ikan nila adalah memperkuat daya tahan tubuh ikan dengan menambahkan ekstrak daun Piper betle L. pada pakan. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji penggunaan ekstrak daun Piper betle L. dalam pakan pellet terhadap nilai SGR dan FCR ikan nila (Oreochromis niloticus).Perlakuan dalam penelitian ini yaitu perbedaan konsentrasi ekstrak daun Piper betle L. dalam satu kilogram pakan pellet yang diberikan pada ikan nila. Pengukuran peubah meliputi SGR, FCR dan data penunjang kualitas air. Hasil penelitian disimpulkan konsentrasi ekstrak daun Piper betle L. dalam pakan pellet menunjukkan rerata nilai SGR dan FCR ikan nila yang berbeda pada setiap perlakuan. Perlakuan E (25% ekstrak daun Piper betle L./1 kg pakan) memberikan rerata nilai SGR tertinggi (1,96%) dan rerata nilai FCR terendah (1,42), sedangkan perlakuan A (tanpa ekstrak daun Piper betle L. dalam pakan) memberikan rerata nilai SGR terendah (1,897%) dan rerata nilai FCR tertinggi (1,58).
IbM REKAYASA BUDIDAYA ABALON (Haliotis asenina) TERHADAP PERTUMBUHAN DI PESISIR PERAIRAN DESA UWEDIKAN IbM OF ABALON (Haliotis asenina) CULTURE ENGINEERING TO THE GROWTH AT THE COASTAL OF UWEDIKAN VILLAGE Tasruddin Tasruddin; Yanti Mutalib
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jpu.v4i1.167

Abstract

Berdasarkan potensi perikanan, perairan laut kabupaten banggai, telah mengalami tekanan, dimana jumlah tangkapan menurun, baik ikan demersal, pelagis maupun kerangkerangan termasuk abalone. Untuk menjaga keseimbangan potensi perikanan, maka salah satu program untuk menjaga kelestarian tersebut diperlukan pengembangan budidaya abalon (Haliotis assenina). Desa Uwedikan merupakan desa yang memiliki perairan yang eksotik dan bioekonomi, namun karena faktor sumberdaya manusia yang terbatas sehingga pengelolaan sumber daya perairan perlu perhatian dan pengembangan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Program kemitraan, melalui pengolahan dengan sistem pengeringan, maupun pemasaran secara hidup dapat memenuhi permintaan pasar. Diharapkan desa Uwedikan menjadi sentral produksi abalon sehingga program Iptek bagi Masyarakat (IbM) melalui mitra, pengolahan abalone dengan inovasi sistem pengeringan, maupun pemasaran secara hidup dapat memenuhi permintaan pasar. Pertimbangan dalam rekayasa budidaya abalone yaitu, menipisnya stok abalon untuk indukan di alam, akibat penangkaran yang tidak selektifsehingga solusinya yaitu meningkatkan pengembangan budidaya dan ketersediaan pakan. Hasil analisis proximat abalon, menunjukkan bahwa kadar air ( 13,26%), abu (3,69 %), protein (59,70 %), lemak (3,86%) serat kasar (2,84 %) dan BETN (16,65%), sumber Lab. Nutisi BDP FPIK Institut Pertanian Bogor 2016. Luaran dalam kegiatan IbM Rekayasa Budidaya terhadap pertumbuhan abalon dapat terbitkan pada Jurnal Nasional terakreditasi atau telah terdaftar ISBN.
Pertumbuhan Abalon Haliotis asinina Pada Budidaya dengan Kedalaman Berbeda di Pantai Desa Uwedikan, Luwuk Timur Setyawan, Agung Cahyo; Tasruddin, Tasruddin
MAIYAH Vol 2 No 2 (2023): Maiyah : Vol.2 No.2 Juni 2023
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.879 KB) | DOI: 10.20884/1.maiyah.2023.2.2.8774

Abstract

Abalon (H. asinina) sangat berpotensi untuk dibudidayakan di Desa Uwedikan, Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Propinsi Sulawesi Tengah. Wilayah ini adalah habitat endemik bagi Abalon dan memiliki sumberdaya alam yang masih terjaga kualitasnya. Metode budidaya tradisional menggunakan wadah-wadah yang diikatkan dan ditenggelamkan di sisi-sisi karamba jaring apung saat ini banyak dilakukan oleh masyarakat dengan kombinasi bersama budidaya rumput laut. Kedalaman wadah-wadah pemeliharaan tersebut bervariasi tergantung kondisi dimana karamba jaring apung ditempatkan. Penelitian ini dilakukan untuk untuk mengetahui adanya pengaruh kedalaman wadah pemeliharaan terhadap pertumbuhan Abalon. Penelitian dilakukan dengan desain rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan (kedalaman 100 cm, 200 cm dan 300 cm) dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh nyata dari kedalaman pemeliharaan terhadap pertumbuhan panjang, berat maupun laju pertumbuhan spesifik Abalon. Meskipun begitu, penelitian ini mengindikasikan adanya pengaruh faktor pakan alami dari lingkungan sekitar pemeliharaan yang menjadi sumber pakan tambahkan bagi Abalon sehingga muncul perbedaan pada hasil pengukuran parameter penelitian.
Perbandingan aspek ekologi dan karakteristik bulubabi Tripneustes gratilla pada lokasi berbeda Tasruddin, ,; Aonurafiq, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3694.103 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.139-146

