Ama Farida Sari
Universitas Slamet Riyadi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemberdayaan Desa Pelopor Pancasila pada Karang Taruna Desa Mlese Kabupaten Klaten Menuju Digital Society Anita Trisiana; Yusuf Yusuf; Ama Farida Sari; Aiyu Nur Rohmah
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 13, No 4 (2022): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v13i4.12680

Abstract

Berbagai bentuk komunikasi sebagai dampak dari kemajuan teknologi telah membawa dampah pengaruh positif di pedesaan, salah satunya memutus birokrasi yang panjang, sehingga lebih efektif jalinan komunikasi antara pemerintah desa dan kabupaten/kota. Fenomena lain, menunjukkan adanya konflik sosio-kultur, seperti masih maraknya kenakalan remaja, kasus penggunaan obat-obatan terlarang, dan berbagai fenomena lainnya yang memunculkan adanya degradasi moral bangsa. Untuk itu, sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk memberdayakan masyarakat untuk menaggulangi permasalahan krisis ketaladanan dapat menggunakan pendekatan yang lebih efektif, salah satunya pendekatan nilai-nilai Pancasila. Karakter akan muncul manakala keteladanan sudah dibiasakan di dalam kehidupan masyarakat kita. Karakter perlu dikembangkan dan dicanangkan, dalam kaitannya dengan menipisnya moralitas. Maka untuk mengatasi persoalan bangsa ini salah satunya adalah memberikan penguatan Gerakan Indonesia Bersatu Dalam Rangka Digital Society. Khalayak sasaran dalam program kemitraan masyarakat ini adalah Masyarakat Non Produktif, yaitu Karang Taruna Desa Mlese di Kabupaten Klaten. Khalayak sasaran tersebut dijadikan sebagai Desa Pelopor Pancasila yang memerlukan pemberdayaan pendidikan dan pelatihan berupa kegiatan Diklat Bina Karakter.  Sedangkan Metode yang dipakai dalam program kemitraan ini adalah CIPP berdasarkan Context (Konteks), Inputs (Input), Process (proses), dan product (produk). Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman karang taruna terhadap nilai-nilai Pancasila, kegiatan diklat ini sebagai salah satu kegiatan yang dapat menopang dan menyaring permasalahan konflik sosio-kultur dalam masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital yang memanfaatkan internet desa, selaras dengan terwujudnya digital society yang dapat diarahkan untuk pengembangan potensi desa secara ekonomi maupun sosial. Sistem sosial yang ada pada masyarakat Mlese perlu terus menerus dilakukan pendampingan, melalui berbagai program kegiatan pengabdian untuk menambah wawasan keterampilan dalam peningkatan ketercapaian program project desa yaitu sebagai desa pelopor Pancasila.
Penguatan Nilai-Nilai Nasionalisme melalui Pendidikan Pancasila sebagai Dampak dari Budaya FoMO (Fear of Missing Out) pada Siswa SMAN Colomadu Mutiatul Atsna; Anita Trisiana; Ama Farida Sari
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 14, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/civicus.v14i1.37942

Abstract

Kemajuan teknologi membuat saling terhubung melalui jaringan global, informasi tersebar luas dengan mudah dan cepat di tengah arus globalisasi mulai dari ilmu pengetahuan, budaya, dan gaya hidup, sehingga akan mudah diakses oleh siapa saja, terutama remaja. Hal ini tentunya membawa dampak positif dan negatif bagi semua kalangan, terutama remaja yang masih labil dalam pemanfaatan teknologi, sehingga perlu diterapkan penguatan nilai-nilai nasionalisme melalui pendidikan Pancasila sebagai benteng bagi remaja agar tidak terbawa arus yang dapat berdampak negatif, baik ketergantungan pada penggunaan teknologi maupun dipengaruhi oleh budaya luar dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi jenis dan dampak budaya FoMO (Fear of Missing Out) yang dialami oleh siswa SMA Colomadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa SMA Colomadu sering mengikuti tren saat ini namun siswa dapat membatasi diri dan tetap menghargai produk lokal, nilai-nilai tersebut dapat terjadi tentunya karena kebiasaan yang selalu ditanamkan dan diperkuat melalui pendidikan Pancasila. Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa Pancasila tidak hanya berperan sebagai ideologi nasional dan alat pemersatu bangsa Indonesia, tetapi juga memiliki potensi untuk dikenalkan sebagai alternatif pandangan dunia yang seimbang. Dengan demikian, perlu adanya Penguatan nilai-nilai Nasionalisme melalui pendidikan Pancasila.Technological advances make interconnected through global networks, information is widely disseminated easily and quickly in the midst of the flow of globalization ranging from science, culture, and lifestyle, so that it will be easily accessible to anyone, especially teenagers. This certainly has a positive and negative impact on all circles, especially teenagers who are still labile in the use of technology, so it is necessary to apply the strengthening of nationalism values through Pancasila education as a fortress for teenagers so that they are not carried away by currents that can have a negative impact, both dependence on the use of technology and being influenced by outside culture in daily life. This study aims to find out and identify the types and impacts of FoMO (Fear of Missing Out) culture experienced by Colomadu High School students. The results of the study show that Colomadu High School students often follow current trends but students can limit themselves and still appreciate local products, these values can occur, of course, because of habits that are always instilled and strengthened through Pancasila education. The conclusion of this study emphasizes that Pancasila not only plays a role as a national ideology and a unifying tool of the Indonesian nation, but also has the potential to be introduced as an alternative to a balanced worldview. Thus, it is necessary to strengthen the values of Nationalism through Pancasila education