Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Family Support and Diabetic Distress in Diabetes Mellitus Type-2 Patients Anita, Diyah Candra; Ilyas, Aura Risky Putri; Wantonoro, Wantonoro
Health Gate Vol 3, No 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70111/hg3205

Abstract

Diabetes distress can significantly impact a person's mental health and motivation to manage the disease. Family support can reduce diabetes distress by providing comfort and understanding. This study aims to determine the relationship between family support and diabetes distress in type-2 diabetes mellitus patients at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital, Indonesia.This study adopted a descriptive correlational design with a cross-sectional design. Samples were taken by accidental sampling technique from the population of outpatients at the PKU Muhammadiyah Gamping Hospital Polyclinic, with 107 respondents. The research instrument used was a family support questionnaire and the Diabetes Distress Scale-17. Data analysis was performed using Kendall's Tau correlation test. The results showed that most respondents had good family support (88.8%) and no distress (58.9%). Kendall's Tau correlation test showed a significant relationship between family support and diabetes distress with a P value = 0.014 and a correlation coefficient = 0.229. There is a significant correlation between family support and diabetes distress in patients with type-2 diabetes mellitus at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. Good family support can reduce diabetes distress in patients.
Depresi pada Pasien Hemodialisa Perempuan Lebih Tinggi Anita, Diyah Candra; Husada, Ilham Setya
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagal ginjal kronis memerlukan pengobatan hemodialisa dalam jangka waktu yang lama. Hal tersebut dapat menimbulkan depresi yang ditandai dengan perubahan perilaku seperti penolakan, marah, perasaan takut, rasa tidak berdaya, putus asa, cemas bahkan bunuh diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran depresi pada pasien hemodialisa berdasarkan jenis kelamin. Metode penelitian yang digunakan descriptive comparation dan correlation dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada pasien hemodialisa di RSUD Wates Kulon Progo. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Sampel pada penelitian ini berjumlah 64 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Beck’s Depression Inventory (BDI). Uji analisis menggunakan uji mann whitney dan coefficient contingency. Hasil penelitian menunjukkan pasien hemodialisa mayoritas berusia 45-54 tahun (32,8%), berjenis kelamin laki-laki (57,8%), berpendidikan SD&SMP (51,6%), berstatus sudah menikah (90,6%), tidak bekerja (28,1%), serta tidak mengalami depresi (45,3%). Terdapat perbedaan bermakna antara depresi pada laki-laki dan perempuan (p=0,013), namun tidak ada hubungan antara tingkat depresi dengan jenis kelamin (0,080). Kehilangan minat seksual (1,1875) dan perubahan dalam pola tidur (1,1406) adalah hal yang sering dikeluhkan. Saran untuk perawat adalah lebih memperhatikan emosional pada pasien hemodialisa perempuan supaya bisa mereduksi depresi yang dialaminya.
Faktor Yang Berkontribusi Pada Kejadian Pneumonia Nosokomial Anita, Diyah Candra; Kardi, K
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kesehatan dan MIPA
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia nosocomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) merupakan infeksi pada parenkim paru yang disebabkan pathogen di rumah sakit. Terdapat banyak factor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia nosokomial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis factor yang berkontribusi terhadap kejadian pneumonia noskomial. Metode penelitian adalah kuantitatif analisis dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di sebuah ruang rawat inap RSUP di Yogyakarta selama 1 bulan dengan 40 partisipan. Instrumen pengambilan data menggunakan lembar checklist, rekam medik, dan wawancara kepada dokter penanggung jawab pasien. Analisis data menggunakan regresi logistic. Diperoleh hasil bahwa seluruh factor secara bersama-sama berkontribusi pada kejadian infeksi nosocomial sebesar 49.90%. Faktor lama rawat inap dan terapi pemberian antibiotic berhubungan bermakna dengan kejadian pneumonia nosocomial (p<0.05). Diharapkan pada penelitian selanjutnya bisa menganalisis lebih mendalam pada biokimiawi darah dan pelaksanaan perioperative pada pasien yang menderita pneumonia nosokomial.
Aktivitas fisik sebagai bagian pengelolaan glukosa darah pada lansia Dea Restu Ahmad Fadzilla; Lutfi Nurdian Asnindari; Diyah Candra Anita
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2221

