Mariatul Kiftia
Bagian Keilmuan Keperawatan Maternitas, Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ASUHAN KEPERAWATAN IBU POST SECTIO CAESAREA DENGAN PREEKLAMPSIA DAN HELLP SYNDROME: SUATU STUDI KASUS Ayu Rahayu; Mariatul Kiftia; Dara Ardhia
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preeklampsia dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang salah satunya yaitu HELLP syndrome. Prinsip pengobatan pada pasien dengan HELLP syndrome yaitu dengan terminasi kehamilan yang dapat dilakukan dengan tindakan sectio caesaria. Pasien dengan HELLP syndrome mempunyai masalah dengan hemolisis darah, peningkatan enzim hati, dan penurunan jumlah trombosit. Masalah preeklampsia dan HELLP syndrome bukan hanya berdampak pada ibu hamil dan melahirkan, namun juga menimbulkan masalah pasca persalinan akibat disfungsi endotel diberbagai organ seperti hati, ginjal, jantung dan otak. Tujuan studi kasus ini untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada Ny. PN post sectio caesarea dengan preeklampsia dan HELLP syndrome. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Diagnosa keperawatan yang diangkat adalah risiko perfusi serebral tidak efektif, risiko perdarahan, risiko infeksi, defisit pengetahuan dan nyeri akut. Intervensi yang diterapkan berdasarkan evidence based seperti manajemen nyeri secara nonfarmakologi yaitu teknik relaksasi napas dalam, relaksasi benson, hand hygiene, posisi semi fowler, pendidikan kesehatan terkait dengan preeklampsia, pengkajian nyeri dengan PQRST,  monitor Mean Arterial Preassure (MAP), pemberian terapi antibiotik, perawatan luka post SC, dan pemberian terapi kortikosteroid . Hasil evaluasi selama dilakukan perawatan pada masalah keperawatan yaitu pada diagnosa risiko perfusi serebral tidak efektif belum teratasi karena tekanan darah yang masih tinggi, risiko perdarahan belum teratasi karena hasil laboratorium pada pemeriksaan trombosit masih rendah, dan diagnosa risiko infeksi belum teratasi karena leukosit yang terus mengalami peningkatan. Disarankan kepada perawat untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien postpartum khususnya dengan risiko perfusi serebral tidak efektif karena hipertensi dan menjadikan tulisan ini sebagai referensi dalam menerapkan asuhan keperawatan.
ASUHAN KEPERAWATAN PERSALINAN NORMAL RUPTUR PERINEUM DERAJAT II DAN POST CERVICAL CERCLAGE: SUATU STUDI KASUS Aina Hariana; Dewi Hermawati; Mariatul Kiftia
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penjahitan serviks (cervical cerclage) adalah tindakan yang dilakukan pada ibu hamil dengan inkompetensi serviks untuk mencegah persalinsan prematur. Penjahitan serviks ini dilakukan dengan menempatkan jahitan keliling serviks setinggi ostium uteri internum yang dibiarkan sampai kehamilan cukup bulan, kemudian dilepas dan persalinan dibiarkan terjadi secara spontan. Tujuan dari studi kasus ini adalah mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan persalinan normal ruptur perineum derajat II dan post cervical cerclage di Ruang Bersalin RSUDZA Banda Aceh. Diagnosa keperawatan yang diangkat adalah ansietas, nyeri melahirkan, resiko perdarahan dan resiko infeksi. Intervensi yang diterapkan berdasarkan evidance based practices seperti terapi murotal al-qur’an untuk menurunkan ansietas,  nyeri dengan teknik nafas dalam, massage counterpressure, edukasi latihan pernafasan dan cara meneran untuk mencegah  manuver valsava, resiko perdarahan dengan manajemen aktif kala III dan inisiasi menyusui dini, resiko infeksi dengan pendidikan kesehatan mengenai vulva hygiene dan edukasi pemberian putih telur  untuk mempercepat keringnya luka perineum. Hasil evaluasi selama dilakukan perawatan yaitu pada diagnosa ansietas teratasi, nyeri melahirkan teratasi sebagian, resiko perdarahan teratasi sebagian, dan resiko infeksi teratasi sebagian. Disarankan kepada perawat untuk dapat menjadikan tulisan ini sebagai salah satu sumber rujukan dalam  menerapkan asuhan keperawatan pada ibu dengan persalinan normal ruptur perineum derajat II dan post cervical cerclage.
ASUHAN KEPERAWATAN IBU POST SECTIO CAESAREA DENGAN CEPHALOPELVIC DISPROPORTION: SUATU STUDI KASUS Fara Fichria; Mariatul Kiftia; Elka Halifah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Vol 1, No 3 (2022): Karya Ilmiah Mahasiswa (KIA)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komplikasi saat melahirkan merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Cephalopelvic Disproportion (CPD) adalah salah satu komplikasi yang mengharuskan tindakan sectio caesarea. CPD adalah ketidaksesuaiaan antara kepala janin dengan panggul ibu sehingga kepala janin tidak masuk panggul. CPD dapat terjadi karena berkurangnya ukuran panggul, ukuran janin yang terlalu besar atau kombinasi dari keduanya. Masalah CPD bukan hanya berdampak kepada ibu yang akan melahirkan namun juga pada keselamatan bayi. Tujuan studi kasus ini untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan Ny. EM post sectio caesaria dengan cephalopelvic disproportion. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Diagnosa keperawatan yang diangkat adalah nyeri akut, menyusui tidak efektif, resiko infeksi dan ansietas. Intervensi yang di terapkan berdasarkan evidence based seperti manajemen nyeri non-farmakologis yaitu deep breathing exercise, mobilisasi dini, terapi zikir. Manajemen laktasi yaitu posisi menyusui, perlekatan menyusui yang benar (lacth on), breast care (perawatan payudara, kompres hangat dan pijat oksitosin), pemberian terapi antibiotic dan analgesic, perawatan lukas post SC, manajemen ansietas yaitu terapi murotal al-quran dan terapi SEFT. Hasil evaluasi dilakukan selama perawatan didapatkan bahwa seluruh masalah dapat teratasi namun resiko infeksi tetap dalam pemantauaan. Disarankan kepada perawat dapat menerapkan asuhan keperawatan yang komprehensif berdasarkan evidence based practice, dan menjadikan tulisan ilmiah menjadi referensi tambahan dalam menerapkan asuhan keperawatan.