Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kemampuan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Jigsaw -Probing Prompting dengan Sloa Berdasar Metakognisi Murwati, Sri; Masrukan, Masrukan
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.431 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk (1) mengetahui keefektifan pembelajaran Jigsaw metode Probing - Prompting dengan SLOA terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika (KPMM); (2) mendeskripsikan KPMM siswa metakognisi tinggi, metakognisi sedang dan rendah. Tipe penelitian mixed method ini adalah concurrent embedded. Subyek penelitian ditetapkan dengan kuesioner dan wawancara metakognisi. Keefektifan pembelajaran didasarkan pada analisis hasil tes KPMM yang diuji dengan Wilcoxon test dan U Mann Whitney test. Hasil analisis kuantitatif, disimpulkan bahwa pembelajaran Jigsaw - Probing Prompting dengan SLOA efektif terhadap KPMM dan pembelajaran tersebut berkualitas baik. Berdasarkan analisis data kualitatif, dideskripsikan (a) KPMM siswa metakognisi tinggi, memenuhi keempat kriteria; (b) KPMM siswa matakognisi sedang, memenuhi dua kriteria; dan (c) KPMM siswa metakognisi rendah, hanya memenuhi satu kriteria, dari empat kriteria KPMM. Beberapa kendala ditemui selama pembelajaran, oleh karenanya disarankan untuk mempersiapkan lembar kerja yang intruksi kerjanya lebih terperinci untuk memudahkan proses probing- prompting dan lebih memonitor peserta didik metakognisi rendah supaya lebih terbiasa melakukan refleksi dan monitoring terhadap penyelesaian masalahnya. The purpose of this research to (1) knowing the effectiveness of Cooperatif Learning Jigsaw - Probing Prompting Whith SLOA to the mathematics problem solving ability; (2) describe the mathematics problem solving ability of students in hight metacognition (SHM), medium metacognitions (SMM) and low metacognitions (SLM). Type mix method in this research is concurrent embedded. The sample determinet of interview and metacognition queisioner. The effectiveness learning is based on the analysis of results the test of mathematics problem solving ability whit Wilcoxon test and U Mann Whitney test. Based on the results of the quantitative data analysis obtained that this learning effective to mathematics problem solving and this learning is good quality. Based on qualitative data analysis, described of the mathematics problem solving ability in (a) SHM that the students meet the four Standard; (b) SMM that the students meet the two Standard; and (c) SLM that students only one standard from four standard of problem solving by NCTM. From obstacles as research recommended so that completed instructions in worksheet for probing- prompting and more attention to students in the low metacognition so get used monitor and reflect on there prosess of mathematical problem solving.
Penggunaan bahasa isyarat dalam pembelajaran seni tari bagi siswa tunarungu tingkat sekolah menengah pertama di sekolah luar biasa Murwati, Sri; Syefriani, Syefriani
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2024): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020244358

Abstract

This study aims to describe the use of sign language in dance learning in deaf students at the junior high school level at SLB Negeri Siak. This study uses a descriptive qualitative method. The data collection techniques used are observation, interviews and documentation. The results showed that the use of sign language in dance learning for deaf students at the junior high school level at SLB is very effective in improving their understanding and skills. Teaching methods that use SIBI and BISINDO sign language help deaf students to more easily understand dance movement instructions. . The findings make an important contribution to the development of more inclusive and effective teaching methods in SLB, as well as providing practical guidance for teachers in teaching dance to deaf students.
Daya Saing Proses "Batik Radioan" dengan Zat Warna Reaktif dan Indanthreen Murwati, Sri; Djijono, Djijono; Setiadji, Umar
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1074

