Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengelolaan Lesi Prakanker Serviks Iskandar, Teuku Mirza
Indonesian Journal of Cancer Vol 3, No 3 (2009): Jul - Sep 2009
Publisher : "Dharmais" Cancer Center Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.174 KB)

Abstract

Tujuan: memahami modalitas terapi terhadap lesi prakanker serta keuntungan dan kerugiannya. Tujuh puluh persen kanker serviks di Indonesia ditemukan dalam stadium lanjut. Salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pengelolaan kanker serviks adalah usaha penemuan stadium prakanker dan stadium dini serta bagaimana pengelolaannya. Penemuan dan pengelolaan yang tepat pada stadium dini akan memberikan hasil penyembuhan antara 66,3% - 95,1%. Sedangkan jika pengelolaan pada stadium lanjut akan memberikan hasil yang kurang baik, di samping biaya yang cukup tinggi.1,2Lesi prakanker serviks yang sangat dini dikenal dengan neoplasia intraepitelial serviks atau NIS, yang ditandai dengan adanya perubahan displastik epitel serviks. Sampai saat ini, pemeriksaan sitologi dengan test Pap masih merupakan pemeriksaan standar untuk deteksi dini keganasan serviks. Sejak 1985, WHO merekomendasikan suatu pendekatan alternatif bagi negara yang sedang berkembang dalam deteksi dini kanker serviks dengan konsep inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).3Terminologi NIS dibagi menjadi 3. NIS 1 sesuai dengan displasia ringan, NIS 2 sesuai dengan displasia sedang, dan NIS 3 meliputi displasia berat serta karsinoma insitu. Terminologi ini juga dikonfirmasikan dengan sistem Bethesda, yaitu NIS 1 dan infeksi HPV sebagai lesi intraepitelial skuamosa derajat rendah (LISDR) serta NIS 2 dan NIS 3 sebagai lesi intraepitelial skuamosa derajat tinggi (LISDT). Karena tidak dapat diketahui risiko untuk menjadi progresif dari semua tingkatan lesi prekursor maka semua lesi NIS sebaiknya diobati. Berdasarkan perjalanan alamiah dari NIS, disimpulkan bahwa makin rendah derajat kelainan maka makin besar kemungkinan regresi menjadi normal. Sebaliknya, makin berat derajat kelainan maka makin besar kemungkinan menjadi lesi yang lebih berat.Modalitas yang dimiliki dalam penatalaksanaan lesi prakanker cukup banyak, biasanya dibagi dalam 2 golongan, yaitu destruksi dan eksisi. Pada tindakan destruksi, kita tidak dapat memiliki bahan untuk melakukan pemeriksaan histopatologi, sedangkan pada eksisi kita sekaligus dapat memiliki bahan untuk melakukan pemeriksaan histopatologi. Laser ablation, kauterisasi, serta krioterapi merupakan terapi destruksi yang biasa digunakan untuk displasia ringan. Sebenarnya, kauterisasi atau krioterapi masih punya tempat untuk displasia sedang – keras. Sedangkan LEEP, LLETZ, konisasi dengan cold knife atau laser, serta histerektomi merupakan tindakan eksisi yang biasanya digunakan untuk displasia sedang - keras.Pemilihan terapi harus dipertimbangkan secara hati-hati dalam melihat efektivitas terapi serta efek samping. Keberhasilan destruksi lokal dalam pengelolaan lesi prakanker mencapai 95%. Ini berarti, ada faktor 5% kegagalan pengelolaan dengan destruksi lokal ini. Oleh sebab itu, sebagai operator harus teliti dalam mengelola lesi prakanker.Kesimpulan: pengelolaan lesi prakanker dengan destruksi lokal mencapai 95%. Penggunaan metode destruksi lokal sebagai salah satu manajemen lesi prakanker dapat menghindari terjadinya terapi yang berlebihan (over treatment). Tetapi, peningkatan kemampuan dalam menggunakan metode ini sangat diperlukan, di samping pengamatan lanjut yang adekuat.Kata kunci: terapi, lesi, prakanker, serviks
Squamous Cell Carcinoma Cervical Uterine Metastasis in Abdominal Wall: A Rare Case Report Cahyono, Endy; Iskandar, Teuku Mirza; Ambari, Ediwibowo; Eka Putra, Very Great; Lubena, Lubena; Wijaya, Dibyo Mukti
Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jbtr.v10i1.19668

Abstract

ABSTRACTBackground: About 80% of cervical cancers are squamous cell carcinomas. After severe surgery for squamous cervical cancer, abdominal metastasis is an uncommon occurrence.Case Presentation: A 33-year-old lady was diagnosed with cervical cancer and had a radical hysterectomy, bilateral salpingo-oophorectomy, and bilateral pelvic lymphadenectomy. The histopathological examination showed non-keratinizing squamous cell carcinoma moderately differentiated. A 6 cm suggestive metastatic mass from abdominal region came up three months later after the surgery. An abdominal wall reconstruction surgery was conducted as the treatment for the metastasis mass.Conclusion: The best course of treatment for cervical cancer is still unknown due to the rarity of abdominal metastases. Depending on the severity of the illness and the existence of metastases, each patient receives a unique course of treatment.Keywords: squamous cell carcinoma, hysterectomy, cervical malignancies
Endothelin-1 Level In Early Onset Preeclampsia Riantyoko, Yoshi; Hadijono, Raden Soerjo; Iskandar, Teuku Mirza; Trisetiyono, Yuli; Pramono, Besari Adi; Suhartono, Suhartono; Kristanto, Herman
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 14, No 1 (2023): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v14i1.917

Abstract

Introductions: Preeclampsia is a specific syndrome in pregnancy as a result of abnormal placental invasion leading to placental hypoperfusion. Persistent hypoxia of the placenta causes the release of various inflammatory mediators into the circulation and results in local endothelial dysfunction. Increased endothelin-1 (ET-1) secretion and increased inflammatory mediators occur in preeclampsia.Aims: To analyze the relationship between endothelin-1 and early onset preeclampsia.Methods: This crosssectional study included 50 pregnant women with early onset preeclampsia (n=25) and normal pregnancies (n=25). Pregnant women aged 20-35 years with single intrauterine fetus, primigravida and multigravida who experienced early onset preeclampsia 34 weeks of gestation were included in this study. Endothelin-1 levels was measured using the Enzyme Linked Immunosorbant Assay (ELISA) method. The analysis was performed using the Mann-Whitney test. Receiving Operator Characteristic (ROC) curve analysis was used to find the cut-off value and diagnostic accuracy of endothelin-1 levels.Results: The mean of ET-1 level was significantly higher in early onset preeclampsia (0.732 ± 0.56 pg/mL) compared to normal pregnancy (0.318 ± 0.09 pg/mL) with value of p = 0.000. The ROC analysis showed the AUC value of 87.8% (p = 0.000, 95% CI 78.6%-97.1%). The cut-off value for ET-1 was 0.385 pg/mL, with 80% sensitivity and 68% specificity (PR=3.14; 95% CI 1.40-7.03).Conclusion: Increased levels of endothelin-1 (ET-1) significantly associated with early onset preeclampsia. ET-1 level ≥ 0.385 pg/mL in pregnant women with 34 weeks of gestation is potential biomarkers to predict the occurrence of early onset preeclampsia with a risk up to 3.14 times.