Demensia adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti kehilangan memori dan fungsi intelektual. Gejalanya meliputi pelupa, sulit berkonsetrasi, keterampilan sosial dan kemampuan berpikir yang terbatas, sehingga dapat mengganggu kegiatan sehari-hari individu. Skrining merupakan upaya selektif yang digunakan untuk mendeteksi risiko atau gejala dari demensia. Skrining sebagai pencegahan kesehatan sekunder dilakukan untuk mengurangi dampak demensia sejak dini, dimulai dengan menilai ada tidaknya gejala pada individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil skrining demensia yang dilakukan pada lanjut usia di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross-sectional study. Jumlah sampel sebanyak 56 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Alat pengumpulan data yaitu instrumen General Practitioner Assessment of Cognition (GPCOG) yang telah diterjemahkan dan dimodifikasi dari Henry Brodaty, et al (2002). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terpimpin pada responden dan keluarga/wali responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skrining lansia berada pada kategori tidak terindikasi demensia sebanyak 43 orang (76,8%) dan terindikasi demensia sebanyak 13 orang (23,2%). Rekomendasi penelitian ini agar fasilitas untuk skrining demensia dapat dioptimalkan dengan mengkaji aspek-aspek kognitif pada lansia di tatanan layanan kesehatan rumah sakit, klinik, dan komunitas.