Syamsul Anwar
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Usūl Al-Takhrīj (Tehnik-tehnik Pelacakan Hadis) Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.81-102

Abstract

Hadis adalah sumber kedua ajaran Isalam setelah Al-Qur’an. Berkat usaha para ulama mutaqaddimin, hadis-hadis itu telah dihimpun dalam kitab-kitab hadis dengan berbagai bentuk dan system. Ada yang berupa musnad; ada pula yang berbentuk musannaf. Disamping itu hadis-hadis juga terdapat dalam kitab-kitab non-hadis, seperti kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab biografi dan lain-lain.suatu hal yang harus dicatat disini adalah kenyataan bahwa kitab-kiab hadis tersebut sangatlah luas dan sangat beragam system penyusunannya, sehingga percobaan untuk mencari sebuah hadis tertentu didalamnya tidaklah mudah, terutama bagi orang yangtidak akrab dan belum bisa bergaul dengan kitab-kitab hadis. Kalua boleh dikatakan, kitab-kitab tersebut dapat diibaratkan dengan Samudra luas yang tidak bertepi dan orang yang mencoba menemukan sebuah Mutiara hadis didalamnya tak ubah laksana mencari sebatang jarum didasar laut. Perumpamaan ini tidaklah berlebihan. Kata-kata Allamah Ahmad Muhammad Syakir berikut ini bisa menjadi illustrasi yang tepat. Ia mengatakan, saya sudah bergaual dengan ilmu dan kitab-kitab hadis sejak masa selama dua puluh lima tahun. Saya sudah mempelajari banyak kitab-kitab hadis secara sama dan qiraat kepada tokoh-tokoh dan guru-guru besar hadis terutama ayah saya sendiri Muhammad syakir, mantan wakil Universitas al-Azhar, dan al-Hafiz Abdullah Ibn Idris al-Sanusi, seorang Ulama dan Syaikh terkemuka Maroko. Namun demikian saya masih mengalami kesukaran untuk menemukan beberapa hadis pada tempatnya. Bahkan yang lebih aneh lagi, pernah saya mencari sebuah hadis dalam sunan Tirmizi baru lima tahun kemudian saya temukan, padahal kitab tersebut telah saya pelajari secarasama kepada ayah saya dan merupakan spesialisasi saya serta mendapat perhatian besar dari saya. Kalua Ahmad Syakir saja, yang tidak seorangpun meragukan keahliannya dalam hadis, masih mengalami kesukaran untuk mencari suatu hadis tertentu dalam sumber-sumber aslinya, maka patah lagi orang-orang yang tidak memiliki spesialisasi dalam hadis serta belum akrab dengan kitab-kitab hadis; kesulitan-kesulitan itu tentu akan jauh lebih besar.
Filsafat dan Syari’ah dalam Pemikiran Ibnu Rusyd (1126-1198) Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 51 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.051.66-80

Abstract

Ibnu Rusyd mempunyai posisi tinggi dalam sejarah filsafat, dan posisi itu bahkan multi segi. Penerjemahan komentar-komentarnya terhadap ariestoteles ke dalam Bahasa latin antara tahun 1217 dan 1256 telah meneguhkan popularitasnya di dunia filsafat sebagai” komentator Aristoteles yang tiada duanya”. Komentar-komentar itu segera menjadi sumber pokok untuk mempelajari Aristoteles sejak waktu itu hingga akhir abad ke-16. Salah satu hasil langsung dari penerjemahan komentar-komentar tersebut adalah bahwa buah pemikiran ibnu rusyd kemudian menjadi bagian dari warisan aristotalian di Eropa Barat. Namun demikian “nasionalis” terhadap tokoh paripatetik muslim  terbesar ini harus dilakukan dengan hati-hati. Penonjolan perannya dalam keikutsertaan menafsirkan warisan Aristotalian itu telah memalingkan perhatian dari peran yang dimainkannya dalam mencari penyelesaiaan masalah perdamaiaan antara filsafat dan syari’ah, yang justru di sini komitmen intelektualnya yang paling dalam ditonjolkan. Pemikiran keagamaan Ibnu Rusyd terkandung dalam tiga maqnum opus, yaitu Tahāfutu, t-Tahāfut, yang disusunnya sekitar tahun 1180, faṣlu ‘l-maqāl fi mā Baina al-Ḥikmah wa ‘sy-Syarīáh min al-Ittisal dan al-Kasyaf ‘an Manāhij al-adillah. Kedua karya terakhir ini disusunnya beberapa waktu sebelum menyusun karya pertama. Ketiga buku ini merupakan corpus yang sangat penting dalam usaha usaha melacak inti pemikiran yang khas Ibnu Rusyd, bahkan juga perkembangan pemikiran islam secara umum, dalam masalah hubungan antar filsafat dan Syari’ah.