Abstract

Pada proses Batik Radioan digunakan tahapan proses pemutihan yang berdampak menurunnya kekuatan tarik kain. Untuk mengatasi hal ini perlu dikembangkan proses penyempurnaan Batik Radioan yang tidak mengurangi kekuatan tarik tetapi kemurnian warnanya sama, sehingga warna pertama bila ditumpangi warna kedua tidak akan timbul warna tumpangan; warna yang diperoleh tetap warna kedua. Dari hasil penelitian proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen sesuai dengan sifat kimianya, diperoleh efektifitas proses tanpa diperlukan tahap pemutihan karena zat warna reaktif dan indanthreen mengandung gugus yang, bila tereduksi akan pecah dan mengikat ion H dan membentuk gugus amin yang tidak berwama. Selain itu biaya proses dapat ditekan dengan memperhitungkan harga zat warna dari yang termurah sampai yang termahal. Zat warna yang diperhitungkan antara lain zat warna reaktif, indanthreen, indigosol dan naphtol. Efisiensi proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen mencapai 8,76% sampai dengan 41,33% dari perhitungan harga zat warna yang termurah sampai yang termahal untuk zat warna tersebut diatas.Pada proses Batik Radioan digunakan tahapan proses pemutihan yang berdampak menurunnya kekuatan tarik kain. Untuk mengatasi hal ini perlu dikembangkan proses penyempurnaan Batik Radioan yang tidak mengurangi kekuatan tarik tetapi kemurnian warnanya sama, sehingga warna pertama bila ditumpangi warna kedua tidak akan timbul warna tumpangan; warna yang diperoleh tetap warna kedua. Dari hasil penelitian proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen sesuai dengan sifat kimianya, diperoleh efektifitas proses tanpa diperlukan tahap pemutihan karena zat warna reaktif dan indanthreen mengandung gugus yang, bila tereduksi akan pecah dan mengikat ion H dan membentuk gugus amin yang tidak berwama. Selain itu biaya proses dapat ditekan dengan memperhitungkan harga zat warna dari yang termurah sampai yang termahal. Zat warna yang diperhitungkan antara lain zat warna reaktif, indanthreen, indigosol dan naphtol. Efisiensi proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen mencapai 8,76% sampai dengan 41,33% dari perhitungan harga zat warna yang termurah sampai yang termahal untuk zat warna tersebut diatas.
Landasan Psikologi dalam Pembelajaran Seni: Teori Perkembangan Kreativitas Anak Murwati, Sri; Hartono, Hartono; Lestari , Wahyu
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i1.2950

Abstract

Artikel ini menganalisis landasan psikologi yang fundamental dalam pembelajaran seni di sekolah dasar (SD) dengan focus dengan teori perkembangan kreatifitas anak. Penelitian ini menggunakan metode studi Pustaka untuk mensitesis dua kerangka teoretis utama: teori perkembangan artistic oleh Viktor Lowenfeld dan teori kecerdasan majemuk (multiple intelegences) oleh Howard Gardner. Tujuannya Adalah membangun argumen bawa integrasi kedua teori ini menyediakan landasan pedagogis yang komperhensif bagi kurikulum seni di Tingkat dasar. Hasil analisis menunjukkan bahwa Lowenfled memberikan kerangka diagnostik dengan memetakan tahapan perkembangan visual anak (pra-skematik, skematik, awal realisme), yang penting agar guru dapat mendukung ekspresi diri otentik tanpa menghambat proses kreatif alami. Sebaliknya, Gardner memberikan kerangka inklusif yang menegaskan seni (melalui kecerdasan special dan kinestetik) sebagai bentuk kecerdasan yang sah, menurut kurikulum yang kaya media untuk mengakomondasi beragam potensi anak. Sintesis kedua teori ini menyimpulkan bahwa pembelajarn seni yang efektif di SD harus bersifat sensistif perkembangan (Lowenfeld) dan majemuk (Gardner). Landasan psikologi ini mengarahkan guru untuk menjadi fasilitataor yang terinformasi yang tidak hanya menilai produk, tetapi juga memelihara proses kreatif sebagai manifestasi dari pertumbuhan kognitif dan perkembangan kecerdasan anak secara holistik.