Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Rekonstruksi Dakwah Di Media Online: Kontekstualisasi Makna Hikmah dalam Q.S. Al-Nahl: 125 Aplikasi Pendekatan Ma’na-Cum-Maghza Ma’na-Cum-Maghza M Bintang Fadhlurrahman; Munawir Munawir; Muhammad Mundzir; Rida Sopiah Wardah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 7 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v7i1.1288

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi dakwah di media online dengan menganalisis makna hikmah dalam Q.S. Al-Nahl: 125. Redaksi yang tertera dalam surah tersebut menyerukan kepada seluruh muslim agar mensyiarkan syariat Islam dengan hikmah. Namun di era kontemporer ini, jalan mensyiarkan Islam beraneka ragam, salah satunya melalui media online. Berdasarkan asumsi tersebut, perlu adanya kajian untuk membahas mengenai kontekstualisasi makna hikmah. Penulis dalam hal ini menggunakan pendekatan Ma'na-Cum-Maghza sebagai pisau analisisnya. Kesimpulan yang didapat menunjukkan: pertama makna kontekstual kata “hikmah” dijadikan sebagai landasan dalam berdakwah di media online, bahwa hikmah tidak hanya dipahami sebagai ibrah atau kesimpulan, namun hikmah memiliki makna kebaikan secara umum. Kedua makna signifikansi historis dan dinamis dari Q.S. Al-Nahl: 125 adalah menumbuhkan semangat mensyiarkan Islam. Ketiga, dalam berdakwah tidak memandang gender. Keempat, menampakkan identitas dalam berdakwah adalah nilai fundamental dalam kisah peperangan Nabi. Kelima, diam adalah salah satu upaya berdakwah untuk menjaga kemaslahatan. [This article aims to reconstruct da'wah in online media by analyzing the meaning of wisdom in Q.S. Al-Nahl: 125. The editor listed in the surah calls on all Muslims to spread Islamic law with wisdom. However, in this contemporary era, there are various ways to broadcast Islam, one of which is through online media. Based on these assumptions, a study is needed to discuss the contextualization of the meaning of wisdom. The author in this case uses the Ma'na-Cum-Maghza approach as an analytical knife. The results of this study are, firstly, able to provide contextual meaning regarding the word wisdom as a basis for preaching in online media, that wisdom is not only understood as ibrah or conclusions, but wisdom has the meaning of goodness in general. Both the historical and dynamic significance of Q.S. Al-Nahl: 125 is to cultivate the spirit of spreading Islam. Third, in preaching does not look at gender. Fourth, showing identity in preaching is a fundamental value in the story of the Prophet's war. Fifth, silence is one of the efforts to preach to maintain the benefit.]
The Interpersonal Communication of Prophet Muhammad in Dialogic Hadiths Munawir Munawir; Musta'in Musta'in
Ijtimā iyya Journal of Muslim Society Research Vol. 7 No. 2 (2022)
Publisher : Postgraduate Program, State Islamic University Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ijtimaiyya.v7i2.8038

Abstract

Prophet Mohammed’s interpersonal communication is an appealing topic to study not only the way the communication is conveyed but also the effectiveness of the communication. Though his assignment as a messenger of God was relatively short, around 23 years, he was able to communicate his Islamic messages (teachings) to the Arab community successfully. He turned the Arabs from rejecting and confronting Islam into accepting and defending it. There are factors contributing to this success, and one of them is his interpersonal communication skill. This study attempts to describe Mohammed’s interpersonal communication through a deep investigation into dialogic prophetic traditions (hadith). This study employs a descriptive-inferential method and a subjective communicative approach. The theory used in this study is that of interpersonal communication. The findings reveal five qualities supporting the effectiveness of Mohammad’s interpersonal communication in his dialogic hadiths. They are openness, empathy, supportive attitudes, positive attitudes, and equality.
Tantangan Dalam Penerjemahan Al-Quran: Ḥarfiyyah Vs. Tafsiriyyah Khaerul Khafidin; Munawir Munawir
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1306

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan yang dihadapi dalam penerjemahan Al-Qur’an dengan metode ḥarfiyyah (literal) dan tafsiriyyah (interpretatif). Latar belakang penelitian ini adalah perdebatan tentang kesulitan mempertahankan kedalaman dan keakuratan makna Al-Qur’an dalam terjemahan, mengingat karakteristik unik bahasa Arab dan nuansa spiritual yang terkandung dalam teks. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif melalui pendekatan studi pustaka, dengan menggunakan data primer dari karya-karya klasik mengenai penerjemahan Al-Qur’an dan data sekunder dari literatur relevan lainnya. Penelitian ini mengacu pada teori penerjemahan dari Muhammad Husein al-Dzahabi, Manna al-Qaththan, dan beberapa ulama klasik, yang membedakan antara pendekatan literal dan interpretatif berdasarkan tingkat ketergantungan pada struktur teks asli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan ḥarfiyyah dapat mempertahankan keakuratan linguistik namun sering mengorbankan kedalaman makna, sementara penerjemahan tafsiriyyah lebih efektif dalam menyampaikan makna spiritual tetapi berisiko mengurangi keaslian tekstual. Kesimpulannya, kedua metode memiliki tantangan tersendiri, dan kesuksesan penerjemahan sangat bergantung pada pemahaman mendalam terhadap bahasa sumber dan target, serta pengetahuan agama yang memadai untuk menjaga integritas pesan asli Al-Qur’an.