Yuli Rosianty
Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP SISTEM PERTANIAN SONOR DI DESA SECONDONG KECAMATAN PAMPANGAN KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR PROVINSI SUMATERA SELATAN Yuli Rosianty; Delfy Lensari; Riko Riko
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 2 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i2.59163

Abstract

The Sonor farming system is an agricultural system that clears land by burning, which is a tradision arried out by the people of Secondong Village. The Sonor system is one of the couses of land fires in South Sumatra. This study aims to analyze community community knowledge of sonor farming systems, analyze the factors that influence people's knowledge of sonor farming and community attitudes that can be done to prevent sonor farming. The research was conducted in Secondong Village, Pampangan District, OKI Regency, South Sumatra Province in August 2019. Using a survey method with descriptive qualitative data analysis and a Likert Scale test. The results showed that 77% of the people of Secondong Village carried out land burning, the people of Scondong Village had quite high knowledge about sonor farming systems which were considered an effective and efficient and cost-effective method. There are two factors that affect the public's interest in burning land, namely the lack of public understanding of the impacts of land burning (75%) and habits that have been passed down from generation to generation (73%), the absence of counseling so that there is no land clearing in other ways. Communities have good potential to prevent sonor farming systems (82%) if supported by extension activities and environmentally friendly technologies for clearing agricultural land.
PUBLIC KNOWLEDGE ABOUT THE IMPLEMENTATION OF GREEN ECONOMY STRATEGIES (Case Study in Ogan Komering Ilir Regency, South Sumatra Province) Heripan Heripan; Yuli Rosianty; Ferlly Adiwijaya
Sylva Jurnal Ilmu-ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sylva.v14i1.10247

Abstract

Ekonomi hijau (green economy) merupakan suatu model pendekatan pembangunan ekonomi yang tidak lagi mengandalkan pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan yang berlebihan. Ekonomi hijau dapat berarti lompatan besar meninggalkan praktik-praktik yang mementingkan keuntungan jangkah pendek yang telah mewariskan berbagai permasalahan mendesak untuk di tangani termasuk menggerakan perekonomian yang rendah karbon (Pearce et al, 1992). ¹Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang strategi ekonomi hijau di Kelurahan Kedaton dan Kelurahan Kuta Raya Kecamatan Kayu Agung. ²Untuk menganalisis penerapan konsep ekonomi hijau dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut di Kelurahan Kedaton dan Kelurahan Kuta Raya Kecamatan Kayu Agung. ³Untuk menganalisis konsep ekonomi hijau yang akan dilakukan dimasa mendatang. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kedaton dan Kelurahan Kutaraya Kecamatan Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera selatan, yang akan dilaksanakan pada bulan April - Juni 2024. metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan sampel yaitu masyarakat yang terkena dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Teknik pengambilan sampel dengan meode purposive sampling dengan kriteria responden adalah kepala keluarga baik bapak atau ibu atau orang yang sudah mencapai dewasa (usia >20 tahun). . Hasil penelitian menunjukan bahwa Masyarakat Kelurahan Kedaton dan Kelurah Kutaraya 77% belum mengetahui penerapan ekonomi hijau dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut, dikarenakan sebagian besar masyarakat masih membuka lahan dengan cara membakar. Menurut masyarakat setempat membuka lahan dengan cara masih efisien jika lahannya