Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bimbingan Teknis Penyadapan Nira Nipah (Nyfa fruticans Wurmb) Sebagai Sumber Pemanis Baru Masyarakat Desa Tabunganen Kecil Rosidah Radam; Rina Kanti
Repong Damar: Jurnal Pengabdian Kehutanan dan Lingkungan Vol 3, No 1 (2024): June
Publisher : Magister of Forestry,Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/rdj.v3i1.8942

Abstract

Tumbuhan nipah yang tumbuh disekitar rumah masyarakat sama sekali belum dimanfaatkan secara maksimal, selama ini masyarakat hanya memanfaatkan buah nipah yang muda untuk sayur dan lidi daun nipah untuk sapu. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat sebagai usaha keluarga. Tujuan dari kegiatan Pengabdian ini adalah menumbuhkembangkan   semangat masyarakat yang terampil dalam memanfaatkan tumbuhan nipah secara maksimal untuk menambah penghasilan keluarga. Kegiatan Pengabdian dilakukan dengan penyuluhan dan bimbingan teknis. Penyuluhan dilakukan dengan penyampaian materi tentang manfaat tumbuhan nipah sebagai sumber pangan, dan bimbingan teknis penyadapan nira nipah agar menghasilkan produksi nira yang maksimal. pembimbingan penyadapan nira langsung di areal tumbuhan nipah yang meliputi teknik penggoyangan tandan buah pada prasadap, sudut pemotongan tandan  dan perlakuan terhadap hasil produksi nira yang diperoleh. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sebanyak 35 orang masyarakat,  bapak ketua RT 03  dan  beberapa tokoh masyarakat  lainnya. Masyarakat sangat antusias sekali dengan kegiatan penyuluhan dan pembimbingan tersebut. Pada saat pemantauan yang dilakukan, ada beberapa masyarakat yang sudah berhasil menyadap nira nipah dan bahkan sudah mengolahnya dalam bentuk gula cair dan gula padat. Tim berharap setelah penyuluhan ini, masyarakat  desa Tabunganen Kecil dapat memanfaatkan tumbuhan nipah  semaksimal mungkin sebagai sumber pemanis untuk memenuhi kebutuhan sumber pemanis dan sekaligus dapat menambah penghasilan keluarga.
KEANEKARAGAMAN FAUNA DI HUTAN MANGROVE KECAMATAN KURAU, KABUPATEN TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN Abdi Fithria; Syam’ani Syam’ani; Arfa Agustina Rezekiah; Rosidah Radam; Rina Kanti; Yasinta Nur Shiba; Muhammad Margi Ratmanto; Muhammad Ispi Ahrija; Yohanes Kristianto; Cahyo Wasito; Siti Faridah Nur Amalia; Varadilla Putri Saskia; Muhammad Rifani
Jurnal Hutan Tropis Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Hutan Tropis Volume 14 Nomer 2 Edisi Juni 2026
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v14i2.26374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman fauna pada ekosistem mangrove dengan tingkat kerapatan berbeda di Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Pengambilan data dilakukan melalui survei lapangan dengan pendekatan observasi langsung dan analisis indeks keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan variasi komposisi fauna pada tiga kategori kerapatan mangrove. Pada kerapatan rendah ditemukan 341 individu dari 65 spesies dengan nilai Shannon-Wiener (H’) 3,99, Simpson (D) 0,97, dan Evenness (E) 0,96 yang menunjukkan keanekaragaman sangat tinggi dan distribusi merata. Pada kerapatan sedang tercatat 182 individu dari 32 spesies dengan H’ 2,50, D 0,82, dan E 0,72 yang menandakan keanekaragaman sedang dengan dominasi relatif pada Macaca fascicularis. Sementara itu, kerapatan tinggi mencatat 108 individu dari 39 spesies dengan H’ 3,27, D 0,94, dan E 0,89, menunjukkan komunitas beragam dan seimbang meskipun jumlah individu lebih sedikit. Hasil ini menegaskan bahwa setiap tingkat kerapatan mangrove memiliki peran ekologis berbeda: kerapatan rendah mendukung fauna generalis dan burung air, kerapatan sedang optimal bagi primata arboreal, sedangkan kerapatan tinggi berfungsi sebagai refugia bagi spesies kunci seperti Nasalis larvatus dan Trachypithecus cristatus. Novelty penelitian ini terletak pada pendekatan komparatif antar kerapatan vegetasi mangrove di Kurau yang mengungkapkan pentingnya mosaik habitat dalam menjaga keanekaragaman fauna. Temuan ini berimplikasi pada strategi konservasi berbasis lanskap dan pengembangan ekowisata berkelanjutan di kawasan pesisir Kalimantan Selatan.