Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Perubahan struktur dan komposisi tegakan pada areal bekas tebangan sistem TPTI di Kalimantan Timur Marjenah Marjenah; Paulus Matius; Doto Tri Purnomo; Kiswanto Kiswanto; Sutedjo Sutedjo
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v7i1.8385

Abstract

Komposisi jenis permudaan alami dan tegakan tinggal, menganalisis struktur dan volume tegakan tinggal pada areal hutan bekas tebangan umur 6 tahun, 4 tahun dan 2 tahun. Metode pembuatan plot menggunakan metode Purposive Sampling. Plot sampel berukuran 20 m x 125 m untuk pohon, sub plot berukuran 5 m x 5 m untuk pancang dan sub plot berukuran 2 m x 2 m untuk data semai. Hasil perhitungan yang diperoleh, komposisi jenis tingkat semai plot umur 6 tahun 29.500 individu/ha (28 jenis), tingkat pancang 7.360 individu/ha (35 jenis), tingkat pohon 356 individu/ha (46 jenis). Pada umur 4 tahun tingkat semai 77.000 individu/ha (26 jenis), tingkat pancang 8.400 individu/ha (33 jenis), tingkat pohon 360 individu/ha (50 jenis). Pada plot umur 2 tahun tingkat semai 44.500 individu/ha (37 jenis), tingkat pancang 2.400 individu/ha (17 jenis), tingkat pohon 272 individu/ha (43 jenis). Struktur tegakan tinggal di plot penelitian menunjukkan pada fase akhir pertumbuhan pohon memiliki jumlah yang semakin sedikit dan terdapat kesinambungan struktur horizontal dan vertikal. Potensi tegakan penebangan pada plot umur 6 tahun, sebesar 561,7 m3/ha dan 385,5 m3/ha; plot umur 4 tahun 406,3 m3/ha dan 150,3 m3/ha; pada plot umur 2 tahun 472,4 m3/ha dan 248,7 m3/ha; semuanya termasuk jenis komersil.
Relationship between Age and Standing Diameter of Eucalyptus pellita F. Muell Clone A in Industrial Plantation Forest Sebulu Kutai Kartanegara District, East Kalimantan Province: Hubungan Umur dengan Diameter Tegakan Eucalyptus pellita F. Muell Klon A di Hutan Tanaman Industri Kecamatan Sebulu Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur noor jannah; Marjenah; Wahjuni Hartati; Ria Rachel Paranoan
Agrifarm : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 9 No 1 (2020): July
Publisher : Universitas Widya Gama Mahakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/ajip.v9i1.939

Abstract

Forestry development which is oriented towards meeting the raw materials of the forestry industry is one of them with industrial plantations. The types developed are adapted to the needs of the industry and which have high economic value. Eucalyptus pellita F. Muell is one of the fast growing species that is very important for the pulp and paper industry. The advantages of this Eucalyptus as a fast growing plant are short rotation, few disease attacks, many benefits, and high economic value. One of the parameters of vegetative growth is the diameter, which in this case is measured by different stand age classes. So the research aims to determine the effect of age on the distribution of diameters and suspect of relationship patterns. The plant material is derived from clones, namely Clone A which is the result of selection from progeny test which will produce selected clones based on specified criteria and one of them is Clone A which is now a commercial clone since 2012. Propagation through vegetative tissue culture (as mother plant) which is then made shoot cuttings in the stool plant. The study was conducted in HTI PT Surya Hutani Jaya (PT SRH) Sebulu District, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan Province by determining the research plots by purposive sampling with RAK ​​and 3 replications. Furthermore, doing a diameter census (DSD) and numbering of all tree compilers stands in a circular research plot with an area of ​​0.05 ha, circle radius 12.6 m on stands aged 6 months (0.5 years), 2, 4 and 5 years. The results obtained from this study which are based on the analysis of variance (ANOVA) shows that stand age has a very significant effect on the distribution of diameters, where the results of the BNT 5% test indicate that among the average diameters per age class (6 months, 2, 4 and 5 years) show significantly different from each other. The linear regression relationship between age and diameter distribution of the average stand formed with the equation formed was: Y = 3.96 + 2.2777X, with values ​​R2 = 0.9730 and r = 0.9864.
Pematahan Dormansi Benih Kemenyan Durame (Stryrax benzoin Dryand) dengan Perlakuan Pengamplasan dan Perendaman Marjenah Marjenah; Kiswanto Kiswanto; Reynaldi Hutauruk
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 2 (2026): (In Press)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i2.26468

Abstract

Penelitian dirancang dengan Pola Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan perlakuan perendaman (P) yang terdiri dari 4 kategori yaitu P0 (tanpa perendaman), P1 (perendaman dengan air biasa selama 12 jam), P2 (perendaman dengan air  biasa dengan mengganti airnya setiap 3 jam selama 12 jam)P3 (perendaman dengan air panas dengan suhu awal (80℃) dan dibiarkan menjadi dingin  selama 12 jam) dan perlakuan pengamplasan yang terdiri dari 4 kategori yaitu S0(tanpa pengamplasan), S1(pengamplasan satu sisi), S2(pengamplasan dua sisi),S3  (pengamplasan pada bagian bawah benih). Dua faktor tersebut dikombinasikan menjadi 16 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali sehingga ada 48 satuan percobaan dan Setiap satuan percobaan terdiri 15 benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengamplasan dan perendaman berpengaruh terhadap pematahan dormansi benih kemenyan durame. Benih kemenyan durame yang diamplas pada dua sisi benih dan direndam dengan mengganti airnya setiap 3 jam selama 12 jam memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap beberapa parameter yaitu persentase hidup kecambah sebesar 89%, rata rata daya kecambah benih 93,3 %, rata rata laju perkecambahan benih 20  hari. Kemenyan durame memiliki rataan kadar air benih 17,18 % hal ini menunjukkan bahwa kadar air benih kemenyan durame tergolong kepada benih intermediet. Tipe perkecambahan kemenyan durame adalah epigeal.