Nuraini Wahyuning Prasodjo
Department Of Communication And Community Development Science, IPB University, Bogor 16680, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Resiliensi Pangan Rumah Tangga pada Masa Pandemi Covid-19 (Kasus: Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi) Miranti Nur Afifah; Nuraini Wahyuning Prasodjo
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 7 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v7i1.1051

Abstract

Secara umum dilaporkan bahwa situasi pandemi Covid-19 berdampak pada kondisi pangan rumah tangga, terutama dalam hal akses dan ketersediaannya. Penelitian ini bertujuan menyelidiki bagaimana pandemi covid-19 memengaruhi resiliensi pangan rumah tangga, khususnya pada komunitas adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan pengamatan rumah tangga. Enam puluh rumah tangga contoh di Kampung Adat Cirendeu yang diamati, dipilih dengan cara cluster random sampling. Sedangkan informan penelitian ini ditentukan secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski dalam situasi pandemi covid, rumah tangga pada komunitas adat sangat tangguh (resilien). Resiliensi rumah tangga ini ditandai dengan tersedianya cadangan pangan dalam jumlah yang besar pada masing - masing rumah tangga. Cadangan pangan tersebut merupakan hasil panen dari lahan - lahan pertanian di dalam wilayah kampung adat. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah penularan virus covid, tidak memengaruhi kekuatan sumber daya dan kapasitas adaptif rumah tangga dalam mengakses dan menyediakan pangan pokok (rasi).
Kemiskinan Budaya pada Penduduk Berpendapatan Rendah (Kasus pada Komunitas Taru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat): Cultural Poverty in Low Income Community (Case in Taru Community, North Bogor District, Bogor City, West Java Province) Zahrah , Anisa Rizkia; Nuraini Wahyuning Prasodjo
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 7 No. 2 (2023): Juli
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v7i2.1235

Abstract

Kemiskinan masih menjadi persoalan klasik dan semakin kompleks. Terminologi kemiskinan tidak hanya menyangkut dimensi ekonomi (material), namun juga dimensi budaya. Kemiskinan budaya yang dimaksud, berkenaan dengan gagasan, sikap dan praktik-praktik yang dinilai negatif serta secara tidak langsung menjerumuskannya pada kemiskinan ekonomi. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan bagaimana profil kemiskinan budaya pada satu komunitas berpendapatan rendah di kota Bogor. Kemiskinan budaya yang dimaksud di sini adalah pola nilai, keyakinan, sikap dan praktik khas yang berkembang di kalangan para individu dalam mengadaptasi dan mereaksi posisi marjinal mereka. Pola-pola perilaku ini seringkali tersosialisasi dari generasi ke generasi sehingga melanggengkan posisi marjinal mereka dalam lingkungan komunitasnya. Sikap dan praktik yang diamati berkenaan dengan 4 tema yaitu hakikat hidup, kerja, waktu, dan pemanfaatan sumberdaya. Pendekatan penelitian yang dipilih untuk menyelidiki gejala kemiskinan budaya ini adalah pendekatan kuantitatif (survei) dengan didukung data kualitatif. Responden penelitian adalah seluruh penduduk berpendapatan rendah (26 responden) pada Komunitas Taru, Kota Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk berpendapatan rendah cenderung bersikap moderat dalam memandang hidup, bekerja untuk orientasi kedudukan, dan cenderung hanya berorientasi ke masa kini. Sementara, tidak nampak budaya buruk dalam memanfaatkan sumberdaya. Mereka umumnya menunjukkan sikap hemat dan merawat sumberdaya.
Islamic Populism in Rural Indonesia: An Agrarian Change Approach Syaifullah, Khalid; Wahyuning Prasodjo, Nuraini; Sunito, Satyawan
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 10 No. 2 (2022): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/10202241093

Abstract

A massive demonstration in Jakarta called “Aksi Bela Islam” (Action to Defend Islam) marks a continuity of the Islamist currents in post-New Order Indonesia. Many observers called it “Islamic populism”, a populist, cross-class alliance on behalf of the Islamic masses or “ummah” against capitalist development that has marginalized Muslims in the struggle for access to economic and political resources. However, despite this refreshing approach, many studies on Islamic populism still concentrate on the state (instead of capital) and the urban areas in explaining the development of Islamic populism. This article, therefore, offers a different approach to analyzing Islamic populism through the understanding of capitalism as a social relation and shifts to the countryside as its empirical basis by focusing on the case study of Bulak village in West Java. By combining insights from the literature on agrarian change and populism as a political strategy and adopting qualitative methods namely in-depth interviews (including oral history) and field observation, this article found that contemporary Islamic populism in Indonesia is a result of the specific development of capitalist relations in the context of rural agrarian change. In addition, it also found that Islamic populism is not a phenomenon confined to the urban areas, since it also spreads to the countryside. Moreover, Islamic populism in the countryside has distinctiveness, related to context, social background, and the ways it is mobilized.