Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlawanan Sangia Dowo (Sangia Nilemba), Raja Kerajaan Moronene Poleang Terhadap Kolonialisasi Belanda, 1906-1912 Diky Fikriansyah
Journal Idea of History Vol 5 No 1 (2022): Volume 5 Nomor 1, Januari - Juni 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v5i1.1634

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan perlawanan Sangia Dowo (Sangia Nilemba) terhadap hegemoni dan kolonialisasi Belanda di Tanah Kerajaan Moronene. khususnya daerah Kerajaan Moronene Polea. (2) perundingan yang terjadi antara Sangia Dowo (Kerajaan Moronene Polea) dengan Kapten De Jongens (Belanda). (3) Inilah alasan untuk mengangkat Sangia Dowo sebagai pahlawan nasional Indonesia..Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sejarah yang terdiri dari lima tahap, yaitu: (1) Pemilihan topik, terbagi dua bagian yakni kedekatan dan kedekatan pendekatan, (2) Heuristik sumber, terdiri dari studi dokumen, studi kepustakaan, wawancara dan pengamatan, (3) Verifikasi sumber, yang dilakukan melalui kritik eksteren dan kritik interen, (4) Interpretasi sumber, yang dilakukan dengan analisis data dan sintesis, (5) Historiografi, yang dilakukan secara sistematis dan objektif.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Ketidaksenangan dan penentangan Sangia Dowo terhadap hegemoni dan kolonialisasi Belanda yang mengakibatkan meletusnya peperangan di antara Kerajaan Moronene Polea melawan penjajah Belanda. (2) Karena ketidakmampuan Belanda menguasai Kerajaan Moronene Polea pimpinan Sangia Dowo, maka pihak Belanda melakukan sebuah tindakan tipu muslihat berupa perundingan dan meracuni Sangia Dowo. (3) Semua kejadian yang terjadi pada Sangia Dowo dan dengan memperhatikan sebab seorang tokoh diangkat menjadi pahlawan nasional, maka Sangia Dowo sangat layak untuk dijadikan pahlawan nasional Indonesia. Kata Kunci: Sangia Dowo, Kapten De Jongens, Perang, Perjanjian
DI/TII DI Poleang: Awal Masuk, Pengaruh dan Berakhirnya Gerakan, 1953-1965 Diky Fikriansyah; Ilham Daeng Makkelo; Nahdia Nur
Gema Wiralodra Vol. 13 No. 2 (2022): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gw.v13i2.320

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan awal masuknya DI/TII di Poleang. (2) Menjelaskan struktur komando pada pasukan DI/TII selama di Poleang. (3) Menjelaskan gerakan yang dilakukan oleh DI/TII selama di Poleang. (4) Menjelaskan penyebab berakhirnya gerakan DI/TII di Poleang yang mulai terjadi pada tahun 1953 dan berakhir pada tahun 1965. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sejarah yang terdiri dari lima tahap penelitian, yaitu: (a) Pemilihan topik, terbagi dua bagian yakni kedekatan emosional dan kedekatan intelektual, (b) Heuristik sumber, terdiri dari studi dokumen, studi kepustakaan, wawancara dan pengamatan, (c) Verifikasi sumber, yang dilakukan melalui kritik eksteren dan kritik interen, (d) Interpretasi sumber, yang dilakukan dengan analisis data dan sintesis, (e) Historiografi, yang dilakukan secara sistematis dan objektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Awal masuknya DI/TII di Poleang tidak terlepas dari masuknya DI/TII di Sulawesi Tenggara yang dimulai dengan masuknya gerakan ini di wilayah Tondonbasi, Kolaka Utara, hingga akhirnya tiba di Poleang. (2) Setelah DI/TII berhasil masuk di Poleang, langkah selanjutnya adalah membentuk struktur komando, yang bermarkas di daerah Poleang. (3) Gerakan yang dilakukan oleh DI/TII selama di Poleang adalah mendirikan markas sebagai pusat gerakan agar lebih tertata dan terarah serta mengembangkan bidang pendidikan agar membuat Gerakan DI/TII ini semakin berkualitas. (4) Gerakan DI/TII di Poleang resmi berakhir pada tahun 1965 ketika para pasukan DI/TII ini mendengar kabar kematian pemimpin mereka yakni Kahar Muzakkar. Terdapat dua versi tentang kejadian mati tertembaknya Kahar Muzakkar pada saat itu. Versi pertama menyatakan bahwa Kahar Muzakkar mati tertembak (versi pemerintah). Versi kedua meyakini bahwa Kahar Muzakkar pada saat itu tidak mati tertembak seperti yang dikatakan oleh pemerintah (versi para prajurit DI/TII dan kebanyakan masyarakat awam). Kata Kunci: DI/TII, Gerakan, Poleang