Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Herbal Plant Essential Oils in the Treatment of Acne Vulgaris Kelvin; Linda Julianti Wijayadi
Science Midwifery Vol 10 No 4 (2022): October: Science Midwifery
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v10i4.764

Abstract

Acne vulgaris (AV) is a disease of the pilosebaceous unit that often occurs at the age of 15 to 40 years. Various factors can influence this disease such as abnormal keratinization, microbial colonization, increased sebum production and complex inflammatory mechanisms. Essential oils can be used as an alternative therapy for AV. Various kinds of essential oils which are natural aromatic compounds from herbal plants, have long been known to help cure AV. This is because of the various beneficial compounds contained in each essential oils. The effects are varied such as anti-inflammatory, antioxidant and antimicrobial which will affect the healing mechanism of AV. This literature review discusses the role of essential oils from kaffir lime (Citrus hystrix), cinnamon (Cinnamomum), tea tree (Melaleuca alternifolia), lemongrass (Cymbopogon citratus (DC) Stapf. and Cymbopogon flexuosus), oregano (Origanum vulgare) and lavender (Lavandula angustifolia) against AV treatment.
PERBEDAAN KADAR AIR, MINYAK, DAN HIDRASI KULIT DI 3 WILAYAH (BADUY LUAR, SALATIGA, DAN KOTA BAMBU) Linda Yulianti W; Kelvin; Fiona Valencia Setiawan
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.36447

Abstract

Variabilitas karakteristik fisiologis kulit merupakan refleksi dari interaksi kompleks antara determinan lingkungan, perilaku individu, dan kondisi geografis. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis komparatif terhadap kadar minyak, kadar air, dan tingkat hidrasi kulit pada wanita dewasa yang tinggal di tiga lingkungan dengan profil ekologis berbeda: komunitas adat semi-rural (Baduy Luar), wilayah semi-urban dataran tinggi (Salatiga), dan kawasan urban padat penduduk (Kota Bambu). Studi potong lintang ini melibatkan 304 partisipan berusia 18–96 tahun, dengan pengukuran parameter kulit menggunakan skin analyzer digital yang telah dikalibrasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis, dengan batas signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan yang sangat bermakna pada seluruh variabel antarwilayah. Responden urban menunjukkan kadar minyak, air, dan hidrasi tertinggi, yang kemungkinan berkaitan dengan kelembapan lingkungan urban, paparan polutan atmosfer, serta penggunaan produk perawatan kulit yang lebih intensif. Sebaliknya, responden dari wilayah dataran tinggi memiliki nilai terendah pada semua parameter, konsisten dengan efek udara kering dan suhu rendah terhadap peningkatan kehilangan air transepidermal. Komunitas adat memperlihatkan kadar air dan minyak rendah, namun hidrasi epidermal tetap relatif terjaga, mengindikasikan adanya adaptasi fisiologis yang khas terhadap paparan lingkungan alami dan stabilitas mikrobioma kulit. Keseluruhan temuan menggarisbawahi bahwa homeostasis barrier kulit bersifat sangat kontekstual terhadap lingkungan mikro dan makro. Studi lanjutan dengan desain longitudinal dan integrasi parameter fisiologis tambahan diperlukan untuk memperdalam pemahaman mekanistik dan meningkatkan ketepatan rekomendasi dermatologis berbasis lingkungan.