Maria Ulviani
Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesenjangan Sosial dalam Puisi Mata Luka Sengkon Karta Karya Peri Sandi Huizche Muh. Yusril Rusfat; Sitti Aida Azis; Maria Ulviani
Jurnal Konsepsi Vol. 11 No. 2 (2022): Jurnal Konsepsi (Agustus)
Publisher : P3I Luwu Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah utama dalam penelitian ini ialah bagaimana Kesenjangan Sosial dalam puisi Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizche. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan makna puisi Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizche dengan menggunakan teori Sosiologi Sastra Marxis. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif Kualitatif dengan menghasilkan data deskriptif berupa kata, kalimat maupun frasa. Data dalam penelitian ini berupa Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Teknik menyimak, mencatat, membaca dan memahami. Hasil penelitian ini menampilkan bahwa data yang ditemukan dalam puisi Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizche sebanyak tiga data yang dikontekstualisasikan dengan Sosiologi Sastra Marxis. Dalam Sosiologi Sastra Marxis, Marx menawarkan empat konsep untuk menambah wawasan dalam memahami sebuah karya, yakni infrastruktur, suprastruktur, ideologi dan pertentangan kelas. Dengan penerapan konsep Marx dalam puisi Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizche maka dipahami bahwa puisi tersebut merupakan fenonema sosial dan hukum yang tidak seimbang yang digambarkan oleh penyair secara tersirat melalui ungkapan-ungkapan secara simbolik. Adanya puisi ini sebagai bentuk kritik sosial dan aspirasi kepada rakyat kecil yang tertindas yang berfungsi sebagai refleksi atas kesadaran dan kenyataan untuk menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Transitioning from Screen to Scripture: Reclaiming Generation Z through Islamic Education and Moral Development in Indonesian Educational Institutions Sarinah Sarinah; Abdul Fattah; Maria Ulviani
Progresiva : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 01 (2025): January-June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/progresiva.v14i01.39381

Abstract

The emergence of digital culture has profoundly impacted the attitudes, behaviors, and value systems of Generation Z, resulting in a moral disparity between conventional religion doctrines and modern youth experiences.  As Indonesian adolescents increasingly engage with screen-based environments, worries grow over the erosion of Islamic character and ethical sensibility.  This study examines the critical question of how Islamic Religious Education (PAI) might respond to this moral drift and effectively recapture the spiritual and ethical identity of Generation Z students.  The study especially investigates the influence of PAI on the development of Islamic character in students at SMP Unismuh Makassar, while also identifying the principal problems and strategic solutions for its implementation.  This qualitative study employs interviews, observations, and documentation as data collection methods.  The research participants are PAI educators and students from SMP Unismuh Makassar.  The data were evaluated using the steps of reduction, display, and conclusion drawing, with triangulation utilized for validation.  The results indicate that PAI plays a crucial role in the internalization of Islamic values, including discipline, honesty, respect, and religious commitment, among pupils.  Nonetheless, challenges such as antiquated teaching methods, restricted instructional time, and insufficient incorporation of digital resources impede its effectiveness.  The study introduces a hybrid paradigm that integrates classical Islamic education with digital engagement tactics, enhancing its relevance for digitally native learners. In summary, enhancing Islamic Religious Education necessitates pedagogical innovation, the use of educational technology, and improved collaboration among educators, parents, and the school community to facilitate significant character development in the digital age.