Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS TRAVEL COST DAN MANFAAT TAMAN HUTAN HUJAN TROPIS INDONESIA (TH2TI) BAGI MASYARAKAT Muhammad Arif Rahman; Abdi Fithria; Khairun Nisa
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i6.7144

Abstract

This study aims to analyze the economic value of the Indonesian Tropical Rain Forest Park TH2TI using the Travel Cost Method and to find out the economicand social benefits for the surrounding community. This research was conducted in Banjarbaru City, South Kalimantan for 2 months. The resultsof the study indicate that the costof traveling at the TH2TI location is influenced by the distance of each end as well as the means of transportation and consumption of visitors. The data above is for the location of the closest visitor position, namely Banjarbaru with an estimated distance of 7 km with an average expenditure per person of Rp. 29,000, Martapura/ Banjar a distance of 10 km the average expenditure is Rp. 30.000, Tanah Laut a distance of 55 km with an average expenditure of Rp. 70,000 and the furthest is a new city with a distance of 300 km with an average expenditure of Rp. 400,000. The influence of the presence of TH2TI on the socio-economic conditions of the community is as follows, providing employment Opportunities for the community around MH2T are business opportunities both as traders and in the service sector. In tourism in Cempaka Village, namely Ungu Lake, the development strategy for Purple Lake from the results of the analysis of internal and external factors for Purple Lake, namely 1.95 and 1.75, which is in quadrant II, this position shows solid but faces great difficulties. The Purple Lake site design uses a tourism concept that provides a variety of tours in one tourist locationPenelitaian ini dimaksudkanr untuk menganalisis nilai ekonomi Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia TH2TI dengan metode Travel Cost Method serta mengetahui manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini dilakukan di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan Selam 2 bulan. Hasil penelitian menujukan bahwa biaya di dalam perjalan pada lokasi TH2TI, di pengaruhi oleh jarak masing masing pengujung serta alat transportasi dan konsumsi pengunjung. Data diatas untuk lokasi kedudukan pengunjung paling terdekat yaitu Banjarbaru dengan jarak estimasi 7 km dengan rata-rata pengeluaran per orang Rp. 29.000, Martapura/ Banjar jarak 10 km rata-rata pengeluaran Rp. 30.000, Tanah laut jarak 55 km rata-rata pengeluaran Rp.70.000 dan yang paling terjauh yaitu kota baru dengan jarak 300 km rata-rata pengeluaran Rp. 400.000.  Pengaruh kehadiran TH2TI terhadap sosial ekonomi masyarakat, tersedianya lapangan pekerjaan berpeluang bagi masyarakat. TH2TI adalah peluang usaha baik sebagai pedagang maupun bidang jasa. didalam wisata yang terdapat di Kelurahan Cempaka yaitu Danau Ungu, Strategi pengembangan untuk Danau Ungu dari hasil analisis faktor internal dan eksternal Danau Ungu yaitu 1,95 dan 1,75 yang Berada di kuadran II posisi ini menunjukkan solid namun menghadapi kesulitan besar. Desain tapak Danau Ungu menggunakan konsep wisata yang memberikan beragam wisata di dalam satu lokasi wisata.
KEANEKARAGAMAN FAUNA DI HUTAN MANGROVE KECAMATAN KURAU, KABUPATEN TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN Abdi Fithria; Syam’ani Syam’ani; Arfa Agustina Rezekiah; Rosidah Radam; Rina Kanti; Yasinta Nur Shiba; Muhammad Margi Ratmanto; Muhammad Ispi Ahrija; Yohanes Kristianto; Cahyo Wasito; Siti Faridah Nur Amalia; Varadilla Putri Saskia; Muhammad Rifani
Jurnal Hutan Tropis Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Hutan Tropis Volume 14 Nomer 2 Edisi Juni 2026
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v14i2.26374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman fauna pada ekosistem mangrove dengan tingkat kerapatan berbeda di Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Pengambilan data dilakukan melalui survei lapangan dengan pendekatan observasi langsung dan analisis indeks keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan variasi komposisi fauna pada tiga kategori kerapatan mangrove. Pada kerapatan rendah ditemukan 341 individu dari 65 spesies dengan nilai Shannon-Wiener (H’) 3,99, Simpson (D) 0,97, dan Evenness (E) 0,96 yang menunjukkan keanekaragaman sangat tinggi dan distribusi merata. Pada kerapatan sedang tercatat 182 individu dari 32 spesies dengan H’ 2,50, D 0,82, dan E 0,72 yang menandakan keanekaragaman sedang dengan dominasi relatif pada Macaca fascicularis. Sementara itu, kerapatan tinggi mencatat 108 individu dari 39 spesies dengan H’ 3,27, D 0,94, dan E 0,89, menunjukkan komunitas beragam dan seimbang meskipun jumlah individu lebih sedikit. Hasil ini menegaskan bahwa setiap tingkat kerapatan mangrove memiliki peran ekologis berbeda: kerapatan rendah mendukung fauna generalis dan burung air, kerapatan sedang optimal bagi primata arboreal, sedangkan kerapatan tinggi berfungsi sebagai refugia bagi spesies kunci seperti Nasalis larvatus dan Trachypithecus cristatus. Novelty penelitian ini terletak pada pendekatan komparatif antar kerapatan vegetasi mangrove di Kurau yang mengungkapkan pentingnya mosaik habitat dalam menjaga keanekaragaman fauna. Temuan ini berimplikasi pada strategi konservasi berbasis lanskap dan pengembangan ekowisata berkelanjutan di kawasan pesisir Kalimantan Selatan.