Dwi Yuni N.H, Dwi Yuni
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Uji Efektifitas Antifungal Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata x balbisiana) Mentah Terhadap Pertumbuhan Candida albicans Secara In Vitro Dinastutie, Rina; YS, Sri Poeranto; N.H, Dwi Yuni
Majalah Kesehatan FKUB Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.879 KB)

Abstract

Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi daerah vagina yang terjadi karena pertumbuhan Candida albicans secara berlebihan. Saat ini obat golongan azol sebagai antifungal yang digunakan memiliki  beberapa efek samping. Kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana) mentah memiliki zat antifungal antara lain, saponin, tannin, alkaloid dan flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak kulit pisang kepok mentah mempunyai efek antifungal terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro. Desain penelitian menggunakan true experiment-post test only control group design dengan metode dilusi agar. Konsentrasi ekstrak kulit pisang kepok mentah yang digunakan adalah 0 % (kontrol), 15 %, 17,5 %, 20 %, 22,5 % dan 25 %. Kadar Hambat Minimal (KHM) diperoleh dengan membandingkan tingkat pertumbuhan jamur pada masing-masing kelompok. Hasil penelitian menunjukan bahwa KHM ekstrak kulit pisang kepok mentah berada pada konsentrasi 22,5 %. Dari uji Spearman didapatkan  hubungan yang signifikan (p < 0,05) dengan korelasi yang sangat kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana) mentah dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans secara in vitro.  Kata kunci : Candida albicans, Kandidiasis vaginalis, Musa acuminata x balbisiana, Uji dilusi agar.
Studi Komparasi Media Kultur Coco Blood Malachite Green (CBM) dengan Lowenstein Jensen (LJ) untuk Diagnosis Cepat, Spesifik, dan Sensitif pada Sputum Pasien Suspek Tuberkulosis Munawaroh, Anisful Lailil; N.H, Dwi Yuni; Utami, Yulian Wiji
Majalah Kesehatan FKUB Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.602 KB)

Abstract

Di Indonesia, TB merupakan permasalahan kesehatan utama, bahkan masuk ke dalam 10 negara dengan beban TB terbanyak di dunia. Diagnosis laboratorium penyakit TB masih menjadi permasalahan yang penting di Indonesia. Media biakan yang menjadi gold standard untuk menegakkan diagnosis TB adalah media lowensten-jensen (LJ). Akan tetapi, metode ini memerlukan inkubasi yang lama yaitu sekitar 8 minggu setelah waktu inokulasi. Untuk meminimalkan risiko penularan lebih luas dan perjalanan penyakit yang lebih berat, diagnostik TB memerlukan medium biakan yang lebih cepat. Coco blood malachite green (CBM) merupakan inovasi media kultur yang memiliki komposisi air kelapa muda, malachite green, darah domba, agar darah, dan gliserol. Air kelapa merupakan cairan yang kaya nutrisi dan steril, malachite green memiliki sifat bakteriostatik, hal ini memiliki efek positif dalam mencegah adanya kontaminan dalam media kultur CBM. Agar darah mengandung protein, lemak, karbohidrat serta elemen nutrisi penting yang dapat mempercepat pertumbuhan dari beberapa jenis bakteri termasuk Mycobacterium. Darah domba mengandung protein hematin sebagai sumber nutrisi bakteri. Gliserol sebagai sumber karbon. Penelitian ini merupakan eksperimental murni post test only control group design dengan 31 sampel sputum penderita suspek tuberkulosis yang di inokulasi pada 31 media CBM dan 31 media LJ sebagai kontrol positif. Pengamatan makroskopis dilakukan maksimal 8 minggu, pertumbuhan koloni dikonfirmasi dengan pengecatan BTA. Hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05). Nilai spesifitas 96,6 % dan sensitivitas 100 %. Dapat disimpulkan bahwa CBM lebih cepat dan sensitif daripada LJ, namun LJ lebih spesifik daripada CBM. Kata kunci : Media kultur, Mycobacterium tuberculosis, Sputum suspek TB.