Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Morfologi Telur Ascaris Lumbricoides Dengan Menggunakan Pewarnaan Hematoksilin Eosin : Morphology Of Worm Eggs Ascaris lumbricoides with Hematoxylin Eosin Stain Darmadi; Joeyi Dikna
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebab utama kasus kecacingan di Indonesia adalah Ascaris lumbricoides. Sehingga diperlukan pemeriksaan berupa identifikasi dalam menanggulangi kasus kecacingan ini, salah satu medianya yaitu dengan melakukan teknik pewarnaan. Metode umum yang digunakan dalam pemeriksaan telur cacing selama ini menggunakan reagen eosin 2%. Hematoksilin eosin merupakaan zat warna yang umumnya digunakan pada pewarnaan jaringan yang akan menghasilkan warna biru terang pada inti sel dan warna merah pada sitoplasma. Hematoksilin eosin adalah gabungan dari dua zat warna yang bersifat asam dan basa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kemampuan zat warna Hematoksilin eosin dengan metode natif dalam mengidentifikasi telur cacing Ascaris lumbricoides dan melihat kejelasan morfologi telur cacing. Hasil penelitian yang didapat dari 5 kali pengulangan menunjukkan bahwa Hematoksilin eosin dapat membedakan antara telur cacing dan kotoran disekitarnya dan memberikan hasil yang jelas terhadap lapisan morfologi telur cacing Ascaris lumbricoides dengan lapisan albumin yang bergelombang berwarna ungu tua, hialin berwarna ungu muda, vitelin berwarna ungu tua dan morulla berwarna kecoklatan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa identifikasi telur cacing Ascaris lumbricoides dapat dilakukan dengan pewarnaan Hematoksilin eosin.
Efikasi Ekstrak Etil Asetat Kulit Duku (Lansium domesticum) terhadap Mortalitas Pediculus humanus capitis Darmadi; Muhammad Alpino Syahrin; Fatma; Eli Yusrita
Bali Medika Jurnal Vol 12 No 1 (2025): Bali Medika Jurnal Vol 12 No 1 Juli 2025
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v12i1.501

Abstract

Resistensi pedikulosida sintetik dan efek sampingnya mendorong pencarian alternatif alami. Ekstrak etanol kulit duku (Lansium domesticum) telah diteliti, namun ekstraksi etil asetat untuk optimalisasi senyawa bioaktif triterpenoid belum dieksplorasi. Tujuan: Menentukan nilai LC₅₀ ekstrak etil asetat kulit duku terhadap telur, nimfa, dan dewasa Pediculus humanus capitis. Metode: Eksperimen laboratorium dengan desain post-test only control group. Sampel (telur=45, nimfa=15, dewasa=15 per konsentrasi) diambil dari panti asuhan Pekanbaru. Perlakuan konsentrasi 10%, 15%, 20% selama 1 jam dengan kontrol positif (Peditox®) dan negatif (DMSO-aquadest). Analisis statistik menggunakan ANOVA dan uji Tukey (p<0,01). Hasil: Mortalitas tertinggi pada konsentrasi 20%: inaktivasi telur 91,11% (LC₅₀=8,5%), mortalitas nimfa 80% (LC₅₀=13,2%), mortalitas dewasa 66,67% (LC₅₀=18,7%). Perbedaan signifikan vs. kontrol (p=0,007) dan ekstrak etanol sebelumnya (p=0,002). Kesimpulan: Ekstrak etil asetat kulit duku efektif sebagai pedikulosida alami, dengan keunggulan 35,7% pada fase telur vs. ekstrak etanol. Optimalisasi pelarut ini berpotensi menjadi strategi penanggulangan resistensi kutu rambut.   Resistance to synthetic pediculicides and their side effects have prompted the search for natural alternatives. Ethanol extracts of duku peel (Lansium domesticum) have been studied, but ethyl acetate extraction for the optimization of triterpenoid bioactive compounds has not yet been explored. Objective: To determine the LC₅₀ value of ethyl acetate extract of duku peel against eggs, nymphs, and adults of Pediculus humanus capitis. Methods: Laboratory experiment with a post-test only control group design. Samples (eggs=45, nymphs=15, adults=15 per concentration) were collected from an orphanage in Pekanbaru. Treatments at concentrations of 10%, 15%, and 20% for 1 hour with positive control (Peditox®) and negative control (DMSO-aquadest). Statistical analysis using ANOVA and Tukey's test (p<0.01). Results: The highest mortality was observed at a concentration of 20%: egg inactivation 91.11% (LC₅₀=8.5%), nymph mortality 80% (LC₅₀=13.2%), adult mortality 66.67% (LC₅₀=18.7%). Significant differences compared to the control (p=0.007) and the previous ethanol extract (p=0.002). Conclusion: Ethyl acetate extract of duku peel is effective as a natural pediculicide, with a 35.7% advantage in the egg stage compared to the ethanol extract. Optimization of this solvent has the potential to become a strategy for addressing head lice resistance.