p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal ZOOTEC
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian keragaman genetik sapi lokal campuran untuk penguatan peternakan sapi potong di Sulawesi Utara U. Paputungan; W. Utiah; S. Turangan; E. Pudjihastuti
ZOOTEC Vol. 42 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.347 KB) | DOI: 10.35792/zot.42.1.2022.41535

Abstract

Faktor genetik pada pewarisan bobot hidup ternak adalah nilai pemuliaan,  deviasi dominansi dan heritabilitas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komponen genotipe nilai pemuliaan dan deviasi dominansi bobot hidup serta heritabilitasnya pada sapi Peranakan Ongole dan Lokal. Total 74 induk sapi generasi awal (G0), dan 104 induk generasi 1 (G1) dari pejantan sapi Ongole dianalisis kontribusi genetik. Lokus gen sapi Ongole (gen O) dan gen sapi Lokal (gen L) hasil pengukuran bobot hidup ternak genotipe OO, LL dan LO dianalisis melalui komponen nilai pemuliaan dan deviasi dominan gen. Program statistik Excel XP digunakan menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata populasi tetua (µ) bobot hidup ternak (G0) adalah 340,01 ± 6,12 kg. Sedangkan rara-rata populasi (µ1) bobot hidup ternak generasi keturunan (G1) adalah 359,60 ± 5,67 kg, dengan respon seleksi (∆µ) sebesar 19,59 kg. Komponen genotipe homozigot OO dan LL sangat didominasi oleh aksi gen aditif dengan nilai pemuliaan lebih tinggi untuk bobot hidup daripada aksi gen deviasi dominan. Genotipe heterozigot LO didominasi pula oleh aksi gen deviasi dominan yang lebih rendah daripada aksi gen aditif. Heritabilitas (h2) bobot hidup sapi sebagai aksi gen aditif adalah 0,66 dengan kategori tinggi, sedangkan aksi gen dominan () adalah sebesar 0,33 yang dikategorikan heritabilitas sedang.Kata Kunci: Nilai pemuliaan, aksi gen dominan, bobot hidup, sapi Campuran Lokal-Ongole
Morfometrik pedet sapi Peranakan Ongole hasil inseminasi buatan dan pedet sapi lokal hasil kawin alam di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur F. Kobandaha; U. Paputungan; L.R. Ngangi; A. Lomboan; S. Adiani
ZOOTEC Vol. 42 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.341 KB) | DOI: 10.35792/zot.42.1.2022.41603

Abstract

Penelitian ini bertujuan  untuk melihat adanya kondisi morfometrik antara pedet sapi Peranakan Ongole (PO) hasil Inseminasi Buatan (IB) dengan pedet sapi Lokal hasil kawin alam (KA) di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur sebagai bahan informasi dalam usaha peningkatan populasi ternak sapi pada peternakan rakyat serta mengedukasikan kepada masyarakat peternak tentang sistem pengembangbiakan metode IB dalam kaitan peningkatan populasi ternak sapi untuk memberikan hasil yang lebih baik bagi masyarakat peternak. Jumlah pedet sapi PO yang digunakan berjumlah 30 ekor hasil IB dan pedet sapi Lokal hasil KA berjumlah 30 ekor. Penelitian ini telah di laksanakan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur pada bulan Agustus 2020 sampai bulan Oktober 2020. Untuk membandingkan pedet baik jantan dan betina maupun pedet hasil IB dan pedet hasil KA digunakan uji t. Berdasarkan ukuran-ukuran tubuh pedet Sapi PO hasil IB dan pedet sapi Lokal hasil KA jantan berbeda tidak nyata dengan ukuran tubuh pedet sapi betina pada kelompok umur pedet tiga bulan. Parameter tinggi pundak, tinggi pinggul, lingkar dada dan bobot badan pedet jantan PO hasil IB lebih besar dibandingkan dengan pedet sapi Lokal hasil KA. Lingkar dada memiliki korelasi yang paling tinggi terhadap bobot badan pedet sapi PO hasil IB diikuti panjang badan dengan nilai secara berurutan 0,87; dan 0,86. Dan variabel panjang badan memiliki korelasi yang paling tinggi terhadap bobot badan pedet sapi Lokal hasil KA diikuti lingkat dada dengan nilai secara berurutan 0,86 dan 0,72.Kata Kunci: Morfometrik pedet sapi, kawin alam, inseminasi buatan
Kemudahan lahir, bobot sapih dan nilai ekonomi pedet yang dihasilkan dari persilangan breed pejantan berbeda dengan induk sapi breed Bali murni U. Paputungan; W. Utiah; S. Turangan; L.R. Ngangi; E.H.B. Sondakh
ZOOTEC Vol. 42 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.031 KB)

Abstract

Pengembangbiakan sapi yang dikawinkan dengan Teknik inseminasi buatan (IB) menggunakan semen pejantan Brahman, Limousine dan Simmental sedang berkembang secara umum saat ini di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Catatan bobot pedet saat lahir dan saat disapih dari 158 ekor induk betina sapi Bali murni umur berkisar lima tahun serta bobot induk setelah melahirkan terakumulasi selama lima tahun (2017-2022) digunakan menilai secara langsung efek berbagai jenis pejantan tersebut yang dikawinkan dengan IB dan secara alami khusus pejantan Bali murni, semuanya dengan induk betina sapi Bali murni terhadap kelancaran lahir anak, bobot pedet dan nilai ekonomis pedet saat disapih. Data dianalisis menggunakan model kovarians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi betina Bali murni dapat digunakan sebagai stok pengganti yang potensial dikawinkan dengan pejantan Brahman, Limousine, dan Simmental unggul untuk peningkatan bobot pedet persilangan sapi Bali dalam populasi sapi komersial tanpa banyak kasus kesulitan melahirkan (dystocia). Program pemuliaan menggunakan pejantan Brahman, Limousine dan Simmental untuk dikawinkan dengan betina sapi Bali murni secara nyata dapat meningkatkan rata-rata pertambahan bobot badan harian (ADG) pedet dan nilai ekonomi yang lebih tinggi dalam istilah income over feed cost (IOFC) pedet saat disapih untuk peningkatan populasi sapi Bali komersial di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.