Abstract

ABSTRACT Increasing of population growth leads to the settlement enlargement and constriction spatial of city residence, therefore a coastal reclamation becomes a choice. The reclamation affecting the population and the habitat of sea urchin Tripneustes gratilla by disturbing mutual relationship among organisms. The change of ecological haracteristics could be decreasing sea urchin resources. The T. gratilla culture in Indonesia has not been conducted commercially. Research about T. gratilla is limited because lacking of seed, eventhough an artificial spawning technique has been mastered. This research aimed to compare the characteristics of ecological aspect, food source, diameter, body weight, gonad weight, gonad index, specific growth rate (SGR), and survival rate of T. gratilla at the different sampling locations in Pelabuhan Tanjung, Tanjung Tuis, Kilongan permai, Biak, and Bolii. The advantage of the research expected to be an effective and efficient solutions in the advance of aquaculture by prioritizing a continuing environment conservation aspect. Experiment and survei method with randomized sampling location applied in five different locations. The results showed that the best sea urchin was in Tanjung Pelabuhan in June with diameter (55,60±1,96 mm), total weight (83,56±7,84 g), gonad weight (8,39±2,99 g) and gonad index (10,07±3,60%). In contrary, the lower quality of sea urchin was in May in Bolii with diameter (62,20± 2,78 mm), total weight (67,96±8,94 g), gonad weight (1,22±0,58 g), and gonad index (1,83±0,86%). The diameter, total weight, and gonad weight of sea urchin did not equivalent with gonad index. The second phase of this research showed that gonad weight of cultured sea urchin in treatment A was 31.99±0.38a g, while B was 31.74±0.61ab g, and C was 32.42±0.56b g. The SGR parameter in present study showed no difference among treatments. Keywords: ecological characteristics, gonad index, Tripneustes gratilla  ABSTRAK Pertambahan penduduk yang semakin meningkat, menyebabkan permukiman dan penataan kota menjadi sempit, reklamasi menjadi salah satu pilihan. Reklamasi pantai berpengaruh pada populasi dan ekosistem bulubabi Tripneustes gratilla sehingga simbiosis mutualisme terganggu. Karakteristik ekologi dapat berdampak pada menurunnya sumberdaya bulubabi. Di Indonesia kegiatan budidaya bulubabi secara komersial belum dilakukan. Penelitian tentang bulubabi untuk budidaya masih minim dilakukan karena ketersediaan benih. Penelitian bertujuan membandingkan karakteristik aspek ekologis, sumber pakan, diameter, berat tubuh, berat gonad, indeks gonad, survival growth rate dan tingkat kelangsungan hidup bulubabi diperairan Pelabuhan Tanjung, Tanjung Tuis, Kilongan permai, Biak, dan Bolii.  Kegunaan penelitian ini diharapkan menjadi solusi dalam pengembangan akuakultur dengan mengedepankan aspek kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan yaitu survei dan experimen dilakukan secara acak. Hasil survei menunjukkan bahwa pada lokasi Tanjung pelabuhan, diameter bulubabi terbaik di bulan Juni (55,60±1,96 mm), berat utuh (83,56±7,84 g), berat gonad (8,39±2,99 g) dan  indeks gonad (10,07±3,60 %). Terendah bulan Mei di lokasi Bolii, diameter (62,20± 2,78 mm), berat tutuh (67,96±8,94 g), berat gonad (1,22±0,58 g), dan indeks gonad (1,83±0,86%). Diameter bulubabi, berat utuh, dan berat gonad tidak berbanding lurus dengan indeks gonad. Eksperimen kedua menunjukkan bahwa berat gonad pada budidaya perlakuan A (31,99±0,38a g), B (31.74±0.61ab g), dan C (32,42±0,56b g). Sementara parameter SGR yang didapatkan pada penelitian ini tidak berbeda nyata antarperlakuan. Kata kunci: karakteristik ekologi, indeks gonad, Tripneustes gratilla