Abstract

Background: Population ageing is accompanied by growing burden of non-communicable diseases, including impaired glucose regulation among older adults. Physical activity may improve insulin sensitivity and skeletal muscle glucose uptake, yet community-based evidence remains limited in some settings. Purpose: To association between physical activity and fasting blood glucose among older adults in a community setting. Method: A quantitative cross-sectional study was conducted among 46 older adults attending an elderly community health post in Plembon Kidul, Gunung Kidul, selected using simple random sampling. Physical activity was assessed with the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and classified into low, moderate, and high categories according to WHO criteria. Fasting blood glucose was measured using an Easy Touch device. The association was tested using Spearman’s rank correlation. Results: Most participants reported moderate physical activity (47.8%) and had normal fasting blood glucose (53.0%). Spearman’s correlation analysis showed a significant association between physical activity and fasting blood glucose (p=0.003; r= -0.429), indicating a moderate negative correlation. Conclusion: Higher physical activity was associated with lower fasting blood glucose in older adults. These findings support strengthening community-based, non-pharmacological approaches-particularly physical activity promotion within elderly health posts-to help maintain glucose control in later life.   Keywords: Fasting Blood Glucose; Older Adults; Physical Activity Level; Primary Health Care.   Pendahuluan: Peningkatan usia harapan hidup diikuti bertambahnya beban penyakit tidak menular pada lansia, termasuk gangguan regulasi glukosa. Aktivitas fisik berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan pemanfaatan glukosa oleh otot, namun bukti pada tingkat komunitas masih perlu diperkaya. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada lansia di komunitas Gunung Kidul. Metode: Studi kuantitatif dengan desain potong lintang dilakukan pada 46 lansia di Posyandu Lansia Dusun Plembon Kidul, Gunung Kidul, yang dipilih dengan simpel random sampling. Aktivitas fisik diukur menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dan diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi sesuai kriteria WHO. Kadar gula darah puasa diukur menggunakan glukometer Easy Touch. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Mayoritas responden memiliki aktivitas fisik sedang (47.8%) dan kadar gula darah puasa normal (53.0%). Uji Spearman menunjukkan hubungan negatif bermakna antara aktivitas fisik dan kadar gula darah puasa (p=0.003; r= -0.429), dengan kekuatan korelasi sedang. Simpulan: Aktivitas yang lebih tinggi berasosiasi dengan kadar gula darah puasa yang lebih rendah pada lansia. Temuan ini mendukung penguatan program promotif-preventif berbasis aktivitas fisik di layanan komunitas, khususnya posyandu lansia, sebagai strategi non-farmakologis untuk membantu menjaga kontrol glukosa.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Kadar Gula Darah Puasa; Lansia; Pelayanan Kesehatan Primer.
General Self-Efficacy and Self-Directed Learning Readiness among Nursing Internship Students: A Cross-Sectional Study Sudyasih, Tiwi; Candra Anita, Diyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol. 15 No. 1 (2026): January - June
Publisher : LPPM Politeknik Sandi Karsa, South Sulawesi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiksh.v15i1.224

Abstract

Introduction: Self-directed learning readiness (SDLR) is a core competency in nursing education, particularly during internship programs that require autonomy, accountability, and clinical adaptability. General Self-Efficacy (GSE) has been theoretically associated with motivation, persistence, and self-regulation, which are central to self-directed learning. However, empirical evidence regarding the relationship between GSE and SDLR in structured internship contexts remains inconclusive. This study aimed to examine the association between GSE and SDLR among nursing students undertaking internship projects. Research Methodology: A cross-sectional analytic study was conducted involving 295 nursing internship students at Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Indonesia, selected through total sampling. Data were collected using validated General Self-Efficacy (GSE) and Self-Directed Learning Readiness (SDLR) scales. Descriptive statistics were used to summarize respondent characteristics. Bivariate analysis was performed using the chi-square test, and odds ratios (OR) with 95% confidence intervals (CI) were calculated. Multivariate logistic regression analysis was conducted to control for sex. Statistical significance was set at p < 0.05. Results: Most respondents demonstrated high GSE (69.8%) and high SDLR (86.4%). Students with high GSE were more likely to report high SDLR compared to those with moderate GSE (OR = 1.468; 95% CI: 0.732–2.940; p = 0.277). After adjustment for sex, the association remained non-significant (AOR = 1.420; 95% CI: 0.701–2.875; p = 0.320). Although a positive directional trend was observed, the effect size was weak and did not reach statistical significance. Conclusion: General self-efficacy was not an independent predictor of self-directed learning readiness in this internship context. These findings suggest that a combination of individual psychological factors and structured educational support influences SDLR. Nursing education programs should integrate mentorship, scaffolded autonomy, and training in problem-solving and self-management to strengthen students’ readiness for professional practice.